Menyerah dengan Lebih Estetik

- Jurnalis

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspi, Akar Rumput

Kita diajarkan mengelola stres, bersyukur, dan memperbaiki diri. Sementara itu harga pangan naik, rumah makin jauh dari jangkauan, dan semua itu terus diminta balik ke diri sendiri

TRISAKTINEWS.COM – Entah sejak kapan kalimat itu jadi jawaban untuk segalanya. Seseorang mengeluh soal tekanan hidup yang tidak kunjung ringan, dijawab dengan kalimat itu. Seseorang frustrasi dengan sistem yang berputar-putar tanpa ujung, dijawab dengan kalimat yang sama.

“Semua kembali ke diri sendiri.”

Seringkali diucapkan dengan nada setenang orang yang baru selesai retreat meditasi  selama tiga hari dua malam,seolah ia baru turun dari gunung membawa wahyu yang sudah lama kita tunggu. Saya dengarkan, saya angguk-anggukkan kepala, lalu saya pikir: ini kebijaksanaan, atau kita semua sedang belajar menyerah dengan lebih estetik?

Kalimat itu sudah jadi semacam mantra resmi lintas generasi. Ia muncul di di podcast self-improvement yang didengarkan sambil macet, di kolom komentar ketika seseorang berkeluh soal kelelahan, di akhir obrolan yang tidak tahu harus menjawab apa, atau hasil pemilu yang membuat perut mulas. Ia hadir di mana-mana dengan wajah bijak dan nada tenang, seperti guru spiritual yang selalu punya jawaban untuk segala pertanyaan, termasuk pertanyaan yang sejatinya tidak butuh jawaban spiritual.

Dalam beberapa hal, buat saya, kembali ke diri sendiri lebih sering terasa seperti orang yang kehabisan jawaban, lalu mengubah kebingungannya menjadi nasihat. Bukan pencerahan. Bukan resolusi. Ya, semacam nama lain dari menyerah cuma diucapkan dengan postur tubuh orang yang baru selesai yoga.

Mungkin kembali ke diri sendiri adalah kompromi terakhir yang tersisa. Kita tidak bisa mengubah keadaan, jadi setidaknya kita mencoba mengubah cara memandangnya. Saya tidak menyalahkan siapa pun yang mengucapkannya. Karena sejujurnya, apa lagi yang bisa dilakukan?

Mungkin kalimat itu tidak sepenuhnya salah. Untuk urusan luka pribadi, cara kita merespons kekecewaan, atau pola pikir yang menghambat diri sendiri, kembali ke dalam memang kadang perlu. Tapi menempatkannya pada setiap aspek kehidupan, termasuk yang jelas-jelas struktural, rasanya seperti kemalasan berpikir yang dipertahankan atas nama kebijaksanaan. Dampaknya tidak kecil.

Setiap lima tahun sekali, kita punya kesempatan untuk menentukan arah. Tapi ketika semua orang sibuk healing dan inner work, urusan publik perlahan berubah menjadi latar belakang. Kita belajar mengatur ekspektasi, mengelola stres, dan menerima keadaan, sementara keputusan-keputusan yang membentuk keadaan itu terus berjalan tanpa banyak gangguan.

Tapi ada satu hal yang sering hilang setiap kali kalimat itu diucapkan: kemungkinan bahwa sumber masalahnya memang tidak berada di dalam diri. Bahwa ada sesuatu di luar sana yang ikut membentuk hidup kita, dan ia tetap bekerja terlepas dari seberapa rajin kita bermeditasi, bersyukur, atau memperbaiki diri.

Soal rumah, misalnya. Generasi kita tumbuh diberitahu bahwa kalau rajin menabung dan tidak boros, suatu hari bisa punya hunian sendiri. Kenyataannya, harga properti di kota tumbuh jauh melampaui kemampuan beli kebanyakan orang dan kebijakan perumahan selama puluhan tahun lebih berpihak pada pengembang besar ketimbang warga biasa. Ruang-ruang hidup yang terjangkau terus menyusut, sementara iklan apartemen baru tumbuh subur di dinding yang melihatnya rata-rata tidak akan pernah mampu membelinya. Ini tentu bukan soal keahlian menabung. Melainkan soal siapa yang boleh tinggal di kota dan siapa yang perlahan didorong ke pinggirannya.

