Senjakala Kebenaran: Saat Informasi Tanpa Rumah Menguasai Panggung Digital

- Jurnalis

Sabtu, 19 September 2026 - 10:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspi, Akar Rumput

Selamat datang di era kegilaan yang terorganisir, di mana kebenaran adalah lelucon, dan akal sehat adalah bahan tertawaan

TRISAKTINEWS.COM – Sebelumnya kita sudah bicara soal bisik-bisik tentang media yang hampir mati. Bila benar-benar mati, kuburannya adalah ruang digital yang riuh rendah, tempat setiap detik lahir berita baru berebut perhatian. Di era ini, kecepatan adalah raja, validitas informasi seringkali menjadi urusan belakangan. Kemudahan akses informasi yang digadang-gadang sebagai mercusuar pencerahan, kini menjelma panggung sandiwara absurd.

Semua orang bisa menjadi aktor, sutradara, sekaligus penonton yang kebingungan, bertepuk tangan untuk setiap adegan, tak peduli apakah itu tragedi atau komedi murahan. Kita hidup di era “post-truth,” di mana laju penyebaran informasi jauh lebih penting daripada kebenarannya, emosi lebih menarik daripada faktanya, menciptakan “banjir informasi” (information deluge) yang sulit dikendalikan.

Media tradisional, dengan segala prosedur verifikasi yang ketat, tampak lunglai, seperti kakek tua yang mencoba berlari maraton dengan sepatu pantofel. Sungguh kontras. Sementara yang lain sudah terbang dengan jet pribadi, bahkan tanpa perlu tahu arah. Kita sempat singgung, betapa dulu media massa seperti jantung kota. Denyutnya adalah tanda kehidupan. Namun, semuanya berubah saat negara api menyerang.

Muncul fenomena anomali yang menarik sekaligus mengkhawatirkan: “Homeless Media.” Jangan bayangkan mereka tidur di kolong jembatan; mereka adalah para gelandangan informasi yang hidup nomaden, tak punya rumah fisik atau situs web resmi. Markas besar mereka? Ya, media sosial itu sendiri. Dengan melepaskan diri dari “rumah” konvensional, mereka juga menanggalkan beban pengawasan editorial, pendaftaran hukum, dan alamat untuk akuntabilitas.

Mereka ini hantu di siang bolong, ada tapi tak bisa dipegang, apalagi dimintai pertanggungjawaban. Bahkan, kadang mereka sendiri tak tahu siapa diri mereka sebenarnya, selain sekumpulan algoritma dan data yang haus klik. Para penjaja berita di pinggir jalan digital ini tak perlu repot-repot mencari sendiri, cukup menunggu kiriman atau mencomot dari lapak sebelah. Sebuah efisiensi yang patut diacungi jempol, atau mungkin, perlu dipertanyakan.

Ciri khas mereka adalah kecepatan tayang konten yang real-time, secepat gosip tetangga, bahkan lebih cepat dari kecepatan akal sehat. Mereka juga unggul dalam meliput hal-hal hiperlokal yang tak sudi diliput media nasional, dari kucing nyasar sampai jemuran kutang yang hilang. Sajian mereka sangat visual, penuh gambar bergerak dan tulisan besar, karena berpikir itu melelahkan.

Mereka sangat bergantung pada kiriman audiens dan repost dari grup WhatsApp lokal, sebuah simbiosis mutualisme yang aneh: publik memberi “sampah”, “media” mengolahnya jadi santapan. Interaksi langsung dengan audiens menciptakan kedekatan yang intim, sampai-sampai tak ada lagi jarak antara fakta dan fiksi, antara berita dan gosip. Risikonya, tergantung pada platform. Kalau akun diretas, atau platform bangkrut, hilanglah semua.

Jalaluddin Rahmat dulu, dalam sebuah diskusi di tengah reformasi yang berkobar, pernah bilang begini: “Media (televisi) itu pintar memilah mana berita sampah dan bukan sampah, lalu menayangkan sampahnya saja.” Saat itu ia mengomentari isi televisi luar negeri dan dalam negeri, ketika meliput kekerasan aparat terhadap demonstrasi besar-besaran di Jakarta. Andai bertemu lagi, pengen sekali rasanya bertanya padanya soal fenomena hari ini.

Media nomaden tumbuh subur dengan mengandalkan model bisnis sederhana: endorsement berbayar. Mirip iklan tradisional, tapi lebih licin. Mereka mempromosikan produk, acara, kuliner, pariwisata, bahkan politisi. Batas antara berita objektif dan iklan berbayar sangat tipis, nyaris tidak ada. Mereka ini seniman penyamaran ulung, mengubah iklan jadi berita, dan berita jadi iklan. Sebuah pertunjukan sulap yang disaksikan jutaan mata, tanpa ada yang berani bertanya, “Ini tipuan, bukan?”

