Oleh: Aspi, Akar Rumput
TRISAKTINEWS.COM – Saya seringkali merasa mengidap sejenis penyakit mental kolektif bernama rasa bersalah moral yang salah alamat. Ketidaktahuan terhadap setiap inci tragedi yang terjadi di nusantara terasa sebagai bukti sahih bahwa saya adalah warga negara yang buruk, apatis, dan tidak punya empati.
Padahal, bagaimana mungkin otak manusia yang kapasitasnya terbatas ini sanggup memelototi jutaan peristiwa yang terjadi secara serentak di atas hamparan teritorial yang begitu masif?
Indonesia adalah sebuah raksasa geografis dengan ribuan pulau, jutaan kepala keluarga, dan dinamika sosial yang berdenyut liar di luar kendali siapa pun. Indonesia bukan sebuah perumahan klaster di mana kita bisa mendengar tetangga sebelah menjatuhkan piring dari teras rumah.
Ambil contoh nyata di Pidie, Aceh. Tujuh nyawa manusia melayang secara tragis karena tertimpa pohon tumbang. Sebuah insiden yang seharusnya memicu alarm keselamatan publik, tapi menguap begitu saja ditelan keheningan lokal tanpa benar-benar singgah lama di linimasa nasional.
Apakah tragedi itu kurang berdarah-darah? Tentu saja tidak. Tujuh nyawa hilang begitu saja. Tetapi karena peristiwa itu terjadi di luar pusaran perhatian media arus utama yang berpusat di Jakarta, ia diperlakukan sekadar sebagai angin lalu.
Cerita absurd serupa terjadi di Pandeglang, ketika empat ratus warga dengan polosnya kena tipu daya oleh sebuah skema rekrutmen relawan palsu yang bentuk kebohongannya begitu terang-terangan sampai-sampai terdengar seperti naskah komedi gelap kelas bawah.
Ratusan orang kehilangan harapan dan uang, tertipu oleh janji kosong di tanah air mereka sendiri, sementara kita di kota-kota besar sibuk mendebat hal-hal remeh temeh yang disodorkan oleh algoritma hiburan.
Ketimpangan informasi ini bukan terjadi karena kita malas membaca, melainkan karena peta realitas yang sampai ke kepala kita telah disortir sedemikian rupa oleh industri informasi yang memiliki agenda tersendiri.
Coba alihkan pandangan sejenak ke Bandung, di mana krisis air bersih menghantam puluhan kelurahan, memaksa warga berjuang mendapatkan air layak minum di tengah kota yang sering dipuja-puji sebagai pusat kreativitas dan kemajuan digital.
Air keruh mengalir di keran-keran rumah warga, sementara di ruang publik, narasi besar tentang pertumbuhan ekonomi dan kota cerdas terus didengungkan tanpa jeda. Kita hidup di atas paradoks di mana kemajuan teknologi disandingkan dengan kemerosotan akses dasar yang paling purba.
Sementara sejumlah massa membakar tujuh kantor pemerintah di Kabupaten Puncak, Papua Tengah, diduga karena tidak puas atas pemotongan dana desa. Mulai dari Kantor Bupati hingga DPRD Puncak jadi sasaran massa yang awalnya datang untuk menerima penyaluran dana desa via Bank Papua.
Merambah ke wilayah lain, di Sulawesi Tengah, tempat hilirisasi nikel digembar-gemborkan sebagai tiket emas menuju kejayaan industri hijau nasional. Padahal di akar rumput, ia meninggalkan karut-marut sengketa agraria, ancaman ekologis, dan tergerusnya hak fiskal daerah.
Masyarakat lokal sering kali hanya menjadi penonton di atas tanah leluhur mereka sendiri. Apakah isu ini rumit? Sangat. Apakah ia penting? Tentu saja. Sayangnya, kerumitan itu tidak menjelma sensasi instan yang bisa dikonsumsi dalam waktu singkat.
Isu hilirisasi nikel sering kali direduksi menjadi statistik membosankan yang diabaikan publik. Kita tidak mungkin memelototi tumpukan dokumen kebijakan setebal ribuan halaman atau memantau transaksi pertambangan setiap minggu di tengah rutinitas harian yang sudah cukup melelahkan hanya untuk sekadar bertahan hidup di kota tempat kita bekerja.
