Botol yang Melayang Tidak Merobohkan Barikade, Ia Merobohkan Narasi

- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026 - 18:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspi, Akar Rumput

TRISAKTINEWS.COM, — Saya termangu pada sebuah botol air mineral yang melayang di Jalan Sudirman, Jumat malam 12 Juni 2026. Benda seharga Rp3.000-an itu seolah lebih mudah melakukan sesuatu yang sulit ditembus lima tuntutan ekonomi-politik hasil rumusan selama berhari-hari: menjadi headline di akar rumput. Dan yang lebih bikin nyeri, botol bukan hanya membajak narasi aksi 12 Juni secara kebetulan. Ia adalah slot yang sudah tersedia di template liputan demo Indonesia—seolah redaksi sudah tahu akan ada botol, fotografer sudah siap mengabadikannya, editor sudah punya judulnya sebelum demo selesai. Padahal aksi 12 Juni tidak asal jalan. BEM UI bersama koalisi kampus lain datang dengan tajuk “Menuju Indonesia Bangkrut”. Argumen yang tidak kaleng-kaleng, mencerminkan situasi kita hari-hari belakangan ini.KTINEWS, — Botol yang melayang itu tidak merobohkan barikade. Ia merobohkan narasi.

Saya termangu pada sebuah botol air mineral yang melayang di Jalan Sudirman, Jumat malam 12 Juni 2026. Benda seharga Rp3.000-an itu seolah lebih mudah melakukan sesuatu yang sulit ditembus lima tuntutan ekonomi-politik hasil rumusan selama berhari-hari: menjadi headline di akar rumput. Dan yang lebih bikin nyeri, botol bukan hanya membajak narasi aksi 12 Juni secara kebetulan. Ia adalah slot yang sudah tersedia di template liputan demo Indonesia—seolah redaksi sudah tahu akan ada botol, fotografer sudah siap mengabadikannya, editor sudah punya judulnya sebelum demo selesai. Padahal aksi 12 Juni tidak asal jalan. BEM UI bersama koalisi kampus lain datang dengan tajuk “Menuju Indonesia Bangkrut”. Argumen yang tidak kaleng-kaleng, mencerminkan situasi kita hari-hari belakangan ini.

Harga Pertamax melonjak 32 persen yang diumumkan sehari sebelum efektif, rupiah parkir di Rp17.984 per dolar AS, korupsi di Badan Gizi Nasional menggerogoti program makan-makan, eh, bergizi gratis senilai Rp268 triliun, dan TNI mulai kelihatan di mana-mana padahal perangnya di Timur Tengah. Lima tuntutan itu dirumuskan lewat konsolidasi panjang, bukan impuls belaka. Tapi yang viral bukan isu konsolidasi. Yang viral adalah video pendek: massa menyerang barikade besi, aparat dengan tameng, dan botol-botol air mineral yang terbang dengan gagah berani ke arah yang salah.

Tan Malaka punya nama untuk momen seperti ini. Dalam Aksi Massa yang ia tulis di Singapura pada 1926, ia menyebut bahaya dari apa yang disebutnya putch; “satu aksi segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak.”

Putch bukan soal pemberontakan bersenjata; ia adalah logika yang bisa muncul setiap saat, ketika sekelompok massa bertindak di luar kendali kolektif dan akibatnya selalu sama: gerakan tampak seperti segerombolan, bukan representasi rakyat. Alhasil, botol yang melayang itu tidak merobohkan barikade. Ia merobohkan narasi. Di sinilah masalah sesungguhnya bermula—dan saya menduga sebabnya lewat sebuah teori dari lima dekade lalu tapi terasa seperti ditulis di era TikTok: agenda-setting. Rumusan Maxwell McCombs dan Donald Shaw pada 1972.

Temuannya sederhana: media massa tidak bisa mendikte apa yang kita pikirkan, tapi efektif mendikte apa yang kita pikirkan tentang “sesuatu”. Perbedaan itu terdengar sepele secara gramatikal tapi brutal secara politis. Ketika media membesarkan insiden barikade dibanding isi tuntutan, bukan berarti mereka berbohong—insiden itu memang terjadi. Tapi menjadikannya kepala berita, mereka mencetak peta kognitif bagi jutaan pembaca saat aksi hari itu: “isu hari ini adalah kerusuhan”.

Baca Juga :  Sidak Kantor Bapenda Bone, Wabup Andi Akmal Temukan Ini

Efek agenda-setting tidak bekerja seperti propaganda kasar yang menyuruh orang percaya sesuatu. Ia bekerja seperti menu restoran: Anda bebas pesan apa saja, tapi hanya dari daftar yang sudah disusun chef. Polisi Polda Metro Jaya bahkan ikut menyuplai menu tambahan dengan mengumumkan “sekelompok penyusup yang hendak memprovokasi demonstran”. Atau politisi yang mengklaim mahasiswa dan Prabowo punya semangat sama dalam perbaikan tata kelola ekonomi—pernyataan yang dengan cerdik dirancang untuk menguasai panggung.