Baca Juga :  Ruang Sunyi di Tengah Riuh: Sebuah Refleksi Eksistensial

Mereka dikelola tim kecil, bahkan satu orang, tak punya SOP tertulis, apalagi terdaftar hukum. Biaya operasional mereka hanya laptop dan ponsel. Mereka ini ninja digital: cepat, tak terlihat, dan tak terikat aturan, kecuali aturan algoritma dan tentu saja, aturan siapa yang membayar paling banyak. Di antaranya bahkan siap menampung apa saja yang dilemparkan publik, tanpa peduli baunya, asalkan bisa di-viral-kan.

Karena tak diatur, mereka jadi tempat yang fleksibel untuk kampanye bawah tanah, bahkan menjelma sebagai “aktor yang sangat efektif dalam lingkungan politik.” Tak ada yang namanya pagar api, pembatas kemesraan antara awak redaksi dengan tim bisnis. Ironis, bukan? Di era digital, integritas bisa disewakan, dan kebenaran bisa di-endorse. Sebuah lelang akal sehat, yang, kita semua, adalah penawar yang tak sadar.

Ledakan populasi “media gelandangan” ini tak lepas dari tingginya penetrasi internet di Indonesia, mencapai 79,5% pada 2024. Generasi Z, sang digital-native, menjadi konsumen utama, menyumbang 34,4% dari total pengguna. Mereka ini, para muda-mudi, lebih suka berita yang disajikan langsung di media sosial, bukan di situs web berita tradisional yang kaku.

Laporan Reuters Institute Digital News 2025 bahkan menunjukkan bahwa 60% populasi mengakses berita via WhatsApp, YouTube, Facebook, dan Instagram, dengan TikTok melonjak 5% menjadi 34%. Ini adalah indikator kuat bahwa kita semakin mencintai konten video pendek, sangat visual, yang seringkali kurang dikurasi secara formal.

Krisis paling mendasar yang ditimbulkan fenomena ini adalah kredibilitas. Informasi dari akun-akun “homeless media” seringkali belum terverifikasi, menjadi sarang hoaks dan provokasi. Mereka menyajikan informasi yang “terlihat benar, tetapi menyesatkan,” bahkan menjiplak berita media tradisional. Meskipun, ini bukan gambaran utuhnya. Kenyataannya jauh lebih bernuansa daripada potret hitam putih zaman dahulu kala.

Kepercayaan publik terhadap media tradisional yang rendah membuka celah bagi “homeless media” ini. Laporan 2025 mencatat kepercayaan terhadap berita di Indonesia naik tipis menjadi 36%, sebelumnya, pada 2024 angkanya cuma 35%. Itupun sudah turun 4 poin persentase dibandingkan periode 2023. Terciptalah “lingkaran setan ketidakpercayaan” (vicious cycle of distrust):

Ketidakpercayaan pada media kolot mendorong audiens beralih ke “homeless media“, yang kurang kredibel, yang kemudian membanjiri ekosistem informasi dengan lebih banyak konten tidak terverifikasi, semakin mengikis kredibilitas informasi secara keseluruhan. Ujungnya balik lagi, merosotlah kepercayaan terhadap media yang memproduksi informasi.

Di tengah segala kerentanan, “homeless media” memang menawarkan peluang. Seperti rumput liar yang tumbuh subur di antara beton, mereka punya daya tahan yang aneh, bahkan kadang lebih menarik daripada bunga yang ditanam rapi. Mereka unggul dalam berita hiperlokal dan cepat, mengisi celah “gurun berita” (news desert) yang diabaikan media tradisional. Mereka bisa jadi oase di padang pasir informasi yang kering.

Mereka juga terkait dengan partisipasi publik, menjadi saluran bagi warga untuk berkontribusi informasi. Meski, rawan menciptakan ilusi demokrasi informasi, bila setiap orang jadi “jurnalis.” Tanpa kualifikasi jurnalistik atau etika, partisipasi publik bisa jadi pedang bermata dua. Kita semua bisa jadi “jurnalis,” tapi siapa yang menjamin kita tidak jadi “penyebar hoaks” dadakan, atau lebih parah, “buzzer” tanpa bayaran?

Baca Juga :  Kuliner Ramadan: Tradisi Makanan dan Praktik Makan selama Ramadan

Tingginya pastisipasi membuat tingkat engagement akun “homeless media” meroket. Ini berbeda dengan tradisi media lama, memaksa mereka beradaptasi. Jurnalis kolot bahkan ada yang mengakui dan mengutip “homeless media“. Istilah mainstream yang biasa disematkan kepada mereka, kini patut dipertanyakan. Mana yang kini jadi arus utama? Modelnya media tunawisma, atau media yang kini berlabel “tradisional”?

