Kilau Zakat, Harapan yang Bersinar

- Jurnalis

Kamis, 27 Maret 2025 - 00:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ismail Suardi Wekke (Cendekiawan Muslim Indonesia)

TRISAKTINEWS.COM – Di tengah gemerlap kota Jakarta, di antara gedung-gedung pencakar langit dan hiruk pikuk kendaraan, ada seorang ibu bernama Ibu Sarah yang berjuang seorang diri membesarkan kedua anaknya.

Suaminya telah lama pergi, meninggalkan ia dan anak-anaknya dalam kesulitan ekonomi. Meski hidup di kota metropolitan yang penuh dengan peluang, Ibu Sarah harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menjelang Hari Raya Idulfitri, kota Jakarta dipenuhi dengan kegiatan zakat fitrah. Berbagai masjid dan lembaga zakat membuka posko penerimaan zakat.

Para warga yang mampu dengan tulus hati menyisihkan sebagian rezeki mereka untuk membantu sesama yang membutuhkan. Ibu Sarah dan anak-anaknya menjadi salah satu penerima zakat tersebut.

Suatu sore, seorang relawan zakat bernama Farhan datang ke rumah Ibu Sarah yang terletak di sebuah gang sempit di tengah kota. Ia membawa bingkisan berisi beras.

Begitu pula, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya. Senyum hangat Rio saat menyerahkan bingkisan itu membuat hati Ibu Sarah terharu.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak, Nak Farhan. Bantuan ini sangat berarti bagi kami,” ucap Ibu Sarah dengan mata berkaca-kaca.

Rio tersenyum dan berkata, “Ini adalah amanah dari para muzaki, Bu. Semoga bantuan ini bisa meringankan beban Ibu dan keluarga.”

Tak hanya memberikan bantuan berupa bahan makanan, Rio dan para relawan zakat lainnya juga memberikan santunan berupa uang tunai kepada Ibu Sarah.

Uang tersebut digunakan untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya dan membeli pakaian baru untuk mereka.

Baca Juga :  UCYP Malaysia Pimpin Diplomasi Akademik Islam Asia Tenggara Lewat Simposium AI

Di hari raya Idulfitri kelak, anak-anak Ibu Sarah tampil dengan pakaian baru mereka. Mereka terlihat bahagia dan bersemangat menyambut hari kemenangan.

Ibu Sarah pun tak kuasa menahan air mata harunya. Ia bersyukur atas kebaikan hati para muzaki yang telah membantu keluarganya.

Kisah Ibu Sarah hanyalah satu dari sekian banyak kisah tentang indahnya berbagi melalui zakat dimanapun. Zakat tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menebar harapan dan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Di tengah kerasnya kehidupan kota, zakat menjadi oase yang menyejukkan hati.

Setiap butir beras, setiap lembar uang yang disalurkan melalui zakat, adalah kilau harapan yang bersinar bagi mereka yang sedang berjuang.

Zakat adalah bukti nyata kepedulian dan solidaritas sosial yang mampu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik, bahkan di tengah gemerlapnya kota metropolitan.

“Kilau Zakat, Harapan yang Bersinar” bukan sekadar judul, tetapi sebuah pengingat bahwa di balik setiap harta yang kita sisihkan, terdapat senyum bahagia dan harapan yang tumbuh subur, bahkan di tengah hiruk pikuk kota besar.

Zakat adalah jembatan yang menghubungkan antara mereka yang memiliki kelebihan rezeki dengan mereka yang membutuhkan uluran tangan, menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi semua.

Zakat: Instrumen Keadilan Sosial yang Menerangi Harapan

Zakat, sebagai salah satu rukun Islam, bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan juga instrumen keadilan sosial yang memiliki dampak signifikan dalam masyarakat. Secara konseptual, zakat merupakan mekanisme redistribusi kekayaan.

Baca Juga :  Cahaya yang Terus Bergerak: Membaca Ulang Kartini Hari Ini

Dari mereka yang memiliki kelebihan harta kepada mereka yang membutuhkan. Praktik ini bertujuan untuk mengurangi kesenjangan ekonomi dan menciptakan keseimbangan sosial.

Dari perspektif ekonomi, zakat memiliki potensi untuk menggerakkan roda perekonomian. Dana zakat yang terkumpul dapat disalurkan untuk program-program pemberdayaan ekonomi, seperti pelatihan keterampilan, pemberian modal usaha, dan bantuan pendidikan.

Hal ini dapat meningkatkan produktivitas masyarakat dan menciptakan lapangan kerja baru, sehingga mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran.

Selain itu, zakat juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Dalam konteks masyarakat urban yang kompleks, zakat menjadi jembatan solidaritas yang menghubungkan antara kelompok masyarakat yang berbeda.

Melalui zakat, rasa empati dan kepedulian sosial dapat tumbuh, sehingga memperkuat kohesi sosial dan menciptakan harmoni dalam masyarakat.

Penyaluran zakat yang efektif dan transparan menjadi kunci keberhasilan implementasi zakat sebagai instrumen keadilan sosial. Lembaga-lembaga zakat perlu menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, termasuk akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat.

Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat akan meningkat, dan potensi zakat sebagai penggerak perubahan sosial dapat dioptimalkan.

Dalam era globalisasi ini, zakat memiliki relevansi yang semakin meningkat. Di tengah tantangan ketimpangan ekonomi dan sosial yang kompleks, zakat menawarkan solusi alternatif yang berlandaskan pada prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan.

Zakat bukan hanya tentang memberikan bantuan materi, tetapi juga tentang membangun harapan dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua.

Berita Terkait

Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital
Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?
Romantisasi Buku di Media Sosial: Mahasiswa Membeli untuk Membaca atau Sekedar Konten?
Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?
Generasi Muda Ambil Peran dalam Pelestarian Songkok Recca
Pelajar dan Masyarakat Gunakan Akses Sementara Selama Pembangunan Jembatan Baru di Desa Lemoape Kecamatan Palakka
Ketika Buku Jadi Barang Mewah: Krisis Literasi Indonesia yang Terabaikan
Media Sosial dan Krisis Fokus Pelajar di Era Digital
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:26 WITA

Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:21 WITA

Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:16 WITA

Romantisasi Buku di Media Sosial: Mahasiswa Membeli untuk Membaca atau Sekedar Konten?

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:13 WITA

Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:10 WITA

Generasi Muda Ambil Peran dalam Pelestarian Songkok Recca

Berita Terbaru

Daerah

Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Jumat, 26 Jun 2026 - 08:26 WITA

Daerah

Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?

Jumat, 26 Jun 2026 - 08:13 WITA

Daerah

Generasi Muda Ambil Peran dalam Pelestarian Songkok Recca

Jumat, 26 Jun 2026 - 08:10 WITA