Saat aksi berlangsung, redaksi beralih ke live update, dan live update butuh peristiwa, bukan argumen. Agenda pun berpindah tangan. Pola ini begitu efektif tanpa konspirasi. Tidak perlu ada perintah dari atas ke bawah. Media hanya mengikuti gravitasi kliknya sendiri. Hasilnya bisa diramalkan. Di tengah masyarakat akar rumput—pedagang warung, buruh, ibu-ibu yang pake Pertalite—narasi yang sampai adalah “mahasiswa rusuh di Jakarta.” Bukan “mahasiswa menuntut pemerintah menghentikan MBG” atau “mahasiswa kecam pelemahan rupiah.”

Tapi jangan salah sangka, ini bukan tentang kegagalan aksi, gagalnya gerakan mahasiswa, atau kejahatan media. Kita kini berada di tengah medan tempur kognitif (cognitive warfare). Kita harus melawan, meski caranya tidak seksi. Misalnya memisahkan dua mode komunikasi yang tercampur: komunikasi mobilisasi dan komunikasi konten. Aksi massa adalah mesin mobilisasi yang luar biasa—ia menghasilkan gambar, energi, dan liputan. Tapi buruk sebagai mesin pengirim pesan substantif ke akar rumput. Begitu terjadi insiden sekecil apapun, substansi tenggelam. Pesannya perlu beredar sebelum aksi, bukan bersamaan dengan aksi. Video pendek berisi “Kenapa harga Pertamax naik ini tentang Anda, meski pakai Pertalite” yang disebar beberapa hari sebelum aksi akan lebih nendang.

Cara lainnya adalah menggeser titik tekan distribusi dari media nasional ke jaringan komunitas. Warteg, masjid, pos kamling, dan grup WhatsApp ibu-ibu arisan atau PKK adalah infrastruktur komunikasi akar rumput yang perlu dilirik sebagai kanal gerakan. Merlyna Lim dalam “Clicks, Cabs, and Coffee Houses,” di Journal of Communication 62(2) (2012:231–248) menuliskan Arab Spring di Mesir: aktivis sebar 20 ribu selebaran lewat supir taksi. “Taxi drivers were as important as Facebook in spreading the word to potential demonstrators,” tulis Lim.

Selembar kertas sederhana—atau versi infografis digital di layar ponsel 6 inci—yang menjelaskan “harga beras naik karena ini harusnya diatasi dengan itu” bisa membentuk pemahaman yang lebih tahan lama selain trending topic yang mudah hilang dalam 24 jam disapu gelombang cuitan buzzerp. Menyangkut cara gerakan mahasiswa membangun narasi jangka panjang, ada pelajaran konkret yang bisa diambil dari sejarah gerakan, termasuk dari Tan Malaka; kekuatan demonstrasi terletak pada momen ketika “semboyan dan tuntutan sungguh diteriakkan oleh massa” sehingga ia menjadi “gelombang hebat, yang makin lama semakin deras.”

Kata kuncinya bukan hanya pada jumlah massa, tapi pada semboyan yang bisa diteriakkan—ringkas, diulang, menular. Pada September 2019, mahasiswa yang menolak revisi UU KPK dan RKUHP membuktikan ini: mereka menciptakan satu frasa sederhana: #ReformasiDikorupsi.

Baca Juga :  Sejauh Mana Negara Mampu Menghentikan Krisis Ekologis?

Tagar itu merangkum puluhan pasal bermasalah menjadi sebuah tuduhan yang mudah diingat, mudah diucapkan, dan mudah disebarkan bahkan oleh orang yang tidak pernah membaca satu pun draf UU-nya. Ia muncul di spanduk, story Instagram, kaos sablon pinggir jalan, dan mampu bertahan hidup jauh melampaui satu hari aksi. Inilah gambaran meme bekerja. Meme (dibaca: mim) bukan sekadar tentang gambar atau video lucu. Ia adalah virus akal budi, kepingan kecil gagasan yang sangat menular. Richard Brodie, dalam Virus of the Mind (1996), menjelaskan mekanismenya yang bisa dipelajari.

Meme bukan sekadar ide yang beredar—ia unit gagasan yang begitu lahir, “gains a life independent of its creator and evolves quickly to infect as many people as possible.” Meski, tidak semua meme punya daya tular yang sama. Brodie menemukan bahwa “memes involving danger are the ones we pay attention to”—otak kita terprogram secara evolusioner untuk mengamplifikasi bahaya lebih dari informasi lain. Seperti #ReformasiDikorupsi yang memuat krisis (reformasi sedang dirusak) dan menyiratkan ada pelaku di baliknya.

