Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden: Jalan Perjuangan Baru atau Kooptasi Gerakan Buruh?

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026 - 20:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Morowali, Trisaktinews.com — Peta gerakan buruh Indonesia resmi memasuki babak baru yang sarat kontroversi. Said Iqbal, tokoh sentral Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh, kini telah melangkah masuk ke dalam lingkar kekuasaan sebagai salah satu penasihat khusus Presiden.

Langkah ini langsung memicu polarisasi tajam di kalangan akar rumput, akademisi, dan aktivis gerakan sipil. Pertanyaan besar pun menyeruak ke permukaan: Apakah ini strategi taktis untuk menyusupkan agenda buruh ke jantung kekuasaan, ataukah sebuah bentuk kooptasi (penjinakan) gerakan oleh pemerintah?

Masuknya Said Iqbal ke lingkaran dalam istana membelah opini publik menjadi dua narasi yang saling bertolak belakang:

Pihak yang optimistis melihat momentum ini sebagai peluang emas bagi kaum buruh untuk memiliki akses langsung ke pengambil kebijakan tertinggi. Selama bertahun-tahun, tuntutan buruh kerap tertahan di barikade demonstrasi jalanan. Dengan berada di dalam istana, Said Iqbal dinilai bisa memotong jalur birokrasi untuk mengintervensi regulasi yang merugikan buruh, seperti klaster ketenagakerjaan dalam UU Cipta Kerja.

Baca Juga :  Setengah Abad Darul Huffadh: Wabup Bone Apresiasi Peran Pesantren Cetak Generasi Qur’ani

Kehadiran tokoh buruh di level penasihat memberikan legitimasi bahwa suara kelas pekerja tidak lagi bisa diabaikan dalam perumusan kebijakan ekonomi-politik nasional. Sebaliknya, para kritikus dan sebagian elemen buruh akar rumput memandang pelantikan ini dengan skeptis dan penuh kekecewaan.

Ada kekhawatiran besar bahwa jabatan ini akan “menjinakkan” daya kritis KSPI dan Partai Buruh. Sebagai penasihat, Said Iqbal terikat pada etika birokrasi yang berpotensi membatasi kelantangannya dalam memimpin demonstrasi di jalanan.

Bagaimana mungkin seorang pemimpin serikat pekerja bisa objektif membela buruh jika di saat yang sama ia menerima mandat, fasilitas, dan tanggung jawab moral dari penguasa yang kebijakannya justru sering mereka gugat?

“Posisi penasihat adalah pisau bermata dua. Jika digunakan dengan berani, ia bisa memotong regulasi yang menindas. Namun jika tidak berhati-hati, ia justru akan memotong urat nadi perlawanan gerakan buruh itu sendiri.”

Sejarah gerakan buruh menunjukkan bahwa masuknya tokoh serikat ke dalam pemerintahan jarang sekali berakhir “hitam-putih”. Hasil akhirnya sangat bergantung pada integritas personal sang tokoh dan seberapa kuat kontrol dari akar rumput di bawahnya.

Baca Juga :  Bupati Bone Salurkan Bantuan Pertanian Untuk Perkuat Ketahanan Pangan dan Tekan Stunting

Ujian pertama Said Iqbal sebagai penasihat presiden akan segera terlihat pada isu-isu krusial dalam waktu dekat, seperti:

1. Penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP)

yang adil bagi pekerja.

2.Penyelesaian sengketa PHK massal

yang tengah marak di sektor manufaktur.

Apakah Said Iqbal mampu mewarnai kebijakan istana dengan warna peluh buruh, ataukah ia justru akan melebur dalam kemewahan karpet merah kekuasaan? Waktu dan kebijakan yang lahir dari istana yang akan menjawabnya.

begitu pemimpin gerakan sosial mendapat akses ke struktur elite, orientasi rasionalnya akan otomatis berubah. — Aspi, Akar rumput

Penulis : Aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

HIMATER UNIM Bone dan HIMAPTEK UMSI Gelar Abdi Desa, Ajarkan Ini Untuk Masyarakat Padatuo
Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Satbrimob Sulsel Gelar Kejuaraan Menembak Kapolda Cup XI
Mahasiswa KKN Unhas Luncurkan “Bulucenrana Smart Village Center”, Dorong Transformasi Desa Berbasis Digital
Pemkab Bone Salurkan Seragam Sekolah Gratis, Kepala SDN 187 Tompobulu: Terima Kasih Pemerintahan Beramal
Mengurai Manajemen Aksi dan Psikologi Massa: Saat Mahasiswa Diajak Menelaah isu Beasiswa KIP dan Praktik Uang Palsu UIN Alauddin Makassar.
Polda Sulsel Gelar Uji Kompetensi Kapolsek Urban, Promosi Jabatan Berbasis Kompetensi dan Merit Sistem
Dari Kultur HMI hingga Bersama Menuju Gelar Doktor : Kiprah Jumrah dan Mukhawas Mengabdi di Uniasman
WIB Desak Keterbukaan Dana CSR, DPRD Bone Minta Tim Pengawas dan Perbup Segera Dibentuk
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 07:25 WITA

HIMATER UNIM Bone dan HIMAPTEK UMSI Gelar Abdi Desa, Ajarkan Ini Untuk Masyarakat Padatuo

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:15 WITA

Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Satbrimob Sulsel Gelar Kejuaraan Menembak Kapolda Cup XI

Selasa, 14 Juli 2026 - 17:26 WITA

Pemkab Bone Salurkan Seragam Sekolah Gratis, Kepala SDN 187 Tompobulu: Terima Kasih Pemerintahan Beramal

Selasa, 14 Juli 2026 - 08:29 WITA

Mengurai Manajemen Aksi dan Psikologi Massa: Saat Mahasiswa Diajak Menelaah isu Beasiswa KIP dan Praktik Uang Palsu UIN Alauddin Makassar.

Senin, 13 Juli 2026 - 22:26 WITA

Polda Sulsel Gelar Uji Kompetensi Kapolsek Urban, Promosi Jabatan Berbasis Kompetensi dan Merit Sistem

Berita Terbaru

Opini

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Jul 2026 - 13:47 WITA

Opini

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:29 WITA

Opini

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:15 WITA