Bahkan di ruang-ruang domestik yang tampak biasa, cerita tentang kerapuhan sosial terus berputar tanpa henti. Di Sidoarjo, kepolisian disibukkan dengan pembongkaran pabrik produksi tembakau sintetis skala rumahan yang meracuni generasi muda.
Sebuah bukti nyata bahwa krisis moral dan ekonomi berjalan beriringan di tingkat tapak.
Pada saat yang sama, jika menggeser sedikit perhatian ke Kabupaten Banggai, program pendataan rumah tidak layak huni berjalan terseok-seok demi menyelamatkan warga dari atap yang nyaris roboh di atas kepala mereka.
Semua peristiwa ini—dari pohon tumbang di Pidie, penipuan relawan di Pandeglang, krisis air di Bandung, pertambangan di Sulawesi Tengah, hingga narkotika rumahan di Sidoarjo dan rumah reyot di Banggai—menunjukkan Indonesia adalah sebuah simfoni perjuangan di luar jangkauan kognitif satu orang pun untuk memelototinya sekaligus.
Media massa, dalam posisi ini, bertindak sebagai penyaring yang menentukan cerita mana yang layak masuk ke dalam kepala kita dan cerita mana yang dibiarkan membusuk di ruang arsip lokal.
Ruang redaksi memiliki batasan fisik, bujet operasional yang ketat, dan tuntutan perhatian yang kejam. Mereka tidak bisa mengirim wartawan ke setiap jengkal dari ribuan kecamatan di negeri ini untuk melaporkan apakah pipa air di Bandung berfungsi atau apakah rumah di Banggai sudah diperbaiki.
Akibatnya, apa yang kita tahu tentang Indonesia sebenarnya hanyalah potongan-potongan teka-teki yang dipilihkan oleh industri media, berdasarkan apa yang paling laku dijual, atau paling sesuai selera algoritma.
Ketika kita merasa bersalah karena tidak tahu apa-apa, kita sedang menghukum diri sendiri atas kegagalan sebuah sistem informasi. Sistem yang desainnya memang untuk menyeragamkan perhatian publik pada hal-hal yang paling gaduh, bukan yang paling esensial.
Tapi kita tidak perlu menderita karena merasa gagal menjadi ensiklopedia berjalan. Yang perlu kita lakukan adalah mengganti rasa bersalah itu dengan kesadaran strategis. Mulailah memilih untuk tidak sepenuhnya tunduk pada apa yang disuapkan oleh algoritma media sosial Anda.
Alihkan sebagian rasa ingin tahu Anda kepada media-media lokal independen atau buletin warga yang dengan sabar mencatat peristiwa-peristiwa kecil di daerah mereka tanpa sokongan modal raksasa.
Ketika Anda menemukan isu yang relevan di lingkungan terdekat, entah itu fasilitas umum yang rusak atau kebijakan kelurahan yang tidak masuk akal, fokuskan energi Anda di situ. Berhenti memikirkan beban moral untuk menyelamatkan seluruh penjuru negeri seorang diri, karena memikul peta Indonesia yang seluas ini adalah resep cepat menuju kegilaan mental.
Solusi atas keterbatasan ini bukan dengan berpangku tangan, melainkan merajut kepedulian dari kedekatan realitas. Ada simpul kecil di komunitas tempat tinggal yang mungkin bisa dikunjungi, siapa tahu ada tetangga yang kesulitan mendapatkan air bersih atau anak-anak yang putus sekolah di sana.
Saya kira negara ini tidak akan runtuh hanya karena kita tidak tahu kabar terbaru dari kabupaten terjauh, tetapi negara ini pasti meranggas jika kita abaikan hal-hal busuk yang terjadi persis di hadapan mata kepala kita sendiri.
Merawat Indonesia tidak diukur dari seberapa besar rasa bersalah kita karena berita duka dari pelosok yang tak terjangkau, tapi seberapa jernih mata dan pikiran merawat keadilan di tempat kita benar-benar berpijak.
Penulis : aspi
Editor : Admin Redaksi







