Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan

- Jurnalis

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Widiya Ramadani, Mahasiswa Hukum UNIASMAN

“Aku berhak menentukan hidupku.” Kalimat sesederhana itu cukup untuk mengguncang bangunan yang selama berabad-abad berdiri di atas keyakinan bahwa perempuan lebih mudah diatur daripada didengarkan.

Barangkali bahkan sebelum paru-parumu menghirup udara pertama, dunia telah lebih dulu menghirup hak-hakmu. Sebelum tubuhmu mengenal hangat pelukan ibu, ia telah menjadi wilayah yang dipetakan oleh ribuan tangan asing. Kelahiranmu bukan sekadar kabar bahagia, ia adalah pembukaan sebuah pengadilan yang tak pernah benar-benar ditutup. Sejak hari itu, setiap napasmu akan dimintai alasan, setiap langkahmu akan dimintai izin, setiap luka yang kautanggung akan dianggap sebagai harga yang wajar karena kau lahir dengan nama yang salah di mata sejarah. Perempuan.

Mereka akan mengajarimu menjadi sunyi sebelum mengajarimu berbicara. Mereka akan mengajarimu menunduk sebelum mengajarimu berjalan. Mereka akan memintamu mengalah bahkan ketika tak ada yang kauperebutkan. Langkah kakimu dihitung, suaramu diukur, tawamu dipelankan, tangismu dipermalukan. Dunia mencintai perempuan yang mengecilkan dirinya hingga nyaris tak terlihat, sebab perempuan yang memenuhi ruang selalu dianggap mengganggu keseimbangan kekuasaan. Sebab itu kau dibesarkan dengan keyakinan bahwa menjadi kecil adalah kebajikan, sementara menjadi utuh adalah dosa yang harus segera ditebus.

Lalu tubuhmu mulai tumbuh, dan sejak saat itu kau kehilangan hak untuk memilikinya sepenuhnya. Kulitmu menjadi milik tatapan. Rambutmu menjadi milik tafsir. Pinggangmu menjadi milik komentar. Rahimmu menjadi milik perdebatan. Bahkan bekas lukamu pun dianggap dapat dipilih-pilih mana yang pantas dipercaya. Betapa mengerikan menjadi perempuan di dunia yang lebih percaya pada cerita tentang tubuhmu daripada suaramu sendiri.

Mereka akan mulai bertanya mengapa rokmu terlalu pendek, tetapi tak pernah bertanya mengapa mata mereka terlalu lapar. Mereka akan mempersoalkan caramu tertawa, tetapi membiarkan kebencian tumbuh tanpa rasa malu. Mereka akan sibuk mengukur panjang bajumu, sementara kekerasan yang bersembunyi di balik jas, seragam, mimbar, dan meja kekuasaan berjalan tanpa pernah diperiksa. Moral rupanya selalu lebih mudah dikenakan kepada perempuan daripada kepada mereka yang menciptakan ketakutan.

Baca Juga :  Hilal dan Hisab: Menjaga Harmoni di Balik Perbedaan Awal Ramadhan

Di sekolah kau belajar tentang kebebasan, tetapi di rumah kau belajar tentang batas. Di buku-buku tertulis semua manusia setara, tetapi di meja makan kau melihat piring perempuan selalu diisi paling akhir. Kau diajari bahwa mimpi tidak mengenal jenis kelamin, tetapi kenyataan berkali-kali membisikkan bahwa ada mimpi yang dianggap terlalu besar bila dipeluk oleh seorang perempuan. Betapa ironi tumbuh bersama pelajaran yang paling sering diulang namun paling jarang dipraktikkan.

Air matamu menjadi kelemahan. Kemarahanmu menjadi kegilaan. Keberanianmu menjadi ancaman. Kesunyianmu menjadi pengakuan. Apa pun yang kaupilih akan dipelintir menjadi kesalahan. Dunia tidak benar-benar menginginkan perempuan yang baik. Dunia hanya menginginkan perempuan yang patuh. Sebab perempuan yang berpikir adalah awal dari pertanyaan, dan setiap pertanyaan selalu membuat kekuasaan gelisah.

Mereka ingin mengatur siapa yang boleh kau cintai, bagaimana kau harus mencintai, kapan kau harus menikah, kapan kau harus melahirkan, kapan kau harus mengalah. Seakan rahim bukan bagian dari tubuhmu, melainkan properti publik yang boleh dibahas siapa saja. Seakan kebahagiaan perempuan selalu harus disahkan oleh suara orang lain sebelum boleh disebut bahagia. Jika kau memilih karier, mereka bertanya kapan menikah. Jika kau memilih keluarga, mereka bertanya mengapa tak mengejar mimpi. Jika kau memilih keduanya, mereka bertanya mengapa kau tak mampu sempurna. Dunia tak pernah benar-benar mencari jawaban; ia hanya mencari alasan untuk terus menghakimimu. Sebab bagi sebagian orang, perempuan selalu salah hanya karena berani memilih.

