Ketika Negara dan Pasar Merampas Dongeng Pengantar Tidur

- Jurnalis

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 15:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh:Aspi, Akar Rumput

Kemewahan untuk membacakan buku sebelum tidur yang memicu dialog, merangsang rasa ingin tahu, dan membangun ikatan emosional adalah kunci.

TRISAKTINEWS.COM – Semoga ini tidak merusak estetika ngopi pagi Anda. Saya merasa inilah yang lebih pahit dari kopi pagi tanpa gula: sekolah adalah mesin sortir raksasa yang memastikan anak-anak elite tetap berada di puncak rantai makanan. Rancangannya tidak untuk menjadi jalan menyetarakan nasib manusia.

Narasi manis bahwa pendidikan adalah tiket menuju mobilitas sosial, arena meritokratis di mana siapa pun yang rajin belajar akan sukses, tampaknya jauh panggang dari api. Fakta di lapangan menampar wajah kita dengan realitas yang jauh lebih absurd.

Laporan dari OECD pada Mei 2026 bertajuk “Building Strong Foundations for Life” menyajikan pemandangan statistik yang akan bikin Anda tertawa getir. Data tersebut membedah kondisi kognitif, literasi dasar, dan kesejahteraan emosional anak-anak usia lima tahun di berbagai belahan dunia.

Laporan ini hasil dari International Early Learning and Child Well-being Study (IELS) 2025. Kesimpulannya terdengar seperti vonis hukuman mati bagi mitos kesetaraan: fondasi kehidupan manusia, dengan segala potensi keberhasilan maupun kegagalannya, telah terbentuk pada usia balita.

Dengan dingin mereka membuktikan bahwa kesenjangan skor literasi dan numerasi antara balita dari keluarga berpenghasilan tinggi dan keluarga pra-sejahtera bukan selisih angka di atas kertas. Ini sebuah jurang peradaban.

“For children aged 5 and under, books outperform screens when it comes to learning. Among a range of home learning activities on which IELS collected information, reading to children from a book shows the strongest associations with children’s outcomes in several domains.”

Anak-anak yang tumbuh di rumah, di mana orang tua mereka memiliki kemewahan waktu untuk membacakan buku sebelum tidur—yang memicu dialog, merangsang rasa ingin tahu, dan membangun ikatan emosional—meluncur bak roket meninggalkan rekan-rekan sebaya mereka.

Sebaliknya, anak-anak yang ditinggalkan bersama layar gawai yang menyala karena orang tuanya kehabisan napas dan tenaga setelah bekerja belasan jam sehari, terperosok ke dalam stagnasi perkembangan saraf yang mengerikan.

Di titik inilah kita dihadapkan pada kelucuan paling tragis dari masyarakat modern. Masyarakat dengan mudah menghakimi orang tua malas atau tidak peduli, lalu menuding gawai sebagai kambing hitam absolut atas “kebodohan” generasi baru. Padahal gawai bukanlah penjahat utamanya.

Gawai hanyalah obat bius murah yang disodorkan sistem kepada para orang tua yang diperas tenaganya hingga tetes terakhir. Ini bukan semata soal gawai, atau buku yang harus disediakan. Tapi waktu bagi orang tuanya.

Orang tua yang harus berangkat saat matahari belum terbit dan pulang saat anak sudah tertidur pulas tidak memiliki “kemewahan” untuk membacakan dongeng Kancil dan Buaya sebelum anak tidur dengan intonasi teatrikal.

Baca Juga :  Ironi Demonstrasi: Antara Urusan Perut Rakyat dan Panggung Politik Aktivis

Data BPS (2025) menunjukkan bahwa 58% kelas menengah Indonesia berada dalam kondisi rapuh, dan laporan Sakernas 2025 mencatat banyak pekerja Indonesia bekerja melampaui jam kerja yang normal.

Kemiskinan ekstrem era ini adalah “kemiskinan waktu”. Waktu telah dirampas, dikomodifikasi, dan dimonopoli oleh mereka yang duduk manis menerima dividen, sementara kelas pekerja harus terus berputar seperti hamster di atas roda penderitaan murni demi bertahan hidup.

Data OECD ini bukan hanya soal statistik menyedihkan tentang balita. Ia adalah bukti awal dari apa yang akan terjadi lima tahun kemudian, ketika anak-anak ini memasuki gerbang sekolah. Di sinilah teori Louis Althusser menjadi relevan, lewat Ideological State Apparatus.

Apa yang Althusser gambarkan sebagai ‘mesin penyortir’ di sekolah, sejatinya hanyalah tahap kedua dari proses panjang. Sekolah tidak menciptakan kesenjangan dari nol; ia melegitimasi dan memperdalam kesenjangan yang sudah terbentuk di rumah.

Anak yang datang dengan defisit kosa kata akan dihakimi oleh kurikulum sebagai ‘bodoh’, sementara anak yang datang dengan modal kultural akan dielu-elukan sebagai ‘berbakat’. Ini seperti sebuah “Sistem Operasi (OS) Bawaan Pabrik” yang diam-diam di-instal ke dalam otak kita sejak lahir.

Althusser berargumen bahwa negara dan sistem kapitalis tidak hanya mengandalkan polisi atau penjara (aparatus represif) untuk mengontrol masyarakat, tetapi secara dominan menggunakan sekolah, agama, dan media (aparatus ideologis) untuk menanamkan kepatuhan tanpa disadari.

Sekolah sejatinya tidak dirancang untuk mengajarkan anak-anak kelas pekerja bagaimana cara berpikir kritis dan menggulingkan sistem yang menindas mereka. Sekolah beroperasi sebagai pabrik pencetak sekrup-sekrup patuh yang siap dipasang ke dalam mesin industri.

