Oleh: Aspi, Akar Rumput
TRISAKTINEWS.COM – Kemerdekaan sering kali dipahami sebagai sebuah keadaan yang telah selesai ketika sebuah bangsa berhasil melepaskan diri dari penjajahan dan mendirikan negara sendiri. Namun, bagi Soe Hok Gie, kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada pergantian kekuasaan atau perubahan status politik. Kemerdekaan juga menyangkut keberanian manusia untuk berpikir bebas, bersikap kritis, dan menolak ketidakadilan, termasuk ketika ketidakadilan itu datang dari bangsanya sendiri. Karena itu, pemikiran dan sikap Gie menjadi menarik untuk dibaca kembali di tengah kehidupan Indonesia hari ini. Kritiknya terhadap kekuasaan, keberpihakannya kepada kebenaran, serta kegelisahannya melihat jarak antara cita-cita kemerdekaan dan kenyataan sosial menunjukkan bahwa kemerdekaan bukanlah sebuah titik akhir, melainkan proses yang harus terus dijaga oleh setiap generasi.
Kemerdekaan sebagai Sikap Kritis
Bagi Soe Hok Gie, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan suatu bangsa dari kolonialisme. Kemerdekaan juga harus hadir dalam keberanian individu untuk mempertanyakan kekuasaan. Dalam berbagai tulisan dan catatan hariannya, Gie memperlihatkan kegelisahan terhadap kecenderungan manusia untuk tunduk kepada kekuasaan, kelompok, maupun kepentingan politik tertentu. Ia tidak nyaman dengan sikap intelektual yang memilih diam ketika berhadapan dengan ketidakadilan. Dalam konteks ini, kemerdekaan berpikir menjadi bagian penting dari kemerdekaan itu sendiri: seseorang belum sepenuhnya merdeka apabila ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakan apa yang diyakininya benar.
Sikap tersebut menjadi semakin relevan ketika kita melihat kehidupan demokrasi Indonesia hari ini. Kemerdekaan politik telah kita miliki selama puluhan tahun, tetapi kebebasan berpikir dan keberanian menyampaikan kritik selalu menghadapi tantangan baru. Tekanan terhadap kebebasan tidak selalu datang dalam bentuk larangan yang terang-terangan. Ia dapat muncul melalui tekanan kelompok, kepentingan ekonomi, fanatisme politik, budaya ikut-ikutan, bahkan keinginan untuk mendapatkan penerimaan sosial. Dalam situasi semacam itu, pesan Gie tentang pentingnya mempertahankan independensi moral menjadi sangat aktual.
Kemerdekaan dan Kritik terhadap Kekuasaan
Salah satu warisan pemikiran Gie yang paling kuat adalah pandangannya bahwa kekuasaan harus selalu diawasi. Baginya, kritik bukanlah bentuk kebencian kepada negara. Justru kritik dapat menjadi bentuk kecintaan terhadap cita-cita yang ingin diwujudkan oleh negara tersebut. Seorang warga negara tidak seharusnya menjadi sekadar pengikut kekuasaan, melainkan memiliki tanggung jawab moral untuk mengingatkan ketika kekuasaan mulai menyimpang dari kepentingan rakyat.
Di sinilah pemikiran Gie dapat dibaca sebagai kritik terhadap pemahaman kemerdekaan yang terlalu formal. Negara boleh saja telah merdeka secara politik, tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah rakyat telah merasakan kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kemiskinan, ketimpangan, diskriminasi, korupsi, dan ketidakadilan sosial masih dapat dianggap sebagai persoalan yang terpisah dari makna kemerdekaan? Jika kemerdekaan dimaknai secara lebih substantif, maka persoalan-persoalan tersebut justru menjadi ukuran penting untuk melihat sejauh mana cita-cita kemerdekaan telah diwujudkan.
Generasi Muda dan Tanggung Jawab Kemerdekaan
Gie sendiri merupakan representasi dari generasi muda yang tidak ingin sekadar menjadi penonton sejarah. Ia menunjukkan bahwa anak muda dapat mengambil posisi intelektual dan moral terhadap persoalan bangsanya. Yang menarik, sikap kritisnya tidak lahir dari rasa pesimistis terhadap Indonesia. Sebaliknya, kritik tersebut justru berangkat dari harapan bahwa Indonesia dapat menjadi negara yang lebih adil dan manusiawi.
Dalam konteks generasi muda sekarang, gagasan tersebut masih memiliki relevansi yang kuat. Tantangannya memang berbeda. Jika generasi Gie berhadapan dengan pergulatan politik Orde Lama dan awal Orde Baru, generasi sekarang berhadapan dengan banjir informasi, media sosial, politik identitas, disinformasi, dan budaya politik yang semakin kompleks. Namun persoalan dasarnya tetap sama: bagaimana manusia mempertahankan kebebasan berpikir di tengah tekanan lingkungan sosial dan politik?
Kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya hak untuk berbicara, tetapi juga kemampuan untuk berpikir sebelum berbicara; bukan sekadar kebebasan untuk memilih, tetapi keberanian untuk memahami pilihan; dan bukan hanya keberanian mengkritik pihak yang berbeda, tetapi juga kesediaan mengkritik pihak yang kita dukung ketika mereka melakukan kesalahan.
Karena itu, membaca kembali Soe Hok Gie berarti mengingatkan diri bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah sebuah warisan yang cukup dirayakan setiap tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan adalah tanggung jawab yang harus terus dihidupkan melalui keberanian berpikir, kebebasan menyampaikan kritik, keberpihakan kepada keadilan, dan kepedulian terhadap mereka yang masih mengalami ketidakadilan. Barangkali inilah relevansi terbesar Gie bagi Indonesia hari ini: bahwa mencintai bangsa tidak selalu berarti membenarkan negara, dan mengkritik kekuasaan tidak selalu berarti membenci Indonesia. Justru dalam keberanian untuk mengatakan “tidak” terhadap ketidakadilan, semangat kemerdekaan dapat menemukan maknanya yang paling dalam.
Pada akhirnya, relevansi pemikiran Soe Hok Gie tentang kemerdekaan dapat dipahami melalui gagasan Immanuel Kant tentang Sapere Aude: keberanian untuk menggunakan akal sendiri. Bagi Kant, manusia menjadi dewasa ketika ia berani berpikir tanpa menyerahkan penilaiannya sepenuhnya kepada otoritas. Dalam semangat yang serupa, Gie memperlihatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga terbebas dari ketakutan untuk berpikir, bertanya, dan menyatakan kebenaran. Maka, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, pertanyaan tentang kemerdekaan sesungguhnya belum selesai. Ia terus hidup dalam keberanian setiap warga negara untuk menolak ketidakadilan, mengkritik kekuasaan, dan mempertahankan nurani ketika mayoritas memilih diam. Sebab sebuah bangsa mungkin telah merdeka dari penjajahan, tetapi kemerdekaan yang sejati hanya akan bertahan apabila manusia di dalamnya tetap memiliki keberanian untuk berpikir dan bertindak merdeka.
Penulis : aspi
Editor : Admin Redaksi