Baca Juga :  Outsourcing Perjuangan: Ironi Gerakan yang Gagal Menghidupi Diri

Belum soal sakit. Ketika seseorang harus mengurus administrasi berlapis, mengantre panjang di fasilitas yang kekurangan tenaga medis, atau mendapati obat yang dibutuhkan tidak ditanggung, saran yang paling cepat muncul tetap serupa: jaga kesehatan lebih baik, kelola stres, hidup lebih teratur. Seolah sakitnya timbul murni semata-mata karena kurang disiplin pribadi, bukan karena sistem kesehatan yang anggarannya bertahun-tahun tidak pernah benar-benar diprioritaskan.

Lalu ketika gelombang pemutusan hubungan kerja datang, narasi yang paling cepat beredar justru soal pentingnya upgrade skill, seolah yang gagal adalah orangnya, bukan kebijakan ketenagakerjaan yang sudah lama rapuh.

Ketika sistem gagal, seringkali individu yang diminta untuk menyesuaikan.

Ini bukan kebetulan. Gramsci menyebutnya hegemoni. Ketika gagasan milik kelompok dominan sudah terasa seperti akal sehat bagi semua orang, tidak perlu lagi ada paksaan. Orang cukup merasa bahwa memang begitulah seharusnya. Ada sesuatu yang sangat nyaman bagi pihak-pihak tertentu ketika masalah kolektif terus-menerus dibingkai sebagai kegagalan personal.

Dan, kembali ke diri sendiri tidak terasa seperti ideologi justru karena ia terasa seperti kebijaksanaan biasa, dan di sanalah ia paling efektif bekerja. Selama orang percaya bahwa kesulitan hidup adalah soal mental dan kelelahan adalah soal manajemen diri, tidak ada yang perlu menjelaskan ke mana kebijakan publik selama ini pergi.

Di Indonesia, proses ini punya sejarah dan arsitekturnya sendiri. Selama puluhan tahun—yang terus berlangsung hingga kini—ada upaya sistematis untuk memisahkan orang dari kesadaran kolektifnya: serikat buruh yang dilemahkan, organisasi mahasiswa yang diawasi, ruang debat publik yang dipersempit, sampai narasi bahwa politik itu cuma perihal pemilu dan lebih baik fokus kerja saja.

Padahal tubuh kita mungkin adalah arsip politik yang paling jujur. Punggung yang pegal karena dua jam di jalan, paru-paru yang menghirup udara kota setiap hari, perut yang menyesuaikan diri dengan harga cabai yang naik turun, semuanya adalah hasil dari keputusan-keputusan yang pernah dibuat seseorang di sebuah ruangan berpendingin udara.

Dan ketika semua itu dianggap sebagai urusan pribadi, yang hilang bukanlah politik, melainkan kesadaran bahwa kita sedang mengalami hal yang sama. Bukan kebetulan bahwa generasi yang tumbuh setelahnya lebih akrab dengan bahasa ekspresi diri daripada bahasa kepentingan bersama. Kita tahu cara menyampaikan pendapat, tetapi semakin jarang memiliki wadah untuk mengubah pendapat itu menjadi tindakan kolektif.

Karena memang begitulah cara paling efisien membuat orang diam: bukan dengan melarang mereka bicara, tapi dengan membuat mereka percaya bahwa suara mereka adalah urusan pribadi. Orang yang merasa sendirian dalam masalahnya akan lebih sibuk mencari cara bertahan daripada mencari siapa yang mengalami hal yang sama.

Baca Juga :  Apakah Buruh Akan Menjadi Kapitalis Baru? Meluruskan Salah Paham Teori Kelas Marx

Lebih lanjut, Gramsci menulis tentang momen katarsis, yaitu ketika seseorang mulai bergerak dari kesadaran yang semata-mata personal menuju kesadaran yang lebih luas, kolektif, politis. Mungkin yang paling bisa kita lakukan sekarang adalah sampai di sana, pelan-pelan. Bukan menyadari dalam arti dramatis seperti bergerak tanpa arah, tapi menyadari bahwa masalah yang kita rasakan tidak hadir tunggal, tidak semata-mata soal diri, melainkan ada lapisan struktural di sana dan ada peran lain yang ikut bekerja.

