Membaca Dunia, Memanusiakan Manusia: Menghidupkan Kembali Gagasan Paulo Freire

- Jurnalis

Selasa, 14 Juli 2026 - 08:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Oskar Daniel, Kader HMI Komisariat Hukum Uniasman

Pendidikan seharusnya membangkitkan kesadaran, bukan mematikan rasa ingin tahu. Freire tidak percaya bahwa pendidikan cukup membuat seseorang “tahu lebih banyak”.

 

TRISAKTINEWS.COM – Bayangkan kita menjadi murid di sebuah kelas di pagi hari. Begitu bel berdentang, seorang guru berwajah datar masuk ke dalam kelas. Ia berdiri di depan papan tulis, menjelaskan tentang hukum ekonomi, revolusi industri, atau struktur sosial. Sementara para murid duduk rapi, mencatat, mengangguk, dan berusaha menghafal.

Di akhir pelajaran, seluruh murid diuji bukan dengan pertanyaan hidup, melainkan dengan soal pilihan ganda. Tak ada ruang bertanya, tak ada ruang merasa. Seolah-olah semua jawaban sudah ada sebelum pertanyaan benar-benar lahir.

Sungguh suasana kelas yang dingin dan menjemukan.

Bagi Paulo Freire, kelas semacam ini “bukan tempat belajar”, melainkan tempat menjinakkan. Ia menyebutnya sebagai pendidikan gaya bank, di mana guru menjadi teller yang menyetor “pengetahuan” ke dalam rekening kosong murid.

Ilmu dianggap benda mati yang bisa dipindah dari kepala satu ke kepala lain. Dalam sistem ini, guru selalu benar, murid hanya menerima. Tujuan utama bukan “mencipta makna”, melainkan mengejar angka. Sekolah menjadi ruang penghafalan, bukan pembebasan.

Padahal, kata Freire, pendidikan seharusnya membangkitkan kesadaran, bukan mematikan rasa ingin tahu. Ia tidak percaya bahwa pendidikan cukup membuat seseorang “tahu lebih banyak”. Pendidikan sejati justru terjadi saat seseorang mulai menyadari mengapa sesuatu terjadi, siapa yang mengambil manfaat, dan bagaimana mengubahnya.

Pendidikan Kaum Tertindas

Dalam tulisannya berjudul Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan kaum tertindas) yang terbit tahun 1970, Paulo Freire menjelaskan bahwa pendidikan tidak pernah benar-benar netral. Pendidikan dapat menjadi alat untuk mempertahankan ketimpangan atau menjadi sarana membebaskan manusia dari penindasan.

Freire mengkritik model pendidikan yang ia sebut banking education, yaitu ketika guru hanya “menyetor” pengetahuan kepada murid yang diperlakukan sebagai penerima pasif. Menurutnya, cara ini menghasilkan orang yang pandai menghafal, tetapi kurang mampu berpikir kritis terhadap realitas sosial.

Baca Juga :  Morowali Membelah Elite Republik

Sebagai alternatif, Freire menawarkan pendidikan yang dialogis, di mana guru dan murid sama-sama belajar melalui dialog, refleksi, dan pemecahan masalah nyata. Tujuan akhirnya adalah membangun kesadaran kritis (conscientizacao), yaitu kemampuan memahami akar persoalan sosial sekaligus bertindak untuk mengubahnya.

Bagi Freire, pendidikan sejati bukan sekadar memindahkan pengetahuan, melainkan memanusiakan manusia dengan menumbuhkan keberanian untuk berpikir, berdialog, dan menciptakan perubahan.

Belajar bukan sekadar membaca buku, melainkan membaca dunia. Anak-anak tidak hanya perlu tahu apa itu “kemiskinan”, tetapi juga mengerti mengapa mereka miskin, siapa yang memperkaya diri dari kemiskinan mereka, dan apa yang bisa dilakukan untuk membebaskan diri dari struktur itu.

Kesadaran, menurut Freire, bertumbuh dalam tiga tahap. Pertama, kesadaran magis: ketika orang menganggap hidup sebagai nasib. Kemiskinan dianggap takdir, dan dunia diterima apa adanya. Kedua, kesadaran naif: saat mulai terlihat adanya ketidakadilan, tapi masih menyalahkan individu misalnya orang miskin dianggap malas, bukan korban sistem. Dan ketiga, kesadaran kritis: ketika seseorang mulai melihat bahwa realitas terbentuk oleh struktur sosial-politik yang bisa dan perlu diubah bersama.

Freire tidak percaya pada pendidikan satu arah. Ia menolak model guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Baginya, pendidikan harus dibangun lewat dialog, bukan dikte. Guru bukan hakim, tapi sahabat berpikir. Murid bukan objek, tapi subjek. Belajar bukan upaya mengisi kepala, tapi menghidupkan keberanian untuk bertanya.

