Ketika Kerja Keras Kalah oleh Garis Keturunan

- Jurnalis

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Oskar Daniel, Kader HMI Komisariat UNIASMAN

Barangkali yang sedang dibangun bukan masa depan kami, melainkan singgasana yang lebih tinggi bagi mereka yang sejak mula tak pernah kekurangan tempat untuk berdiri.

TRISAKTINEWS.COM – Ada sesuatu yang begitu busuk di dalam tubuh negeri ini. Ia tidak membusuk seperti bangkai yang tergeletak di tengah jalan, melainkan seperti jelaga yang diam-diam menghitamkan paru-paru; tak terlihat pada mula, tetapi perlahan membuat kita lupa bagaimana caranya bernapas.

Kami diajari mencintai tanah air sejak sebelum pandai mengeja nama kami sendiri. Kami diminta berdiri tegak setiap hari Senin, menghafal sila demi sila, dan percaya bahwa kelak negeri ini akan memeluk kami sebagaimana seorang Ibu memeluk anaknya yang pulang.

Negeri ini pernah menyuruh kami bermimpi sebesar-besarnya. Maka kami pun melakukannya. Kami memungut cita-cita yang tercecer di bangku sekolah, sebagiannya kami titipkan pada lembar-lembar ijazah, sebagiannya lagi kami pelihara diam-diam di sela usia yang semakin menua.

Kami diajari percaya bahwa masa depan dapat diraih oleh mereka yang tekun menempuhnya. Bahwa di ujung segala letih akan selalu tersedia tempat bagi orang-orang yang bersedia berpeluh lebih dahulu. Maka kami belajar hingga larut, menimbun pengalaman, dan menukar tahun-tahun paling muda kami dengan harapan yang tak pernah sedikit.

Baca Juga :  Filantropi Berisik

Sialnya, terlalu banyak mimpi yang tumbuh lebih cepat daripada kesempatan. Terlalu banyak janji yang dihamburkan di podium-podium kekuasaan, lalu dibiarkan mangkrak sebelum sempat menjadi kenyataan. Lapangan pekerjaan dijanjikan berlimpah, tetapi yang kami temukan hanyalah antrean yang semakin panjang dan kecemasan yang semakin renta.

Barangkali yang sedang dibangun bukan masa depan kami, melainkan singgasana yang lebih tinggi bagi mereka yang sejak mula tak pernah kekurangan tempat untuk berdiri.

Di negeri ini, kerja keras tak selalu mampu mengalahkan garis keturunan. Kecakapan tak selalu mampu menandingi kedekatan. Bahkan mimpi pun dapat menjadi barang mewah yang hanya dimiliki mereka yang duduk paling dekat dengan meja-meja kuasa.

Mereka tertawa di podium-podium itu. Melontarkan lelucon di tengah kecemasan yang kami kunyah tiga kali sehari. Berbicara kasar di hadapan rakyatnya sendiri seakan sopan santun hanya dituntut dari mereka yang berada di bawah. Betapa culasnya pemimpin sebuah negeri yang meminta rakyatnya untuk tetap optimistis, sementara ia sendiri sibuk menguliti masa depan mereka sedikit demi sedikit.

Yang paling lucu dari semua ini adalah ketika kami diminta pergi jika tidak menyukai rumah kami sendiri. Dungu. Rumah macam apa yang mengusir ‘anak-anaknya’ karena mereka meminta atapnya diperbaiki?

Baca Juga :  Masyarakat Madani Sebagai Platform Indonesia Mengahapus Penjajahan Diatas Dunia : Diplomasi Prabowo Merajut Solidaritas Dunia Islam

Ada batas yang tak pernah diberitahukan kepada kami sejak kecil, bahwa ada mimpi-mimpi yang tak akan pernah sampai ke garis akhir, betapa pun keras kami berlari. Bukan karena kami malas, bukan karena kami kurang berusaha, melainkan karena lintasannya telah lebih dahulu dipalang oleh mereka yang menyebut dirinya pelayan rakyat.

Mimpi-mimpi kami tidak dibunuh. Terlalu baik jika disebut demikian. Ia dikebiri— dipaksa tetap hidup, tetapi kehilangan segala kemungkinan untuk tumbuh menjadi sesuatu yang utuh.

Lebih baik mati hari ini daripada dipaksa mencintai tanah yang terus-menerus mencabut akar dari kaki-kaki kami.

Lebih baik mati hari ini daripada hidup cukup lama untuk menyaksikan mimpi-mimpi kami dipereteli hingga tinggal kerangkanya saja.

Lebih baik mati hari ini daripada menyaksikan mimpi-mimpi kami dikebiri oleh negeri sendiri.

Yang paling tragis dari semuanya adalah kenyataan bahwa malam-malam mereka tak pernah dipaksa memilih antara mempertahankan hidup atau mempertahankan mimpi. Sebab kecemasan tidak pernah lahir dari singgasana yang nyaman.

Betapa pun tinggi singgasana yang berhasil mereka dirikan, betapa pun banyak kursi yang berhasil mereka wariskan, tetap ada satu hal yang tampaknya tak pernah berhasil mereka pelihara.

Nurani.

Penulis : oskar

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Menagih Jam Kerja Sejak Motor Dinyalakan
Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi
Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’
Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan
Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan
Dari Kultur HMI hingga Bersama Menuju Gelar Doktor : Kiprah Jumrah dan Mukhawas Mengabdi di Uniasman
Apakah Buruh Akan Menjadi Kapitalis Baru? Meluruskan Salah Paham Teori Kelas Marx
Menyerah dengan Lebih Estetik
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:28 WITA

Menagih Jam Kerja Sejak Motor Dinyalakan

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:55 WITA

Ketika Kerja Keras Kalah oleh Garis Keturunan

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:47 WITA

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:29 WITA

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:15 WITA

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Berita Terbaru

Opini

Menagih Jam Kerja Sejak Motor Dinyalakan

Jumat, 24 Jul 2026 - 14:28 WITA

Opini

Ketika Kerja Keras Kalah oleh Garis Keturunan

Jumat, 24 Jul 2026 - 13:55 WITA