Bayangkan bila diubah menjadi #ReformasiMati. Mungkin gambaran besarnya sama, rimanya ada, tapi tanpa awalan di- yang menyiratkan kesengajaan. #ReformasiDibunuh maknanya bisa lebih dekat, tapi kurang berima.

Aksi 12 Juni 2026 punya “Menuju Indonesia Bangkrut” yang kuat, sudah membawa krisis, tapi perlu menunjuk bahaya spesifik dan pelaku yang jelas: apa yang raib dari meja makan kita besok dan semua ini ada dalangnya. Tanpa itu, meme-nya berhenti di spanduk. Ia tidak bermigrasi ke dapur. Agar bisa sampai ke dapur, meme gerakan perlu mengubah “Pemborosan APBN” menjadi “uang sekolah anakmu yang dihambur-hamburkan.” Bukan “rupiah melemah” tapi “uang belanja yang sama dengan minggu lalu, menghasilkan keranjang kosong hari ini.”

Brodie menunjukkan bahwa otak manusia terprogram mengamplifikasi bahaya yang terasa dekat dan konkret—yang tidak butuh tiga langkah deduksi untuk sampai ke kehidupan sehari-hari. Saya tidak bermaksud menyederhanakan, apalagi mengecilkan gerakan. Gerakan selalu bekerja di bawah tekanan waktu, sumber daya, dan ketegangan internal yang tidak pernah kelihatan dari luar. Merumuskan lima tuntutan itu sendiri sudah merupakan kerja keras. Tapi pesan bisa diasah: dari lima tuntutan menjadi satu frasa yang cukup tajam agar dengan satu-dua sabetan meninggalkan “bekas luka” yang dalam. Cukup tajam untuk tinggal di kepala, cukup dekat untuk terasa di dapur.

Botol air mineral di Sudirman itu tidak melayang karena seseorang ingin merusak aksi. Ia melayang karena frustrasi. Frustrasi yang sama yang mendorong ribuan orang turun ke jalan di tengah panasnya aspal jalan. Frustrasi itu perlu dikemas dalam bahasa yang bisa dipahami penggoreng tempe di dapur, agar kita bisa satu frekuensi. Bukan jadi headline: “Demo Ricuh, Massa Lempar Botol ke Aparat.” Bila berita itu yang terus-terusan muncul, saat aksi berikutnya—ketika warga menonton beritanya—akan berpikir demonstrasi adalah urusan anak-anak kampus yang tidak ada hubungannya dengan harga tempe di pasar.

Padahal semua ini justru tentang harga tempe.

Penulis : Aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Reformasi Jilid II: Ketika Demokrasi Kehilangan Daya Ubah
Ironi Demonstrasi: Antara Urusan Perut Rakyat dan Panggung Politik Aktivis
Manusia-Manusia Jam Lima Sore
Rakyat Bertanya, DPRD Bone di Mana? WIB Soroti BBM Subsidi, Tambang Ilegal Hingga UHC Non Cut Off
Dana CSR di Bone Mengalir ke Mana? WIB Desak DPRD Gelar RDPU
Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden: Jalan Perjuangan Baru atau Kooptasi Gerakan Buruh?
Gimik “Mas Bahlil Ganteng” dan Taktik Kekuasaan Menjinakkan Daya Kritis
Kemunafikan Ekologis: Menjual Narasi Hijau di Hilir, Menandatangani Konsesi Tambang di Hulu
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 18:21 WITA

Botol yang Melayang Tidak Merobohkan Barikade, Ia Merobohkan Narasi

Senin, 15 Juni 2026 - 18:04 WITA

Reformasi Jilid II: Ketika Demokrasi Kehilangan Daya Ubah

Senin, 15 Juni 2026 - 15:02 WITA

Ironi Demonstrasi: Antara Urusan Perut Rakyat dan Panggung Politik Aktivis

Sabtu, 13 Juni 2026 - 15:16 WITA

Manusia-Manusia Jam Lima Sore

Rabu, 10 Juni 2026 - 22:44 WITA

Rakyat Bertanya, DPRD Bone di Mana? WIB Soroti BBM Subsidi, Tambang Ilegal Hingga UHC Non Cut Off

Berita Terbaru

Daerah

Reformasi Jilid II: Ketika Demokrasi Kehilangan Daya Ubah

Senin, 15 Jun 2026 - 18:04 WITA

Daerah

Manusia-Manusia Jam Lima Sore

Sabtu, 13 Jun 2026 - 15:16 WITA