Seni Menghargai Kerumitan

- Jurnalis

Minggu, 19 April 2026 - 16:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Aspiyandi

Biarkan yang sederhana tetap sederhana. Yang rumit tetap rumit. Yang rumit jangan dipaksa sederhana.

Pagi ini, sementara air dari teko perlahan menetes menembus saringan kopi V60, saya teringat pada cara Pramoedya Ananta Toer bercerita.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pram tidak menyederhanakan. Sebaliknya, ia menelusuri kerumitan—lika-liku sejarah kolonialisme, strata sosial yang rapuh, psikologi manusia yang terbelah—kemudian menceritakannya dengan bahasa lugas namun tetap utuh. Dia memahami dulu, baru menjelaskan. Bukan memotong untuk memudahkan.

“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.”

Yang dilakukan Pram adalah sebaliknya dari apa yang kita lakukan sehari-hari. Dia memahami kerumitan terlebih dahulu, baru kemudian menjelaskannya sesederhana mungkin tanpa kehilangan makna. Sebagaimana dia tulis: “sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya.”

Lalu mengapa kita begitu gemar menyederhanakan? Segala sesuatu selalu kita sederhanakan.

Fisika kuantum? “Pokoknya partikel kecil.”

Krisis iklim? “Ya cuaca emang lagi aneh.”

Depresi? “Cukup tidur dan olahraga.”

Hebat sekali bukan.

Sepertinya kita sudah sangat terlatih memampatkan dunia ke dalam satu kalimat, sampai-sampai kita lupa: tidak semua hal pantas diperkecil.

Albert Einstein pernah bilang, “Everything should be made as simple as possible, but not simpler.” Tapi kita baca kutipan itu pun langsung kita sederhanakan: “Yang simpel aja lah.”

Einstein geleng-geleng kepala di surga sana.

Sekarang mari kita lihat contohnya dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Hilal dan Hisab: Menjaga Harmoni di Balik Perbedaan Awal Ramadhan

“Besok mau makan apa?”

Sederhana? Coba pikir lagi. Itu pertanyaan yang menyangkut nutrisi, anggaran bulanan, selera yang berubah-ubah tiap jam, ketersediaan bahan di kulkas yang isinya tinggal kecap dan harapan, waktu memasak yang tidak ada, dan beban mental yang biasanya ditanggung satu orang di rumah tanpa dibayar.

Amartya Sen bahkan meraih Nobel Ekonomi sebagian karena membahas soal distribusi pangan dan kelaparan. Kamu pikir itu cuma soal “mau nasi goreng atau mie instan?”

“Kenapa kamu nggak cari kerja aja?”

Ah, kalimat favorit. Seolah-olah mencari kerja itu semudah mencari Wi-Fi gratisan. Padahal di dalamnya ada soal struktural: akses pendidikan, jaringan sosial, diskriminasi usia, kesehatan mental, algoritma rekrutmen, kebijakan pemerintah yang … a-su-dahlah.

Pierre Bourdieu capek-capek menulis tentang capital—sosial, kultural, ekonomi—yang menentukan siapa dapat akses ke mana. Tapi kita ringkas jadi, “Kamu aja yang kurang usaha.”

“Pilih yang bikin kamu bahagia.”

Nasihat paling populer sekaligus paling kosong. Seolah “bahagia” itu satu titik di peta yang tinggal di-GPS. Padahal para filsuf dari zaman Aristoteles sudah berdebat tentang eudaimonia dan sampai sekarang tidak ada yang benar-benar sepakat artinya apa.

Daniel Kahneman—bapak ekonomi perilaku yang akhirnya bunuh diri—bahkan membedakan antara experienced happiness dan remembered happiness, dua hal yang sering bertentangan satu sama lain. Tapi mari abaikan saja, “ikuti kata hati” katanya.

Kita ini sebenarnya tidak menyederhanakan. Kita malas.

Menyederhanakan itu butuh kerja keras—kamu harus paham dulu kerumitannya, baru kemudian menemukan inti yang bisa disampaikan tanpa kehilangan makna. Itu yang dilakukan guru-guru hebat, penulis-penulis bagus, ilmuwan-ilmuwan besar. Itu juga yang dilakukan Pram.

Baca Juga :  Pidato Presiden Prabowo di Sidang PBB: Posisi Strategis Indonesia dalam Lingkaran Geopolitik Global

Yang kita lakukan sehari-hari bukan itu. Yang kita lakukan adalah memotong. Membuang bagian-bagian yang bikin kepala pusing, lalu menyajikan sisanya seolah itu sudah utuh.

Richard Feynman, fisikawan yang terkenal bisa menjelaskan hal rumit dengan cara sederhana, justru pernah berkata: “The first principle is that you must not fool yourself—and you are the easiest person to fool.” Ironis.

Kita mengutip Feynman untuk membela kesederhanaan, tapi mengabaikan peringatannya tentang bahaya menipu diri sendiri.

Jadi mungkin sudah saatnya kita berdamai dengan kenyataan: beberapa hal memang rumit dan tidak apa-apa.

Tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa menjelaskan perasaanmu dalam satu kata. Tidak apa-apa kalau keputusan hidupmu butuh waktu dan bukan cuma polling Instagram. Tidak apa-apa kalau kamu duduk lama merenungi sesuatu yang kelihatannya sepele tapi ternyata berlapis-lapis.

Karena yang berbahaya bukan kerumitan itu sendiri.

Yang berbahaya adalah orang-orang yang yakin segalanya sederhana—lalu membuat kebijakan, memberi nasihat, dan menghakimi orang lain berdasarkan keyakinan itu.

Memparafrasekan Pram: “Betapa sederhana hidup ini sesungguhnya yang pelik cuma liku dan tafsirannya.” Hidup memang sederhana. Yang pelik adalah ketika kita memaksa tafsir-tafsir kita yang sempit kepada kerumitan yang sebenarnya.

Itu yang benar-benar rumit urusannya.

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Belajar Merangkak ; Tidak Ada Nasib Buruk, Hanya Pikiran yang Keliru
Simulakra di Langit Teheran
Ruang Sempit Bernama Pola Pikir
Kemilau Nikel dan Luka yang Tersembunyi: Menakar Nasib Buruh Perempuan di Rahim PT. IMIP
Monumen Kerentanan di Balik Kejayaan Nikel: Refleksi Atas Hegemoni Produksi dan Reduksi Hak Buruh di Morowali
Hilal dan Hisab: Menjaga Harmoni di Balik Perbedaan Awal Ramadhan
Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Tidak Mampu Memasak Harapan : Surat Terakhir dari Ngada
Kebebasan Individu dan Ruang Publik

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 16:12 WITA

Seni Menghargai Kerumitan

Minggu, 19 April 2026 - 15:48 WITA

Belajar Merangkak ; Tidak Ada Nasib Buruk, Hanya Pikiran yang Keliru

Senin, 2 Maret 2026 - 04:41 WITA

Simulakra di Langit Teheran

Minggu, 1 Maret 2026 - 20:26 WITA

Ruang Sempit Bernama Pola Pikir

Sabtu, 28 Februari 2026 - 06:43 WITA

Kemilau Nikel dan Luka yang Tersembunyi: Menakar Nasib Buruh Perempuan di Rahim PT. IMIP

Berita Terbaru

Opini

Seni Menghargai Kerumitan

Minggu, 19 Apr 2026 - 16:12 WITA