Di tengah narasi duo maut “di desa tidak pakai dolar” dan “pokoknya ada,” kesadaran itu sendiri sudah sesuatu. Ini seperti kita pelan-pelan menghapus kata “izin” setiap kali hendak bicara kepada rekan kerja. Kelihatannya sepele, tapi di baliknya ada proses panjang melepaskan hierarki yang sudah terlanjur kita internalisasi seolah itu hal yang wajar.

Menjadi sadar adalah hal yang mahal. Orang yang mulai melihat pola, yang mulai menghubungkan titik-titik, yang mulai bertanya lebih dari yang dianggap sopan, tidak selalu berakhir baik-baik saja. Maka balik ke diri sendiri kadang bukan sekadar pasrah, tapi juga cara bertahan. Saya mengerti itu. Tapi ada bedanya antara mundur untuk selamat, dengan mundur karena sudah lupa bahwa ada sesuatu yang patut dipertanyakan.

Orang yang terputus satu sama lain jauh lebih mudah dikelola daripada orang yang tahu mereka senasib. Solidaritas, rasa bahwa masalahmu adalah masalah kami juga, adalah hal pertama yang hilang ketika semua orang sibuk kembali ke dirinya sendiri. Negara tidak perlu repot-repot membubarkan massa kalau massa sudah membubarkan dirinya sendiri, satu per satu, ke dalam ruang meditasi masing-masing.

Di luar sana, kota terus bergerak seperti biasa, tidak peduli apakah kita sudah selesai kembali ke diri sendiri atau belum. Beban itu tidak ke mana-mana. Ia tetap ada di harga beras yang tidak pernah ikut meditasi, di nilai tukar yang tidak peduli seberapa sering kita bersyukur, di hutan yang terus berubah menjadi aset, dan di kampung-kampung yang pelan-pelan kehilangan cerita karena lebih menguntungkan dijadikan kawasan. Bahkan ketika kita berhasil berdamai dengan diri sendiri, tagihan listrik tetap datang tepat waktu.

Yang berubah hanya cara kita belajar menerima keadaan tanpa banyak bertanya. Harga beras naik, kita diminta berhemat. Rumah makin mahal, kita diminta bekerja lebih keras. Udara makin buruk, kita diminta olahraga pagi. Hampir selalu ada cara untuk menyesuaikan diri, tapi jauh lebih jarang menghadirkan keberanian untuk mempertanyakan keadaan mengapa semua ini terjadi.

Mungkin itu sebabnya kembali ke diri sendiri terasa begitu menenangkan karena terasa jauh lebih aman daripada kembali ke pertanyaan.

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Apakah Buruh Akan Menjadi Kapitalis Baru? Meluruskan Salah Paham Teori Kelas Marx
Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital
Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?
Romantisasi Buku di Media Sosial: Mahasiswa Membeli untuk Membaca atau Sekedar Konten?
Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?
Generasi Muda Ambil Peran dalam Pelestarian Songkok Recca
Pelajar dan Masyarakat Gunakan Akses Sementara Selama Pembangunan Jembatan Baru di Desa Lemoape Kecamatan Palakka
Ketika Buku Jadi Barang Mewah: Krisis Literasi Indonesia yang Terabaikan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:23 WITA

Apakah Buruh Akan Menjadi Kapitalis Baru? Meluruskan Salah Paham Teori Kelas Marx

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:10 WITA

Menyerah dengan Lebih Estetik

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:26 WITA

Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:21 WITA

Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:16 WITA

Romantisasi Buku di Media Sosial: Mahasiswa Membeli untuk Membaca atau Sekedar Konten?

Berita Terbaru

Opini

Menyerah dengan Lebih Estetik

Sabtu, 4 Jul 2026 - 09:10 WITA