Apakah Buruh Akan Menjadi Kapitalis Baru? Meluruskan Salah Paham Teori Kelas Marx

- Jurnalis

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspi, Akar Rumput

TRISAKTINEWS.COM – Ada satu kritik terhadap Marx yang hampir selalu muncul setiap kali pembicaraan membahas Kelas.

“Kalau buruh merebut alat produksi, bukankah mereka akhirnya hanya menjadi kapitalis baru?”

Pertanyaannya terdengar masuk akal. Bahkan tampak logis. Jika sebelumnya pabrik atau kekuasaan (negara) dimiliki oleh seorang atau sekelompok kapitalis, lalu setelah revolusi pabrik/negara itu dimiliki oleh buruh, bukankah hanya terjadi pergantian pemilik? Yang berubah hanya siapa yang berada di atas, sementara struktur masyarakat tetap sama.

Masalahnya, pertanyaan itu dibangun di atas asumsi yang sejak awal tidak pernah dianut oleh Marx. Asumsi tersebut adalah bahwa kelas adalah sekumpulan orang yang memiliki kekayaan atau kekuasaan. Padahal, bagi Marx, kelas bukanlah kumpulan orang. Kelas adalah hubungan sosial.

Inilah salah satu kesalahpahaman paling mendasar terhadap teori kelas Marx. Selama ini kita terbiasa memahami masyarakat melalui istilah kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Orang disebut kelas atas karena penghasilannya tinggi, rumahnya besar, mobilnya mewah, atau pendidikannya tinggi. Sebaliknya, seseorang disebut kelas bawah karena pendapatannya rendah atau pekerjaannya dianggap kurang bergengsi. Cara berpikir seperti ini begitu umum sehingga kita menganggapnya sebagai sesuatu yang alamiah.

Namun justru di sinilah Marx mengambil jalan yang sama sekali berbeda. Pemikiran Marx tidak dimulai dengan pertanyaan, siapa yang kaya? Ia bertanya, mengapa ada orang yang hidup dari kepemilikan, sementara orang lain hidup dengan menjual tenaga kerjanya?

Marx tidak sedang membuat klasifikasi sosial seperti seorang demografer yang membagi masyarakat ke dalam beberapa lapisan berdasarkan pendapatan. Ia sedang mencari hubungan dasar yang menggerakkan seluruh sistem kapitalisme. Karena itu, teori kelas Marx bukanlah teori tentang distribusi kekayaan. Ia adalah teori tentang bagaimana produksi diorganisasikan.

Teori kelas Marx sering disalahpahami karena dibaca menggunakan kerangka teori stratifikasi sosial. Padahal Marx tidak bermaksud menggambarkan lapisan-lapisan masyarakat, melainkan menjelaskan hubungan produksi yang menjadi sumber perubahan historis dalam kapitalisme.

Untuk memahami perbedaan ini, bayangkan sebuah pabrik. Di dalamnya terdapat mesin, bahan baku, gedung, dan ratusan pekerja. Pekerja menghasilkan barang-barang yang kemudian dijual di pasar. Dari penjualan itu muncul keuntungan. Pertanyaan Marx bukanlah siapa yang paling rajin bekerja atau siapa yang paling kaya. Pertanyaannya adalah siapa yang mengendalikan proses produksi, dan siapa yang berhak atas nilai surplus1 (nilai lebih dari sebuah komoditas) yang dihasilkan?

Selama alat produksi2 dimiliki secara privat dan pekerja harus menjual tenaga kerjanya agar dapat hidup, hubungan sosial tertentu muncul. Sebagian orang memperoleh penghasilannya dari kepemilikan modal, sementara sebagian lain memperoleh penghasilannya dari menjual tenaga kerja (bekerja). Hubungan inilah yang disebut Marx sebagai hubungan kelas. Artinya, kapitalis bukanlah seseorang yang kebetulan kaya. Kapitalis adalah orang yang menjalankan fungsi tertentu dalam hubungan produksi kapitalis. Sebaliknya, proletar bukan sekadar orang miskin. Ia adalah orang yang harus menjual tenaga kerjanya karena tidak memiliki alat produksi.

