Generasi Muda Ambil Peran dalam Pelestarian Songkok Recca

- Jurnalis

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anisa Salsabila, pendidikan bahasa Indonesia, semester empat

Di tengah gempuran budaya modern yang kian deras, ada tangan-tangan muda yang memilih untuk tidak melepaskan benang tradisi. Salah satunya adalah seorang pengrajin muda asal Bone yang justru menemukan jalannya menuju Songkok Recca di saat dunia tengah terdiam oleh pandemi.

Masa pandemi Covid-19 memaksa banyak orang untuk berdiam di rumah, tak terkecuali para anak muda Bone. Namun di balik kejenuhan yang menghimpit, sebuah keputusan kecil ternyata menyimpan makna besar. Seorang pengrajin muda memulai perjalanannya mengenal Songkok Recca bukan dari bangku sekolah, bukan pula dari program pemerintah — melainkan dari tangan ibunya sendiri.
“Pada awalnya saya membuat kerajinan Songkok Recca ini pada masa Covid-19. Saya bingung harus melakukan apa, lalu saya melihat peluang untuk belajar membuat Songkok Recca dari orang sekitar, selain untuk menghilangkan rasa jenuh akibat karantina,” ungkapnya.
Ibunya, yang merupakan seorang pengrajin Songkok Recca, menjadi guru pertama sekaligus jembatan yang menghubungkan sang anak muda dengan warisan leluhur Bugis yang telah berusia berabad-abad.

Apa yang bermula dari sekadar mengisi waktu, perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Ketika pesanan mulai berdatangan dan penghasilan mulai mengalir, ia menyadari bahwa membuat Songkok Recca bukan hanya soal mencari nafkah — melainkan soal menjaga identitas.
“Awalnya untuk menghilangkan rasa jenuh, tetapi seiring berjalannya waktu saya tetap melanjutkan pekerjaan ini karena selain mendapatkan penghasilan dari penjualan, saya juga bisa tetap melestarikan budaya,” tuturnya.
Momen yang paling membekas datang ketika menjelang Hari Jadi Kabupaten Bone. Warga berbondong-bondong mencari Songkok Recca — penutup kepala khas yang menjadi simbol kebanggaan masyarakat Bugis, khususnya Bugis Bone.
“Itu tentu membuat saya sebagai salah satu pengrajin merasa bangga dan merasa punya tanggung jawab untuk tetap melestarikan budaya ini,” katanya dengan nada penuh keyakinan.
Membuat sebuah Songkok Recca bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan waktu empat hingga lima hari untuk menyelesaikan satu buah songkok, tergantung pada kecepatan dan kelincahan tangan pengrajin. Bagi pemula, proses ini adalah ujian tersendiri.
“Awal belajar itu merupakan tantangan yang sangat sulit bagi saya, tapi sekarang sudah tidak lagi,” akunya sambil tersenyum.
Ia pun mengakui bahwa hasil karya pengrajin senior masih jauh lebih rapi dan cepat. Namun semangat untuk terus belajar tidak pernah padam.
“Jika dilihat dari hasil kerajinan dari yang sudah ahli, tentu hasilnya sangat berbeda. Tetapi jika terus belajar, mungkin saya bisa seperti mereka atau bahkan bisa lebih dari mereka,” ujarnya optimis.
Tantangan lain yang kerap dihadapi adalah ketersediaan bahan baku yang tidak menentu. “Tergantung, karena biasa kami ingin membeli bahan-bahannya ada, bahkan juga tidak ada,” ungkapnya jujur.
Dalam hal pemasaran, pengrajin muda ini tidak hanya mengandalkan cara-cara lama. Meski penjualan secara langsung (offline) masih menjadi andalan, ia mulai merambah media sosial sebagai etalase digital.
“Saya biasanya menjual secara offline tergantung dari pesanan, tetapi saya juga biasanya pasang di media sosial seperti WhatsApp dan Instagram, dan alhamdulillah ada yang beli,” ceritanya.
Soal harga, Songkok Recca memiliki rentang yang cukup lebar — mencerminkan kualitas dan kerumitan proses pembuatannya. “Tergantung, bahkan harganya ada yang ratusan, bahkan ada yang jutaan,” jelasnya.

Baca Juga :  Polsek Krian Gencarkan Sosialisasi Bahaya Narkoba, Iptu Dedik Irwanto Ajak Pemuda Jadi Pelopor Pencegahan

Ketika ditanya tentang harapannya, jawaban yang keluar sederhana namun penuh bobot.
“Semoga Songkok Recca tetap bertahan di masa depan agar budaya ini bisa kita tetap dilestarikan dan tidak melupakan adat istiadat,” harapnya.
Kepada sesama anak muda, ia menitipkan sebuah pesan yang lahir dari pengalaman nyata, bukan sekadar retorika:
“Pertahankan budaya ini, karena jika bukan kita yang mempertahankan budaya ini, mungkin bisa hilang kapan saja. Dan mungkin jika ada pameran atau kegiatan lainnya, kita bisa menonjolkan budaya kita seperti Songkok Recca ini.”

Baca Juga :  Kekerasan Literasi Di Tengah Hegemoni Media Sosial

Kisah pengrajin muda ini adalah bukti bahwa pelestarian budaya tidak selalu lahir dari program besar atau kebijakan pemerintah. Terkadang, ia tumbuh dari kejenuhan di masa pandemi, dari tangan seorang ibu yang sabar mengajar, dan dari keberanian seorang anak muda untuk memilih jalan yang tidak banyak ditempuh generasinya.
Songkok Recca, dengan segala kerumitan dan keindahannya, kini menemukan penjaga baru — bukan di museum, tapi di tangan generasi yang masih muda dan penuh harapan.

Penulis : Anisa Salsabila

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital
Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?
Romantisasi Buku di Media Sosial: Mahasiswa Membeli untuk Membaca atau Sekedar Konten?
Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?
Pelajar dan Masyarakat Gunakan Akses Sementara Selama Pembangunan Jembatan Baru di Desa Lemoape Kecamatan Palakka
Ketika Buku Jadi Barang Mewah: Krisis Literasi Indonesia yang Terabaikan
Media Sosial dan Krisis Fokus Pelajar di Era Digital
Hari Bhayangkara ke-80, Brimob Sulsel Perkuat Kedekatan dengan Warga Melalui Aksi Sosial
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:26 WITA

Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:21 WITA

Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:16 WITA

Romantisasi Buku di Media Sosial: Mahasiswa Membeli untuk Membaca atau Sekedar Konten?

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:13 WITA

Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:10 WITA

Generasi Muda Ambil Peran dalam Pelestarian Songkok Recca

Berita Terbaru

Daerah

Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Jumat, 26 Jun 2026 - 08:26 WITA

Daerah

Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?

Jumat, 26 Jun 2026 - 08:13 WITA

Daerah

Generasi Muda Ambil Peran dalam Pelestarian Songkok Recca

Jumat, 26 Jun 2026 - 08:10 WITA