Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?

- Jurnalis

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:13 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Naila Paulina, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone, program studi Pendidikan Bahasa Indonesia semester empat.

TRISAKTINEWS.COM – Di ruang arsip Museum La Galigo, Makassar, berlembar-lembar naskah kuno tersimpan dalam kotak kaca. Di atasnya, goresan-goresan garis lurus saling menyambung membentuk baris-baris teks: Lontara, aksara asli suku Bugis-Makassar yang diperkirakan sudah berusia lebih dari seribu tahun.

Aksara ini bukan sekadar simbol. Tapi merupakan sistem pencatatan yang merekam epos I La Galigo, salah satu karya sastra terpanjang di dunia yang telah diakui UNESCO. Catatan silsilah kerajaan, perjanjian dagang antarbangsa, hingga ilmu pelayaran para pelaut Bugis yang menaklukkan samudra. Namun hari ini, pertanyaan yang sama terus bergema: siapa yang masih bisa membacanya?

Data balai bahasa Sulawesi Selatan menunjukkan jumlah masyarakat yang mampu membaca dan menulis aksara Lontara secara aktif terus mengalami penyusutan dari generasi ke generasi. Sebagian besar yang menguasainya adalah kalangan berusia di atas 50 tahun, para guru sekolah lama, peneliti filologi, atau keturunan bangsawan yang menjadikan Lontara sebagai warisan keluarga.

Di tingkat sekolah dasar dan menengah, Lontara memang masuk dalam muatan lokal kurikulum Sulawesi Selatan. Namun, implementasinya kerap berjalan setengah hati: kurangnya buku ajar yang menarik, minimnya guru terlatih, dan jam pelajaran yang singkat membuat siswa hanya mengenal Lontara sebatas hafalan bentuk huruf, tanpa benar-benar memahami nilainya.

Baca Juga :  Polsek Tellu Siattinge Gerebek Arena Sabung Ayam di Dusun Tanete, Pelaku Kabur Tinggalkan Lokasi

Tantangan pelestarian Lontara bukan hanya soal kurikulum. Di era media sosial dan globalisasi, generasi muda lebih terpapar konten berbahasa asing ketimbang bahasa daerahnya sendiri. Aksara Latin mengambil alih hampir seluruh ruang komunikasi sehari-hari.

Yang lebih mengkhawatirkan, ribuan naskah Lontara yang tersebar di tangan keluarga-keluarga bangsawan dan lembaga adat belum sepenuhnya terdigitalisasi. Naskah-naskah yang rentan rusak dimakan usia, rayap, dan kelembapan. Para peneliti memperkirakan ada ratusan naskah yang belum pernah diterjemahkan, isinya bisa saja merupakan pengetahuan lokal yang tidak ternilai yang sedang menunggu untuk musnah.

Di tengah kekhawatiran itu, sejumlah inisiatif muncul dari komunitas-komunitas anak muda Makassar, Bone, dan Sengkang yang mulai menghidupkan kelas Lontara informal, baik secara tatap muka maupun melalui kanal YouTube dan Instagram. Beberapa desain grafis lokal bahkan membuat font digital Lontara dan mempromosikannya sebagai pilihan topografi untuk merek-merek lokal yang ingin menonjolkan identitas Bugis-Makassar. Unicode Consortium juga telah lama mengakui aksara Lontara dengan kode blok tersendiri, artinya Lontara sudah bisa diketik di perangkat digital yang mendukungnya.

Baca Juga :  Satresnarkoba Polres Luwu Utara Ringkus Petani di Malangke Barat, Amankan 25 Sachet Sabu

Pemerintah Sulawesi Selatan pun sudah memperlihatkan komitmen lebih serius. Revitalisasi aksara Lontara masuk dalam sejumlah program kebudayaan daerah, termasuk rencana pembuatan ensiklopedia digital naskah-naskah kuno Sulawesi Selatan yang ditargetkan dapat diakses publik secara daring.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Lontara punya potensi untuk hidup kembali, asalkan dikemas dengan cara yang relevan bagi generasi digital.

Lontara hari ini berada di persimpangan. Di satu sisi, ancaman kepunahan fungsinya sebagai sistem komunikasi sehari-hari semakin nyata. Di sisi lain, geliat komunitas, inovasi digital, dan tumbuhnya kesadaran identitas di kalangan anak muda memberikan harapan bahwa aksara ini belum akan menjadi fosil sejarah sepenuhnya.

Kini yang dibutuhkan bukan sekadar pelestarian dalam museum. Lontara perlu hidup dalam keseharian. Terdapat pada nama-nama jalan, tertulis pada kemasan produk lokal, atau tertulis di papan pengumuman kantor pemerintah daerah.

Sebab aksara yang tidak digunakan hanyalah artefak. Dan Lontara, dengan segala kedalaman peradaban yang ia rekam, layak mendapat lebih dari sekadar tempat di balik kaca museum.

Penulis : Naila Paulina

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi
Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’
Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan
HIMATER UNIM Bone dan HIMAPTEK UMSI Gelar Abdi Desa, Ajarkan Ini Untuk Masyarakat Padatuo
Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Satbrimob Sulsel Gelar Kejuaraan Menembak Kapolda Cup XI
Mahasiswa KKN Unhas Luncurkan “Bulucenrana Smart Village Center”, Dorong Transformasi Desa Berbasis Digital
Pemkab Bone Salurkan Seragam Sekolah Gratis, Kepala SDN 187 Tompobulu: Terima Kasih Pemerintahan Beramal
Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan
Berita ini 57 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:47 WITA

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:29 WITA

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:15 WITA

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Minggu, 19 Juli 2026 - 07:25 WITA

HIMATER UNIM Bone dan HIMAPTEK UMSI Gelar Abdi Desa, Ajarkan Ini Untuk Masyarakat Padatuo

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:15 WITA

Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Satbrimob Sulsel Gelar Kejuaraan Menembak Kapolda Cup XI

Berita Terbaru

Opini

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Jul 2026 - 13:47 WITA

Opini

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:29 WITA

Opini

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:15 WITA