Hilal dan Hisab: Menjaga Harmoni di Balik Perbedaan Awal Ramadhan

- Jurnalis

Jumat, 20 Februari 2026 - 15:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ismail Suardi Wekke (Cendekiawan Muslim)

TRISAKTINEWS.COM — Penentuan awal Ramadhan selalu menjadi momen yang dinantikan sekaligus menjadi ruang percakapan warga di Indonesia. Perbedaan hari memulai puasa bukanlah fenomena baru dalam khazanah dunia Islam.

Fenomena ini muncul karena adanya keragaman metode ataupun tolok ukur dalam menafsirkan tanda-tanda alam. Secara saintifik dan syariat, terdapat dua jalan utama yang digunakan umat Muslim.

Dua metode tersebut adalah Rukyatul Hilal dan Hisab Hakiki. Rukyat mengandalkan pengamatan mata telanjang atau bantuan teleskop untuk melihat bulan sabit muda. Sementara itu, Hisab menggunakan perhitungan astronomis yang sangat presisi untuk menentukan posisi bulan. Keduanya memiliki landasan kuat dalam sejarah keilmuan Islam.

Akar perbedaan ini terletak pada kriteria visibilitas hilal atau ambang batas ketinggian bulan. Pemerintah Indonesia melalui Kemenag biasanya menggunakan kriteria yang ditetapkan bersama Menteri Agama di Asia Tenggara yang mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat.

Di sisi lain, ada kalangan masyarakat Indonesia yang menggunakan metode Wujudul Hilal atau sekarang dengan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KGHT). Metode ini menganggap bulan sudah masuk asal posisinya sudah berada di atas ufuk.
Perbedaan angka derajat inilah yang sering menyebabkan selisih satu hari dalam kalender masehi. Secara astronomis, posisi bulan pada titik kritis sangat sulit diamati jika cuaca mendung atau berawan.

Baca Juga :  Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?

Faktor geografis dan lokasi pengamatan juga sangat memengaruhi keberhasilan rukyat di lapangan. Hal ini menjadikan data sains sebagai pendukung vital bagi kesaksian para perukyat.

Dunia Islam global pun tidak memiliki satu suara tunggal dalam hal ini. Arab Saudi sering kali menjadi acuan bagi sebagian kelompok karena posisi geografisnya di barat Indonesia. Namun, secara ilmu falak, posisi bulan di satu wilayah tidak bisa dipaksakan berlaku untuk wilayah yang sangat jauh. Inilah yang dalam kajian fikih disebut sebagai konsep Matla’ atau batas wilayah keberlakuan hilal.

Perkembangan teknologi digital kini memudahkan masyarakat memantau pergerakan benda langit secara real-time. Aplikasi astronomi modern mampu memprediksi posisi bulan hingga puluhan tahun ke depan dengan akurasi tinggi. Digital Humanities dan teknologi observasi modern membantu menjembatani celah antara teks agama dan realitas alam. Ilmu pengetahuan hadir bukan untuk menggantikan iman, melainkan memperkuat keyakinan.

Keragaman dalam menentukan awal Ramadan sebenarnya mencerminkan kekayaan intelektual Islam. Para ulama terdahulu sudah mendiskusikan perbedaan ini dengan penuh rasa hormat.

Tidak ada satu metode yang dianggap lebih suci dari metode lainnya selama memiliki landasan ilmiah. Sikap saling menghargai menjadi kunci utama dalam menjaga ukhuwah islamiyah di tengah perbedaan.

Baca Juga :  Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Pemerintah Indonesia sendiri terus berupaya melakukan unifikasi atau penyatuan kalender Hijriah. Sidang Isbat menjadi ruang dialog antara ahli astronomi, perwakilan ormas, dan pakar hukum Islam.

Proses ini merupakan bentuk ijtihad kolektif untuk mencari titik temu yang maslahat bagi orang banyak. Tujuannya adalah meminimalisir kebingungan di tingkat kalangan luas.

Perlu bagi kita untuk memahami bahwa puasa adalah ibadah personal sekaligus sosial. Jika terjadi perbedaan, seorang Muslim diperbolehkan mengikuti keyakinan komunitas atau keputusan otoritas yang ia percayai.
Esensi Ramadhan diiringi dengan memahami bagaimana menentukan Ramadhan. Dimulai dengan niat. Kemudian diteruskan dengan fokus utama tetaplah pada peningkatan kualitas spiritual dan kesalehan sosial.

Sebagai penutup, perbedaan awal Ramadhan adalah pelajaran tentang kerendahan hati dalam berilmu. Langit yang luas memberikan ruang bagi berbagai sudut pandang manusia untuk memahami keagungan Pencipta.
Mari kita sambut Ramadan dengan hati yang tetap gembira sekalipun akan berbeda dengan yang lain, dan semangat kebersamaan. Perbedaan kriteria hanyalah teknis, namun tujuan meraih takwa tetaplah satu.

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi
Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’
Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan
HIMATER UNIM Bone dan HIMAPTEK UMSI Gelar Abdi Desa, Ajarkan Ini Untuk Masyarakat Padatuo
Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Satbrimob Sulsel Gelar Kejuaraan Menembak Kapolda Cup XI
Mahasiswa KKN Unhas Luncurkan “Bulucenrana Smart Village Center”, Dorong Transformasi Desa Berbasis Digital
Pemkab Bone Salurkan Seragam Sekolah Gratis, Kepala SDN 187 Tompobulu: Terima Kasih Pemerintahan Beramal
Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:47 WITA

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:29 WITA

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:15 WITA

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Minggu, 19 Juli 2026 - 07:25 WITA

HIMATER UNIM Bone dan HIMAPTEK UMSI Gelar Abdi Desa, Ajarkan Ini Untuk Masyarakat Padatuo

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:15 WITA

Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Satbrimob Sulsel Gelar Kejuaraan Menembak Kapolda Cup XI

Berita Terbaru

Opini

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Jul 2026 - 13:47 WITA

Opini

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:29 WITA

Opini

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:15 WITA