Oleh: Arnida, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone, program studi Pendidikan Bahasa Indonesia semester empat.
TRISAKTINEWC.COM – BookTok dan Bookstagram telah mengubah cara generasi muda menemukan buku. Menurut data TikTok yang dikutip Forbes (2025), tagar #BookTok telah mencapai 370 miliar tayangan secara global. Di Indonesia, survei GoodStats 2025 menunjukkan 62,5% responden pertama kali menemukan buku melalui media sosial, sementara 77,9% mengaku terdorong membeli buku setelah melihat ulasan daring.
Dampaknya terasa langsung pada industri perbukuan. Penjualan meningkat, penerbit menggandeng bookfluencer, dan seejumlah buku kembali populer berkat video singkat yang viral.
Namun dibalik tren tersebut muncul pertanyaan: dari jutaan orang yang menonton konten buku, berapa yang benar-benar membacanya?
Fenomena ini dikenal sebagai literasi performatif, yaitu ketika buku lebih banyak digunakan sebagai simbol identitas daripada sumber pengetahuan. Rak buku ditata untuk estetika, video unboxing mendapat ribuan tayangan, tetapi tidak sedikit buku yang akhirnya hanya menjadi pajangan.
Salah satu penyebabnya adalah Fear of Missing Out (FOMO). Banyak mahasiswa membeli buku yang sedang viral agar tidak tertinggal dari percakapan di media sosial. Akibatnya, daftar bacaan terus bertambah sementara waktu membaca semakin berkurang.
Meskipun demikian, BookTok tidak sepenuhnya berdampak negatif. Komunitas ini berhasil memperkenalkan banyak buku kepada pembaca baru dan membantu penulis menjangkau audiens yang lebih luas. Bagi banyak anak muda, media sosial justru menjadi pintu masuk menuju dunia literasi.
Persoalanya bukan pada membeli atau membagikan buku di media sosial. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah buku tersebut benar-benar dibaca, dipahami, dan memberi pengalaman intelektual bagi pembacanya.
Pada akhirnya, tantangan literasi hari ini bukan sekadar membuat orang membeli buku, tetapi membuat mereka meluangkan waktu untuk membacanya.
Penulis : Arnida
Editor : Admin Redaksi








