Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

- Jurnalis

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspi, Akar Rumput

Selamat berhari Minggu.

Salah satu hal yang paling saya sukai ketika berkunjung ke desa tempat istri saya lahir adalah mendengarkan cerita warga di sana. Biasanya sambil menikmati kudapan, sore-sore ketika hari mulai ringan, mereka berkumpul di rumah keluarga kami dan mulai bercerita ke sana kemari. Beberapa dari cerita itu benar-benar mindblowing, bukan karena kemegahannya, tapi betapa aneh tapi nyata-nya sampai kami yang mendengarkan bergumam, “kok bisa?”

Misalnya cerita tentang satu RT yang tertipu pinjol. Berawal dari seorang makelar pinjol yang berkeliling akan meminjamkan uang kepada mereka dengan syarat foto KTP. Uangnya betulan cair, tidak seberapa, banyaknya dibawa oleh si makelar. Makelarnya raib entah kemana, keluarga si makelar menjadi buah bibir busuk tetangga. Namun, si keluarga merasa dirinya terhormat dan seringnya marah balik saat dicibir.

Atau cerita lain tentang seorang pemuda yang merantau bekerja ke kota. Lalu ibunya—yang tidak bekerja—menetapkan aturan bahwa gaji harus dikirim seluruhnya kepadanya. Si pemuda itu hanya mendapat jatah untuk bayar kontrakan dan makan. Pemuda itu kemudian jadi ogah-ogahan bekerja dan mulai mendapat teguran di sana-sini. Absurd, bekerja untuk menafkahi keluarga sebagai sandwich generation, bukannya dimuliakan malah dijadikan mesin perah.

Masih banyak cerita lain yang tak kalah absurd tapi pastilah tidak lulus sensor. Karya-karya Seno Gumira Ajidarma banyak sekali memotret hal semacam ini. Meskipun latarnya seringkali ada di kota. Cerita-cerita tokoh andalannya ‘Sukab’ juga seringkali melakoni cerita yang tak kalah absurdnya dalam cerpen-cerpen beliau.

Potret Kehidupan Absurd di Desa ala Eka Kurniawan

Eka Kurniawan banyak memotret kehidupan di desa sebagai inti ceritanya. Cerita-cerita ajaib yang ia tuliskan tidak saya pandang ajaib lagi. Mungkin karena saya bertambah umur semakin matang, saya bisa melihat apa yang ditulis oleh Eka pada dasarnya adalah kehidupan yang dekat dengan kenyataan. Alih-alih fiksi, itu adalah penceritaan kenyataan. Saya tidak lagi merasa cerita-cerita itu absurd, semakin sering saya mendengar cerita di desa, semakin saya yakin hal-hal tersebut tidaklah begitu absurd.

Baca Juga :  Ruang Sunyi di Tengah Riuh: Sebuah Refleksi Eksistensial

Misalnya, dalam kisah Lelaki Harimau, di mana seseorang bisa punya harimau di dalam dirinya dan menerkam orang yang ia benci. Hal semacam itu bisa terjadi di desa-desa di Indonesia. Tanpa bermaksud mencondongkan logika mistika, tapi kenyataannya memang ada orang yang tewas karena hal gaib. Saya pernah melihat secara langsung, dan saya mengenal orang yang tewas itu.

Dalam “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” kisah Ajo Kawir dan Iteung ini bukan main absurdnya. Setidaknya begitu ketika saya membaca bukunya pertama kali.

Masa iya, kehidupan seseorang bisa berantakan hanya persoalan gagal ereksi.

Ternyata, saya menemukan kenyataan bahwa urusan ranjang ini tidak hanya menghancurkan kehidupan rumah tangga, tapi sosial dan profesional. Saya mendengar pasangan rumah tangga berantakan karena seorang lelaki “gagal berdiri” ketika bersama istrinya. Ketika mereka mengusahakan pengobatan ke “tukang urut”, si tukang urut melihat segalanya normal, hingga ia mengusulkan satu hal yang gila. Dibiarkan si suami untuk melihat perempuan telanjang selain istrinya, dan tebak apa yang terjadi? si suami berhasil ereksi dengan normal.

Si tukang urut lantas menyampaikan bahwa masalahnya bukan pada si suami, tapi pada si istri, yang memang tidak membuat si suami menjadi ingin. Absurd!

Baca Juga :  Apakah Buruh Akan Menjadi Kapitalis Baru? Meluruskan Salah Paham Teori Kelas Marx

Karya terakhir yang saya baca—bukan karya terbaru Eka—adalah “Sumur”. Sebuah buku atau cerita pendek yang memang tipis.

Setelah selesai membacanya saya tahu bahwa kehidupan yang nyata dan bukan fiksi ini adalah absurd. Bahkan melebihi fiksi, Apa yang terjadi dan tidak muncul di televisi atau media sosial pada dasarnya adalah realita yang sesungguhnya. Realita itu kemudian terasa begitu gila karena yang dianggap normal seringkali adalah apa yang nampak di layar ponsel.

“Sumur” memberikan gambaran tentang bagaimana kehidupan orang di desa memang seperti itu. Pemuda berangkat ke kota, gagal, lalu kembali ke desa, namun semua itu tidak menambah bahagia.

Tanah mereka dicaplok pecukong atas nama pariwisata. Pohon dan lahan hilang, saat hujan besar, banjir melanda. Memang benar seperti itu. Perempuan yang dinikahi seorang lelaki, setelah beberapa waktu istri pertama si lelaki datang melabrak. Si perempuan baru sadar ia menikahi istri orang. Hal-hal semacam ini seolah hanya ada dalam buku fiksi, namun karya Eka Kurniawan seolah membawa dekat semua cerita tersebut.

Itu memang terjadi di sekitar kita, dan contohnya nyata adanya. Anda, pembaca yang budiman, pastilah pernah mendengar hal semacam itu, mengenal orang yang melakukannya, atau bahkan mengalaminya. Saya kira, apa yang ingin saya sampaikan adalah pentingnya bagi kita untuk menerima realitas sebagai suatu yang absurd. Serta penting untuk kita baik dan tidak menghakimi sebuah peristiwa karena hal-hal yang gila memang mungkin terjadi dalam hidup.

Selamat berhari Minggu.

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi
Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’
Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan
Dari Kultur HMI hingga Bersama Menuju Gelar Doktor : Kiprah Jumrah dan Mukhawas Mengabdi di Uniasman
Apakah Buruh Akan Menjadi Kapitalis Baru? Meluruskan Salah Paham Teori Kelas Marx
Menyerah dengan Lebih Estetik
Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital
Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:47 WITA

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:29 WITA

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:15 WITA

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:27 WITA

Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan

Jumat, 10 Juli 2026 - 14:51 WITA

Dari Kultur HMI hingga Bersama Menuju Gelar Doktor : Kiprah Jumrah dan Mukhawas Mengabdi di Uniasman

Berita Terbaru

Opini

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Jul 2026 - 13:47 WITA

Opini

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:29 WITA

Opini

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:15 WITA