Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

- Jurnalis

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspi, Akar Rumput

TRISAKTINEWS.COM – Di tengah dunia yang semakin mengagungkan penampilan, kita perlahan lupa bahwa yang benar-benar menentukan nilai seseorang bukanlah simbol yang dikenakan, melainkan isi yang dihidupinya.

PERNAHKAH Anda masuk ke sebuah kafe yang interiornya begitu indah? Dindingnya estetik, cangkirnya menarik, pencahayaannya sempurna untuk difoto. Namun ketika kopi diseruput, rasanya biasa saja. Sebaliknya, ada warung kopi kecil di pinggiran desa. Kursinya dari kayu lusuh dimakan usia. Tidak ada dekorasi yang mewah. Tetapi orang rela kembali berkali-kali karena yang dicari bukan tempatnya, melainkan kopinya.

Tanpa sadar, kita sering memperlakukan manusia seperti memilih tempat minum kopi. Kita terpikat oleh kemasannya, sebelum benar-benar mengenal isinya.

Barangkali begitulah cara kita memandang manusia.

Coba lihat bagaimana kita hidup hari ini. Sebuah video berdurasi tiga puluh detik sering kali lebih menentukan penilaian kita terhadap seseorang daripada rekam jejaknya selama puluhan tahun. Dalam dunia percintaan, para orangtua lebih bangga anak gadisnya punya calon suami “berseragam”, daripada pemuda biasa yang sederhana namun jujur dan pekerja keras.

Yang tak kalah unik, foto seseorang yang sedang berbagi makanan dapat menyebar ke mana-mana, sementara kebiasaan menolong tanpa kamera nyaris tidak pernah diketahui. Kita semakin akrab dengan apa yang tampak, tetapi semakin asing dengan apa yang sungguh-sungguh ada.

Di dunia kerja, di ruang politik, bahkan dalam kehidupan beragama, kecenderungan yang sama terus berulang. Orang dinilai dari seragamnya daripada kinerjanya, dari gelarnya daripada kemampuannya, dari jabatannya daripada pengabdiannya, bahkan dari penampilannya daripada akhlaknya.

Baca Juga :  Morowali Membelah Elite Republik

Tidak sedikit yang akhirnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk merawat citra daripada memperdalam isi, karena dunia tampak lebih cepat memberi penghargaan kepada apa yang terlihat daripada apa yang benar-benar bernilai.

Sejak kecil kita memang diajarkan membaca dunia melalui simbol. Lampu merah berarti berhenti, seragam menunjukkan profesi, dan ijazah menandakan seseorang pernah menempuh pendidikan.

Tanpa simbol, hidup akan jauh lebih rumit. Namun simbol hanya membantu kita mengenali. Ia tidak pernah mampu menjamin isi.

Ilmu psikologi menjelaskan bahwa manusia cenderung mengambil jalan pintas ketika menilai sesuatu. Otak menggunakan tanda-tanda yang paling mudah terlihat agar tidak perlu memeriksa semuanya dari awal. Cara ini membuat hidup lebih efisien, tetapi juga membuat kita rentan keliru.

Karena simbol bisa dipinjam. Penampilan bisa dibeli, cara berbicara bisa dipelajari, bahkan popularitas bisa direkayasa. Hanya karakter yang menolak jalan pintas; ia tumbuh perlahan melalui pilihan-pilihan yang diulang setiap hari.

Psikologi juga mengenal konsep signaling, yaitu kecenderungan manusia mengirimkan sinyal kepada orang lain tentang siapa dirinya. Pada batas tertentu, itu adalah bagian yang wajar dari kehidupan sosial.

Persoalan muncul ketika sinyal perlahan menggantikan kenyataan. Kita mulai lebih sibuk tampak rajin daripada benar-benar tekun, lebih ingin dikenal sebagai orang baik daripada sungguh-sungguh berbuat baik, dan lebih bersemangat membangun citra daripada membangun karakter.

Di sisi lain Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, menjelaskan bahwa gelar, jabatan, gaya berpakaian, bahkan cara berbicara dapat menjadi modal sosial yang memudahkan seseorang memperoleh kepercayaan. Simbol memang mampu membuka pintu, tetapi hanya isi yang membuat pintu itu tetap terbuka.

Baca Juga :  Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan

Barangkali itulah yang sedang terjadi hari ini. Kita hidup pada masa ketika citra berkembang lebih cepat daripada karakter. Kutipan tentang kejujuran lebih mudah dibagikan daripada kejujuran itu sendiri dipraktikkan. Ibadah lebih cepat hadir di kamera daripada pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun mungkin masalah terbesar kita bukanlah simbol. Simbol hanyalah akibat.

Akar persoalannya lebih dalam: manusia ingin diakui.

Pengakuan adalah kebutuhan yang wajar. Kita ingin dihargai atas kerja keras, dihormati karena kemampuan, dan diterima oleh lingkungan. Masalah muncul ketika kebutuhan akan pengakuan berubah menjadi tujuan hidup.

Sejak saat itu, “terlihat” lebih penting daripada “menjadi”, “citra” lebih berharga daripada “karakter”, dan “tepuk tangan” lebih dicari daripada “manfaat”.

Ironisnya, hampir semua kebijaksanaan besar justru mengajarkan arah yang sebaliknya. Pohon dikenal dari buahnya, ilmu dari manfaatnya, pemimpin dari pengorbanannya, dan manusia dari akhlaknya. Semuanya berbicara tentang isi, bukan simbol.

Mungkin karena itu hidup sering menjadi hakim yang jauh lebih jujur daripada manusia. Pidato hanya bergema beberapa menit, tetapi karakter dibaca setiap hari. Jabatan memiliki batas waktu, popularitas mengikuti musim, dan wajah perlahan dimakan usia. Yang bertahan jauh lebih lama adalah kejujuran, kebaikan, dan manfaat yang pernah kita tinggalkan dalam hidup orang lain.

Pada akhirnya, dunia tidak sedang kekurangan orang yang memiliki simbol. Dunia sedang merindukan lebih banyak orang yang memiliki isi.

Sebab simbol hanya membuat orang mengenali siapa kita.

Tetapi isi, membuat dunia merasa kehilangan ketika kita tiada.

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi
Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan
Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan
Dari Kultur HMI hingga Bersama Menuju Gelar Doktor : Kiprah Jumrah dan Mukhawas Mengabdi di Uniasman
Apakah Buruh Akan Menjadi Kapitalis Baru? Meluruskan Salah Paham Teori Kelas Marx
Menyerah dengan Lebih Estetik
Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital
Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:47 WITA

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:29 WITA

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:15 WITA

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:27 WITA

Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan

Jumat, 10 Juli 2026 - 14:51 WITA

Dari Kultur HMI hingga Bersama Menuju Gelar Doktor : Kiprah Jumrah dan Mukhawas Mengabdi di Uniasman

Berita Terbaru

Opini

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Jul 2026 - 13:47 WITA

Opini

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:29 WITA

Opini

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:15 WITA