Mari mencontoh Flores

Di sebuah sekolah di Flores, Nusa Tenggara Timur, anak-anak tidak hanya diajarkan membaca dan berhitung. Mereka diajak membaca lingkungan sekitar: warung, pasar, spanduk, jalanan. Guru bertanya, “Apa arti kata ‘murah’ di warung ini? Murah bagi siapa?”

Dari sana, lahirlah diskusi tentang harga, keadilan, dan harapan. Anak-anak belajar membaca bukan untuk lulus ujian, tetapi untuk memahami hidup.

Baca Juga :  Abdul Makis Kembali Terpilih sebagai Ketua PGRI Lappariaja

Di sekolah lain, siswa memilih proyek belajar berdasarkan isu sekitar mereka: tentang banjir yang datang tiap musim hujan, atau tentang temannya yang berhenti sekolah karena harus bekerja. Mereka membuat survei, wawancara, menulis laporan, dan menyampaikan temuannya ke warga. Proses ini tidak hanya menumbuhkan keberanian berpikir, tetapi juga rasa tanggung jawab sosial.

Freire percaya, bahwa pertanyaan lebih penting dari jawaban. Maka daripada bertanya, “Siapa penemu listrik?”, ia mendorong kita bertanya, “Apa yang terjadi jika listrik hanya dinikmati oleh segelintir orang? Apa dampaknya bagi masyarakat bawah?” Pertanyaan semacam ini mengundang murid tidak hanya mengingat, tapi merenung.

Pendidikan yang dibayangkan Freire bukan ruang yang sunyi dan steril. Tapi ruang yang riuh oleh rasa, pikir, dan tangis. Ruang yang bersedia mendengar suara-suara yang tak pernah masuk kurikulum: suara orang miskin, suara anak yang lelah, suara masyarakat yang menunggu perubahan.

Cara berpikir yang membebaskan

Nah, jika kita menjadi guru, mungkin yang bisa dimulai untuk memperbaiki carut-marut dunia pendidikan adalah mengganti kalimat “Apa jawabannya?” dengan “Apa pendapatmu?”.

Jika kita murid, kita bisa mulai bertanya: “Apa hubungannya pelajaran ini dengan hidupku?” Dan jika kita warga yang peduli, kita bisa menjadikan realita sekitar sebagai bahan belajar karena tak ada buku yang lebih jujur daripada pengalaman bersama.

Paulo Freire tidak memberikan metode instan. Ia tidak menjanjikan kurikulum ajaib. Tapi ia mewariskan sesuatu yang jauh lebih penting: “cara berpikir yang membebaskan”. Cara melihat pendidikan bukan sebagai tempat mencetak produk, tapi sebagai ladang menyemai manusia.

Dan di ladang itu, semua orang bisa tumbuh asalkan diberi ruang untuk bertanya, untuk merasa, dan untuk bermimpi. Begitulah mimpi Freire hingga berpulang di tahun 1997.

Penulis : oskar

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Pentas Seni Gabungan PAUD Bone Jadi Ajang Tumbuhkan Kreativitas dan Karakter Anak
KEPMI Bone Latenriruwa Audiensi DPRD Sulsel, Bahas Kaderisasi Hingga Kejahatan Terorganisir
SDN 263 Awangtangka Laksanakan Asesmen Sumatif, Bekal Siswa Menuju Jenjang Berikutnya
Hasil Lengkap Pilkades Antarwaktu 2026 di Wilayah Bone, Ini Daftar Nama Terpilih
BINUS University dan IAI Rawa Aopa Teken LoI, Perkuat Kolaborasi Riset dan Transfer Teknologi
Tak Ada Lagi Antrean Panjang, SPBU di Luwu Utara Jual BBM Secara Normal
Resmi Dilindungi Merek Kelas 41, Krida SH Terate Piala Gubernur Jateng Cup 3 Punya Landasan Hukum Kuat
SD Inpres 5/81 Ponre-Ponre Konsisten Bina Bakat Murid, Fakhri Raih Man of The Match Liga Pelajar
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 08:57 WITA

Membaca Dunia, Memanusiakan Manusia: Menghidupkan Kembali Gagasan Paulo Freire

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:21 WITA

Pentas Seni Gabungan PAUD Bone Jadi Ajang Tumbuhkan Kreativitas dan Karakter Anak

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:51 WITA

KEPMI Bone Latenriruwa Audiensi DPRD Sulsel, Bahas Kaderisasi Hingga Kejahatan Terorganisir

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:46 WITA

SDN 263 Awangtangka Laksanakan Asesmen Sumatif, Bekal Siswa Menuju Jenjang Berikutnya

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:30 WITA

Hasil Lengkap Pilkades Antarwaktu 2026 di Wilayah Bone, Ini Daftar Nama Terpilih

Berita Terbaru