Ketika anak dari keluarga kaya masuk sekolah, mereka sudah membawa “OS” yang kompatibel dengan bahasa, budaya, dan ekspektasi kurikulum formal. Mereka terbiasa berargumen secara sopan di meja makan, sehingga saat berpendapat di kelas, guru mencap mereka “kritis dan berbakat”.

Sebaliknya, ketika anak miskin yang terbiasa menggunakan bahasa jalanan yang lugas untuk bertahan hidup mencoba berekspresi, sistem secara otomatis melabeli mereka sebagai anak yang “kasar, lambat, atau bermasalah”.

Sekolah, bukannya menyetarakan perbedaan garis start yang dijalani anak seperti digambarkan OECD, bertindak layaknya algoritma penjaga gerbang yang hanya akan memberikan jalan bagi mereka yang sejak awal sudah memiliki modal kultural yang selaras dengan selera penguasa.

Menghadapi arena yang timpang di sekolah pasca balita, kelas pekerja berupaya mengubah masa balita anak-anak mereka menjadi semacam hunger games versi taman kanak-kanak atau miniatur kamp latihan dasar militer.

Balita yang masih mengompol dan belum fasih melafalkan huruf ‘R’ sudah dijejali dengan kursus bahasa Inggris intensif, atau kelas koding tingkat pemula, agar kelak menjadi dewa startup. Terapi mindfulness digadang seolah-olah balita tersebut sedang mengalami krisis eksistensial paruh baya.

Baca Juga :  Ramadan Dalam Solidaritas Masyarakat

Para influencer parenting bergaya hidup minimalis estetis di media sosial rajin mempromosikan mainan kayu Montessori seharga gaji UMR sebulan. Seolah meyakinkan jutaan orang tua yang insecure bahwa tanpa mainan tersebut, anak mereka akan berakhir menjadi gelandangan.

Kepanikan ini adalah bukti nyata dari keberhasilan aparatus ideologi kapitalis: kita dibuat percaya bahwa jalan keluar dari ketimpangan sistemik adalah dengan membeli lebih banyak barang dan menginjeksi lebih banyak beban kepada anak-anak secara individual.

Kita lupa, atau sengaja dibuat lupa, bahwa setumpuk mainan edukatif paling mahal di dunia tidak akan pernah bisa menggantikan signifikansi neurologis dari kehadiran, sentuhan, dan percakapan tanpa gangguan antara seorang manusia dewasa dan anak yang sedang berkembang.

Lalu, apakah kita harus menyerah dan pasrah pada skenario doomscrolling ini, menunggu hingga sistem ini runtuh dengan sendirinya? Resolusi dari krisis fundamental ini menuntut kebijakan radikal yang membongkar kerangka kerja ekonomi dan pendidikan kita dari akar-akarnya.

Bukan sekadar permainan kata dalam beleid peraturan.

Sungguh ironis karena hingga hari ini hanya sekitar 3% PAUD di Indonesia berstatus negeri, sementara 97% sisanya dikelola swasta. Ini menunjukkan negara masih absen dalam menyediakan layanan dasar. Pun menjadikan PAUD tingkat pendidikan wajib tidaklah cukup.

Riset OECD menegaskan bahwa tidak ada lembaga pendidikan, secanggih apa pun itu, yang bisa menggantikan peran interaksi langsung dan penuh antara orang tua dan anak. Bilapun PAUD jadi solusi, targetnya harus pula menyasar orang tua, agar dapat berinteraksi dengan anak secara tepat.

Selama mesin kapitalisme dibiarkan memeras waktu kelas pekerja, keluarga tidak akan pernah memiliki ruang untuk bernapas. Maka pengurangan jam kerja secara masif yang tidak diiringi oleh pemotongan upah kelayakan minimum harus ditetapkan sebagai harga mati.

Cuti berbayar bagi ayah dan ibu dalam durasi yang manusiawi harus direbut dan diinstitusionalisasikan. Langkah-langkah radikal ini bukanlah tuntutan romantis dari sekelompok penganut utopia; ini prasyarat biologis agar para pekerja dapat kembali menjadi manusia dan menjadi orang tua.

Agar mereka memiliki sisa kewarasan dan cadangan energi murni di penghujung hari untuk memangku anak-anak mereka. Membuka lembaran buku cerita, dan merajut kembali arsitektur saraf masa depan peradaban ini melalui dongeng-dongeng pengantar tidur.

Semoga pahitnya sisa kopi masih bisa Anda toleransi. Kepahitan yang hakiki, dari generasi yang tumbuh tanpa suara orang tua di telinganya, akan terasa dampaknya sepuluh atau dua puluh tahun sejak hari ini.

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Simfoni Perjuangan di Luar Jangkauan
URI dan Jebakan Pembentukan Wadah Baru
Menagih Jam Kerja Sejak Motor Dinyalakan
Ketika Kerja Keras Kalah oleh Garis Keturunan
Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi
Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’
Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan
Sebab Perempuan yang Berpikir Adalah Pertanyaan

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 15:16 WITA

Simfoni Perjuangan di Luar Jangkauan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 15:00 WITA

Ketika Negara dan Pasar Merampas Dongeng Pengantar Tidur

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:58 WITA

URI dan Jebakan Pembentukan Wadah Baru

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:28 WITA

Menagih Jam Kerja Sejak Motor Dinyalakan

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:55 WITA

Ketika Kerja Keras Kalah oleh Garis Keturunan

Berita Terbaru

Opini

Simfoni Perjuangan di Luar Jangkauan

Sabtu, 15 Agu 2026 - 15:16 WITA

Opini

Ketika Negara dan Pasar Merampas Dongeng Pengantar Tidur

Sabtu, 15 Agu 2026 - 15:00 WITA