Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital

- Jurnalis

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh:  Al Hidayat, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Bone

TRISAKTINEWS.COM – Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Hampir semua aktivitas kini terhubung dengan layar: bekerja, belajar, berkomunikasi, berbelanja, hingga mencari hiburan. Kehadiran teknologi memang memudahkan banyak hal, tetapi di saat yang sama juga menghadirkan tantangan baru yang tidak bisa diabaikan, yaitu distraksi digital. Notifikasi yang terus muncul, arus informasi yang tak ada habisnya, dan kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat modern. Dalam kondisi seperti ini, menjadi pengguna bijak bukan hanya penting, melainkan mendesak.

Distraksi digital sering kali hadir secara halus dan tanpa disadari. Seseorang yang awalnya hanya berniat membuka ponsel untuk beberapa menit dapat terjebak berjam-jam dalam media sosial, video pendek, atau berita yang tidak relevan. Fenomena ini tampak sepele, tetapi dampaknya cukup serius. Konsentrasi menurun, pekerjaan tertunda, kualitas istirahat terganggu, dan produktivitas pun ikut merosot. Lebih jauh lagi, ketergantungan terhadap perangkat digital dapat membuat seseorang sulit hadir sepenuhnya dalam percakapan nyata, hubungan sosial, bahkan dalam proses berpikir yang mendalam. Teknologi yang semula dirancang untuk membantu justru berpotensi menguasai perhatian manusia.

Baca Juga :  Puslitbang Polri Lakukan Penelitian di Polresta Sidoarjo, Terkait Tantangan Harkamtibmas Hingga Pelayanan

Karena itu, pengguna bijak adalah mereka yang mampu menempatkan teknologi pada posisi yang tepat. Mereka tidak menjadikan gawai sebagai pusat hidup, melainkan sebagai alat yang digunakan secara sadar dan terarah. Sikap bijak ini terlihat dari kemampuan mengatur waktu layar, memilih konten yang bermanfaat, dan menolak godaan untuk terus-menerus terhubung tanpa alasan jelas. Di tengah derasnya arus digital, kemampuan untuk berhenti sejenak, memfilter informasi, dan menjaga fokus adalah bentuk kecerdasan baru yang sangat dibutuhkan.

Dalam konteks yang lebih luas, bijak bermedia digital juga berarti memiliki literasi informasi yang memadai. Tidak semua yang beredar di internet layak dipercaya. Hoaks, provokasi, dan konten menyesatkan menyebar dengan cepat karena sering dikemas secara menarik. Pengguna yang tidak kritis mudah terjebak dalam arus tersebut, lalu ikut menyebarkannya tanpa verifikasi. Padahal, di era banjir informasi, kemampuan berpikir kritis menjadi benteng utama. Sebelum membagikan sesuatu, pengguna perlu bertanya: apakah informasi ini benar, bermanfaat, dan perlu diteruskan? Pertanyaan sederhana ini dapat mencegah banyak kesalahan.

Selain itu, distraksi digital juga berkaitan erat dengan kesehatan mental. Paparan berlebihan terhadap media sosial dapat memunculkan perasaan cemas, lelah, bahkan tidak puas terhadap diri sendiri. Kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan tampilan sempurna orang lain di dunia maya sering kali menimbulkan tekanan psikologis. Karena itu, penggunaan teknologi yang sehat harus disertai kesadaran untuk menjaga keseimbangan hidup. Waktu tanpa layar, interaksi tatap muka, kegiatan fisik, dan istirahat yang cukup adalah bagian penting dari gaya hidup digital yang sehat.

Baca Juga :  Gerbong Mana yang Aman? Seluruh Gerbong Adalah Doa yang Sama

Masyarakat perlu memahami bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat, melainkan kemampuan mengelola diri di tengah derasnya informasi. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa perlu dibekali kebiasaan digital yang sehat sejak dini. Sekolah dapat berperan melalui pendidikan literasi digital. Keluarga dapat menjadi teladan dalam penggunaan gawai yang proporsional. Sementara itu, individu harus belajar bertanggung jawab atas kebiasaan digitalnya sendiri. Tanpa kesadaran kolektif, distraksi digital akan terus menjadi masalah yang menggerus kualitas hidup.

Pada akhirnya, menjadi pengguna bijak di tengah gempuran distraksi digital adalah soal keberanian untuk mengendalikan perhatian. Di era ketika perhatian manusia menjadi komoditas, kemampuan untuk fokus adalah kekuatan. Teknologi tidak seharusnya mengendalikan manusia; manusialah yang harus menentukan arah pemanfaatannya. Dengan sikap sadar, kritis, dan disiplin, kita dapat memanfaatkan dunia digital tanpa kehilangan jati diri, produktivitas, dan kesehatan batin.

Penulis : Al Hidayat

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi
Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’
Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan
HIMATER UNIM Bone dan HIMAPTEK UMSI Gelar Abdi Desa, Ajarkan Ini Untuk Masyarakat Padatuo
Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Satbrimob Sulsel Gelar Kejuaraan Menembak Kapolda Cup XI
Mahasiswa KKN Unhas Luncurkan “Bulucenrana Smart Village Center”, Dorong Transformasi Desa Berbasis Digital
Pemkab Bone Salurkan Seragam Sekolah Gratis, Kepala SDN 187 Tompobulu: Terima Kasih Pemerintahan Beramal
Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:47 WITA

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:29 WITA

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:15 WITA

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Minggu, 19 Juli 2026 - 07:25 WITA

HIMATER UNIM Bone dan HIMAPTEK UMSI Gelar Abdi Desa, Ajarkan Ini Untuk Masyarakat Padatuo

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:15 WITA

Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Satbrimob Sulsel Gelar Kejuaraan Menembak Kapolda Cup XI

Berita Terbaru

Opini

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Jul 2026 - 13:47 WITA

Opini

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:29 WITA

Opini

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:15 WITA