Dunia menyebutnya tradisi, aku menyebutnya pencurian yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ada hari-hari ketika kau akan merasa tubuhmu bukan rumah, melainkan penjara yang terus dipamerkan kepada publik. Kau belajar berjalan sambil mencurigai setiap langkah di belakangmu. Kau belajar menggenggam kunci di sela jari seolah keselamatan harus selalu dibentuk menjadi senjata. Kau belajar mengirim pesan, “Aku sudah sampai,” bukan karena itu kebiasaan, melainkan karena menjadi perempuan berarti dunia selalu menyisakan kemungkinan bahwa kau mungkin tidak pernah sampai.

Baca Juga :  Potret Buram Dunia Kerja 2025: Saat CV Hanya Menjadi Tumpukan Doa

Lalu mereka bertanya mengapa perempuan begitu waspada. Betapa ironisnya. Mereka membangun hutan penuh pemburu, lalu mengejek rusa yang berlari. Mereka menciptakan malam yang dipenuhi ancaman, lalu menertawakan perempuan yang takut pulang sendirian. Mereka melahirkan ketakutan, kemudian menyalahkan mereka yang hidup di dalamnya. Begitulah kekuasaan bekerja, menciptakan luka, lalu menuduh korban terlalu sensitif terhadap rasa sakit.

Di meja makan, di ruang kelas, di kantor, di jalanan, di parlemen, di rumah ibadah, bahkan di ruang paling pribadi sekalipun, perempuan terus diminta membuktikan bahwa dirinya layak didengar. Bayangkan betapa melelahkannya harus mempertanggungjawabkan keberadaanmu sendiri setiap hari. Bayangkan harus terus-menerus menjelaskan bahwa kau adalah manusia, bukan simbol kehormatan keluarga, bukan alat reproduksi bangsa, bukan etalase moral masyarakat.

Ketika perempuan akhirnya berkata, “Cukup,” dunia gemetar bukan karena suaranya keras, melainkan karena selama ini mereka mengira perempuan akan diam selamanya. Satu kata “tidak” dari perempuan sering kali lebih menakutkan bagi kekuasaan daripada seribu pidato para penguasa. Sebab penolakan adalah retakan pertama pada tembok yang selama berabad-abad dibangun dari kepatuhan.

Bahkan cara kau bertahan hidup pun diperdebatkan. Mereka hanya takut pada sesuatu yang memiliki daya untuk mengubah dunia. Mereka tidak akan bersusah payah membungkam perempuan jika suara perempuan tidak memiliki kekuatan untuk meruntuhkan kebohongan yang telah diwariskan terlalu lama.

Kalau nanti dunia kembali menyuruhmu mengecil, jangan lupa bahwa laut tidak pernah meminta maaf karena ombaknya. Langit tidak pernah meminta izin untuk menurunkan hujan. Gunung tidak pernah merasa bersalah karena berdiri lebih tinggi dari lembah. Dan perempuan pun tidak seharusnya meminta maaf karena memilih hidup sebagai dirinya sendiri. Segala sesuatu menjadi politik ketika kau dilahirkan sebagai perempuan, tetapi pada hari perempuan berhenti takut menjadi dirinya sendiri, politik kehilangan senjata paling tuanya. Ketakutan.

Penulis : Widiya

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Dari Kultur HMI hingga Bersama Menuju Gelar Doktor : Kiprah Jumrah dan Mukhawas Mengabdi di Uniasman
Apakah Buruh Akan Menjadi Kapitalis Baru? Meluruskan Salah Paham Teori Kelas Marx
Menyerah dengan Lebih Estetik
Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital
Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?
Romantisasi Buku di Media Sosial: Mahasiswa Membeli untuk Membaca atau Sekedar Konten?
Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?
Generasi Muda Ambil Peran dalam Pelestarian Songkok Recca
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:27 WITA

Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:23 WITA

Apakah Buruh Akan Menjadi Kapitalis Baru? Meluruskan Salah Paham Teori Kelas Marx

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:10 WITA

Menyerah dengan Lebih Estetik

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:26 WITA

Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:21 WITA

Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?

Berita Terbaru

Opini

Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan

Selasa, 14 Jul 2026 - 12:27 WITA