Kesalahan kritik yang mengatakan bahwa setelah revolusi buruh hanya menjadi kapitalis baru dimulai dari sini. Kritik itu menganggap kapitalis sebagai identitas seseorang. Padahal bagi Marx, kapitalis bukan identitas, melainkan fungsi sosial. Seseorang menjadi kapitalis bukan karena ia memakai jas mahal atau memiliki rekening miliaran rupiah. Ia menjadi kapitalis karena modal yang dimilikinya digunakan untuk membeli tenaga kerja, menghasilkan surplus nilai, lalu mengakumulasikan modal itu kembali.

Dengan kata lain, kapitalis adalah personifikasi dari kapital itu sendiri. Karena itu Marx bahkan mengatakan bahwa kapitalis pun tunduk pada logika kapital. Ia tidak bebas bertindak sesuka hati. Ia harus terus mengakumulasi modal, meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan bersaing dengan kapitalis lain. Jika tidak, ia akan tersingkir dari pasar. Hubungan sosial inilah yang menjadi inti kapitalisme, bukan sifat moral individu-individu yang berada di dalamnya.

Kalau demikian, apa sebenarnya yang dimaksud Marx ketika berbicara tentang perebutan alat produksi? Banyak orang membayangkannya seperti ini;

Kemarin pabrik dimiliki Pak A. Hari ini pabrik dimiliki buruh, selesai.

Tetapi Marx tidak pernah membayangkan perubahan sesederhana itu. Yang ingin diubah bukanlah siapa yang memiliki pabrik. Yang ingin diubahnya adalah cara kepemilikan itu sendiri bekerja. Selama alat produksi tetap berfungsi sebagai modal yang digunakan untuk membeli tenaga kerja demi memperoleh keuntungan, maka hubungan kelas tetap ada, siapa pun pemiliknya.

Baca Juga :  Kemunafikan Ekologis: Menjual Narasi Hijau di Hilir, Menandatangani Konsesi Tambang di Hulu

Sebaliknya, jika alat produksi tidak lagi menjadi modal privat, melainkan menjadi sarana produksi sosial yang dikelola secara kolektif oleh para produsen itu sendiri, maka hubungan kapital dengan kerja upahan mulai kehilangan dasar keberadaannya. Yang dihapus bukan orang kaya, tetapi hubungan sosial yang memungkinkan sebagian orang hidup dari kerja orang lain.

Di sinilah kita mulai memahami mengapa Marx selalu berbicara tentang penghapusan hubungan produksi kapitalis, bukan sekadar nasionalisasi atau pergantian elite. Bayangkan sebuah perusahaan milik negara. Kalau pekerja tetap tidak memiliki kendali terhadap proses produksi, tetap menerima upah, sementara surplus tetap diputuskan oleh birokrasi yang terpisah dari mereka, apakah hubungan kelas benar-benar telah hilang?

Pertanyaan inilah yang kemudian memicu perdebatan panjang di kalangan Marxis mengenai pengalaman Uni Soviet, Eropa Timur, maupun berbagai negara sosialis abad ke-20. Menariknya, perdebatan tersebut justru menunjukkan bahwa para Marxis sendiri tidak pernah menganggap pergantian pemilik otomatis berarti hilangnya kelas.

Yang dipersoalkan selalu sama, apakah hubungan produksi telah berubah, atau hanya aktor yang mengelolanya? Kesalahpahaman terhadap Marx sering muncul karena kita terbiasa memandang masyarakat dari permukaannya. Kita melihat siapa yang kaya, siapa yang miskin, siapa yang berkuasa, lalu menyebut itulah kelas.

Marx justru meminta kita melihat lebih dalam. Ia mengajak kita bertanya mengapa ada orang yang harus menjual tenaga kerjanya agar dapat hidup, sementara ada orang lain yang hidup dari kepemilikan atas alat produksi. Bagi Marx, selama hubungan itu masih ada, kelas masih ada. Sebaliknya, masyarakat tanpa kelas bukanlah masyarakat di mana semua orang memiliki pendapatan yang sama, bukan pula masyarakat tanpa perbedaan kemampuan atau pembagian kerja. Masyarakat tanpa kelas adalah masyarakat di mana tidak ada lagi kelompok yang secara sistematis hidup dari penguasaan atas kerja kelompok lain.

Karena itu, kritik bahwa “buruh hanya akan menjadi kapitalis baru” sebenarnya tidak mengenai sasaran. Kritik tersebut hanya berlaku jika revolusi dipahami sebagai pergantian elite, sementara hubungan produksi tetap dipertahankan (dalam hal ini kapitalisme).

