Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?

- Jurnalis

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Risna Agustiana Nanda, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Bone

TRISAKTINEWS.COM – Sebuah paradoks tengah terjadi di kalangan mahasiswa masa kini. Di satu sisi, mereka mampu mengetik ratusan hingga ribuan pesan chat dalam sehari tanpa merasa kelelahan. Namun di sisi lain, membuka buku teks setebal beberapa halaman saja sudah terasa berat dan melelahkan. Fenomena ini dikenal sebagai kelebihan beban teks atau text overload, dan dampaknya mulai terasa nyata dalam dunia pendidikan.

Tidak sulit menemukan gambaran ini di kehidupan sehari-hari mahasiswa. Layar ponsel mereka penuh dengan notifikasi pesan dari berbagai grup WhatsApp, komentar di media sosial, hingga percakapan pribadi yang tidak ada habisnya. Jari-jari mereka lincah mengetik balasan dalam hitungan detik. Namun ketika dosen meminta mereka membaca satu bab buku referensi, tiba-tiba semangat itu lenyap.

Perbedaan mendasar antara membaca chat dan membaca buku terletak pada cara otak memproses informasi. Pesan chat bersifat pendek, cepat, dan penuh stimulasi visual seperti emoji dan gambar. Otak terbiasa menerima informasi dalam potongan-potongan kecil yang mudah dicerna. Sebaliknya, membaca buku membutuhkan konsentrasi penuh, pemahaman mendalam, dan kesabaran yang kini semakin sulit ditemukan di era serba instan ini.

Baca Juga :  Pendidikan Sebagai Senjata: Mengubah Kemarahan Sporadis Menjadi Kesadaran Terorganisir

Seorang mahasiswi semester empat Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Bone mengaku merasakan sendiri fenomena ini. “Sehari bisa balas chat ratusan kali, tapi kalau disuruh baca buku dua halaman saja sudah mengantuk,” ungkapnya. Ia menyadari bahwa kebiasaan membaca pesan singkat telah mengubah cara otaknya menyerap informasi, membuatnya sulit berkonsentrasi pada bacaan yang lebih panjang dan kompleks.

Fenomena ini bukan sekadar kemalasan semata. Para ahli menyebutnya sebagai digital fatigue atau kelelahan digital, kondisi di mana otak mengalami keletihan akibat terlalu banyak menerima informasi dalam format digital. Ironisnya, meski lelah secara kognitif, banyak mahasiswa tetap tidak bisa lepas dari ponsel mereka dan justru terus menambah beban teks melalui media sosial.

Baca Juga :  Bupati Bone Tekankan Disiplin Satpol PP Sebagai Wajah Pemerintah Daerah

Dampaknya pada dunia pendidikan cukup mengkhawatirkan. Kemampuan membaca pemahaman mahasiswa menurun, daya analisis melemah, dan minat terhadap literasi akademik semakin berkurang. Padahal, kemampuan membaca secara mendalam adalah fondasi utama dalam dunia pendidikan tinggi, terutama bagi mahasiswa yang kelak akan menjadi pendidik generasi berikutnya.

Di tengah gempuran informasi digital yang tidak pernah berhenti, mahasiswa perlu kembali melatih diri untuk membaca secara mendalam dan penuh kesadaran. Mengurangi waktu di layar ponsel dan menyisihkan waktu khusus untuk membaca buku adalah langkah sederhana yang bisa dimulai hari ini. Sebab, sebanyak apapun chat yang diketik, tidak akan pernah bisa menggantikan kedalaman pengetahuan yang hanya bisa diperoleh dari membaca.

Penulis : Risna Agustiana Nanda

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi
Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’
Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan
HIMATER UNIM Bone dan HIMAPTEK UMSI Gelar Abdi Desa, Ajarkan Ini Untuk Masyarakat Padatuo
Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Satbrimob Sulsel Gelar Kejuaraan Menembak Kapolda Cup XI
Mahasiswa KKN Unhas Luncurkan “Bulucenrana Smart Village Center”, Dorong Transformasi Desa Berbasis Digital
Pemkab Bone Salurkan Seragam Sekolah Gratis, Kepala SDN 187 Tompobulu: Terima Kasih Pemerintahan Beramal
Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:47 WITA

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:29 WITA

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:15 WITA

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Minggu, 19 Juli 2026 - 07:25 WITA

HIMATER UNIM Bone dan HIMAPTEK UMSI Gelar Abdi Desa, Ajarkan Ini Untuk Masyarakat Padatuo

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:15 WITA

Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Satbrimob Sulsel Gelar Kejuaraan Menembak Kapolda Cup XI

Berita Terbaru

Opini

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Jul 2026 - 13:47 WITA

Opini

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:29 WITA

Opini

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:15 WITA