Media yang mengikuti dan menjalankan adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang, itulah media tradisional. Kamus bilang begitu. Tak ikut arus, media ini diledek tak relevan, dianggap ketinggalan zaman. Gelombang genre baru media menelan media yang dulu mainstream, membangunkan mereka dari tidur panjang. Harus ikut berlari, meskipun dengan napas terengah-engah, dan mungkin, kehilangan sedikit martabat di jalan.

Ini skenario sinis, bahkan absurd, di mana “solusi” justru menciptakan masalah baru yang lebih dalam bagi lanskap media. Kita ini, para penikmat informasi, seperti anak kecil yang diberi permen beracun: manis di awal, tapi mematikan di akhir. Dan kita terus saja meminta lebih. Sementara produsen gula-gula, media tradisional yang dulu jadi arus utama itu, tak sanggup mengejar kelincahan para gelandang dunia informasi.

Fenomena “homeless media” adalah cerminan paradoks masyarakat digital yang haus informasi, tapi abai kualitasnya. “Banjir informasi” menggeser cara berpikir kita. Kita berasa hidup di zaman di mana kebenaran adalah barang mewah, dan kebohongan adalah komoditas massal yang paling laris. Sebuah pasar bebas informasi, yang paling berisik adalah pemenangnya.

“Tidak ada jaminan bahwa informasi yang diperoleh sepenuhnya valid.” Kita ini, para penghuni digital, seolah sedang berenang di lautan data, tapi lupa bagaimana caranya bernapas, atau bahkan, untuk apa kita berenang. Sialnya, media yang menjadi harapan, mercusuar di tengah pekatnya konsentrasi fiksi dalam larutan informasi, perlahan sudah mulai tampak lelah. Satu per satu mulai menyerah. Mungkin memang sudah saatnya menghuni liang lahat.

Maka, “berpikir skeptis dan kritis menjadi modal utama.” Tanggung jawab memilah kebenaran kini bergeser ke pundak konsumen informasi itu sendiri. “Melek media!” kini jadi seruan untuk pertahanan diri intelektual. Kemampuan bela akal di tengah ganasnya pertarungan. Sebuah pertarungan epik antara akal sehat dan kebodohan massal, saat kita semua adalah gladiator yang tak terlatih, dan musuh terbesar kita adalah diri sendiri.

Jika informasi semakin terpisah dari akuntabilitas dan etika, dan jika publik semakin nyaman dengan pengaturan ini, maka pilar-pilar fundamental wacana publik yang rasional akan terancam. “Banjir informasi” bukan hanya masalah volume; ini pengenceran kebenaran, mengarah pada potensi “kuburan akal sehat kolektif” (collective common sense graveyard). Ketika kebenaran menjadi fana, subjektif, dan rentan manipulasi.

Maka, patutkah kita bertanya, apakah kita sedang membangun menara Babel informasi yang megah, atau justru secara perlahan tapi pasti, menggali kuburan bagi akal sehat kolektif kita sendiri? Sebuah pertanyaan retoris yang tak butuh jawaban, karena jawabannya terpampang nyata di setiap lini masa media sosial kita, di setiap hoaks yang kita telan mentah-mentah, dan di setiap tawa yang kita lontarkan pada tragedi yang disulap menjadi hiburan.

Selamat datang di era kegilaan yang terorganisir, di mana kebenaran adalah lelucon, dan akal sehat adalah bahan tertawaan

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Soe Hok Gie, Sapere Aude, dan Tanggung Jawab Moral Menjaga Kemerdekaan
Simfoni Perjuangan di Luar Jangkauan
Ketika Negara dan Pasar Merampas Dongeng Pengantar Tidur
URI dan Jebakan Pembentukan Wadah Baru
Menagih Jam Kerja Sejak Motor Dinyalakan
Ketika Kerja Keras Kalah oleh Garis Keturunan
Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi
Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 10:33 WITA

Senjakala Kebenaran: Saat Informasi Tanpa Rumah Menguasai Panggung Digital

Senin, 17 Agustus 2026 - 09:30 WITA

Soe Hok Gie, Sapere Aude, dan Tanggung Jawab Moral Menjaga Kemerdekaan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 15:16 WITA

Simfoni Perjuangan di Luar Jangkauan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 15:00 WITA

Ketika Negara dan Pasar Merampas Dongeng Pengantar Tidur

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:58 WITA

URI dan Jebakan Pembentukan Wadah Baru

Berita Terbaru