Tetapi itulah justru sesuatu yang sejak awal ingin diatasi oleh Marx. Marx tidak pernah membayangkan sosialisme sebagai dunia di mana kapitalis lama diganti oleh kapitalis baru. Ia membayangkannya sebagai perubahan yang jauh lebih radikal, yaitu penghapusan hubungan sosial yang membuat kapital dan kerja berdiri sebagai dua kekuatan yang saling berhadapan.

Dengan kata lain, tujuan masyarakat tanpa kelas bukanlah mengubah siapa yang menguasai masyarakat. Tujuannya adalah menghapus kondisi yang membuat satu kelas harus ada untuk menguasai kelas yang lain.

  1. Nilai (value) muncul dari kerja manusia yang mengubah bahan mentah menjadi sesuatu yang berguna (use value) dan bisa dipertukarkan (exchange value). Proses ini disebut proses kerja (work process), dan dijalankan dalam sebuah modus produksi, yaitu cara suatu masyarakat mengatur produksi berdasarkan siapa yang menguasai alat, bahan, dan tenaga kerja. Alat produksi (means of production) adalah segala alat, bahan, dan infrastruktur yang dipakai untuk menciptakan nilai, mulai dari tanah, bangunan, mesin, hingga perangkat lunak, kurikulum pendidikan, atau izin resmi yang memungkinkan proses produksi berlangsung. Material (raw material) adalah bahan mentah atau medium yang diolah menjadi komoditas, sementara medium dapat berupa benda fisik, gagasan, maupun sistem yang menjadi wadah bagi aktivitas kreatif manusia. Labour (kerja) adalah tenaga, kemampuan, dan waktu yang dikeluarkan manusia dalam proses produksi, sedangkan proses kerja (work process) adalah rangkaian aktivitas konkret yang mengubah material menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna. Dalam kapitalisme, tenaga kerja hidup (living labour)—yakni manusia yang bekerja saat ini—mengoperasikan sarana produksi untuk menciptakan nilai baru. Sebaliknya, kerja mati (dead labour) adalah hasil kerja manusia di masa lalu yang telah membeku menjadi mesin, bangunan, jalan, perangkat lunak, atau sistem organisasi. Semua itu tidak dapat menciptakan nilai baru dengan sendirinya; ia hanya dapat “hidup” kembali ketika diaktifkan oleh kerja manusia saat ini. Nilai yang dihasilkan kemudian memperoleh bentuk nilai tukar (exchange value) ketika komoditas memasuki pasar (market), yaitu ruang tempat barang dan jasa dipertukarkan sehingga nilainya diwujudkan dalam bentuk harga dan uang. Dalam kapitalisme, pasar menentukan harga komoditas, termasuk harga tenaga kerja, meskipun harga tersebut sering kali tidak mencerminkan seluruh nilai yang diciptakan oleh pekerja. Di sinilah muncul konsep nilai lebih (surplus value), yang merupakan inti kritik Marx terhadap kapitalisme. Ketika seorang pekerja menjual tenaga kerjanya (labour power) kepada kapitalis, ia menerima upah yang secara umum cukup untuk mempertahankan hidupnya dan kembali bekerja keesokan harinya. Namun selama jam kerja berlangsung, pekerja menghasilkan nilai yang lebih besar daripada nilai upah yang diterimanya. Misalnya, seorang pekerja dibayar Rp200.000 untuk bekerja delapan jam. Dalam empat jam pertama, ia mungkin telah menghasilkan nilai yang setara dengan upahnya. Tetapi ia tetap bekerja empat jam berikutnya, dan nilai yang dihasilkan pada jam-jam itu tidak dibayarkan kepadanya. Selisih antara nilai baru yang diciptakan oleh pekerja dengan nilai yang dibayarkan dalam bentuk upah itulah yang disebut surplus value (nilai lebih). Nilai lebih ini kemudian menjadi sumber keuntungan (profit), bunga, dividen, dan akumulasi modal. Dengan kata lain, menurut Marx, kapital tidak menciptakan nilai baru; mesin juga tidak menciptakan nilai baru. Nilai baru hanya diciptakan oleh living labour, sementara kapital memperoleh keuntungan karena dapat menguasai sebagian dari nilai yang diciptakan oleh kerja tersebut melalui hubungan kerja upahan. Karena itu, eksploitasi dalam pengertian Marx bukan terutama berarti pekerja dibayar “terlalu murah” atau ditipu dalam transaksi. Eksploitasi terjadi karena hubungan produksi memungkinkan pemilik sarana produksi menguasai surplus value yang diciptakan oleh pekerja. Selama tenaga kerja diperlakukan sebagai komoditas yang dijual di pasar, dan selama hasil kerja melebihi nilai upah yang dibayarkan, proses produksi kapitalis akan terus menghasilkan akumulasi modal melalui pengambilan nilai lebih tersebut. Inilah sebabnya surplus value menjadi konsep sentral dalam teori Marx: ia menjelaskan dari mana keuntungan kapital berasal, sekaligus mengapa hubungan antara kapital dan kerja selalu mengandung kontradiksi.
  2. Untuk menjelaskan konsepsi ini kita bisa memulai dengan contoh berikut: Seorang dokter mungkin punya skill. Tapi apakah skill saja cukup supaya ia bisa bekerja secara mandiri? Tidak. Ia butuh sertifikasi, izin praktik, akses spesialisasi, rumah sakit, jaringan institusi, dan aturan yang menentukan siapa boleh bekerja dan siapa tidak. Dengan demikian, “alat produksi” di setiap sektor berbeda-beda. Di dunia kedokteran, alat produksinya bukan cuma alat medis, tetapi juga sistem sertifikasi dan otoritas yang mengatur profesi. Jadi, seorang dokter sebenarnya bisa saja sangat pintar, tetapi tetap tidak punya kuasa penuh atas pekerjaannya sendiri. Ia tetap bergantung pada rumah sakit, regulator, perusahaan farmasi, atau institusi lain yang mengontrol syarat-syarat produksi layanan kesehatan. Pekerja masih bekerja, masih menghasilkan nilai, tetapi kontrol atas syarat kerja itu berada di tangan pihak lain. Hal yang sama bisa kita jelaskan lewat konsultan. Meskipun ia punya pengalaman panjang, gelar, dan sertifikasi, itu tidak otomatis membuatnya otonom. Ia tetap bergantung pada perusahaan konsultansi besar dan struktur industri yang menentukan tarif, proyek, dan aturan kerja. Dengan kata lain, dalam kapitalisme modern, pemisahan itu tidak selalu terlihat seperti “buruh pabrik miskin yang tidak punya mesin.” Kadang justru terjadi pada pekerja kreatif, pekerja pengetahuan, dokter, konsultan, bahkan pekerja digital. Mereka punya kemampuan, tetapi tidak menguasai sistem yang membuat kemampuan itu bisa digunakan secara bebas.
Baca Juga :  Menghukum Kebenaran: Ironi Cerdas Cermat di Bawah "Pilar" yang Rapuh

Karena itu, “alat produksi” tidak boleh dipahami terlalu sempit sebagai mesin atau tanah saja. Alat produksi dijelaskan bisa berupa sertifikasi, akses institusi, jaringan distribusi, modal finansial, pengetahuan teknis, platform digital, sampai kekuasaan menentukan aturan kerja. Ia bekerja, tetapi cara kerja, hasil kerja, distribusi keuntungan, bahkan akses untuk bekerja, ditentukan oleh pihak lain.

Makanya, agenda politik kelas pekerja disebut bukan sekadar naik gaji atau hidup cukup,melainkan “merebut sarana produksi.”

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Menyerah dengan Lebih Estetik
Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital
Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?
Romantisasi Buku di Media Sosial: Mahasiswa Membeli untuk Membaca atau Sekedar Konten?
Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?
Generasi Muda Ambil Peran dalam Pelestarian Songkok Recca
Pelajar dan Masyarakat Gunakan Akses Sementara Selama Pembangunan Jembatan Baru di Desa Lemoape Kecamatan Palakka
Ketika Buku Jadi Barang Mewah: Krisis Literasi Indonesia yang Terabaikan
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:23 WITA

Apakah Buruh Akan Menjadi Kapitalis Baru? Meluruskan Salah Paham Teori Kelas Marx

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:10 WITA

Menyerah dengan Lebih Estetik

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:26 WITA

Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:21 WITA

Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:16 WITA

Romantisasi Buku di Media Sosial: Mahasiswa Membeli untuk Membaca atau Sekedar Konten?

Berita Terbaru

Opini

Menyerah dengan Lebih Estetik

Sabtu, 4 Jul 2026 - 09:10 WITA