Manusia-Manusia Jam Lima Sore

- Jurnalis

Sabtu, 13 Juni 2026 - 15:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspi, Buruh

Ketika harga naik lebih cepat daripada penjelasan, keputusan datang lebih dulu daripada alasan, dan sepuluh ditambah enam bisa menjadi tujuh belas, tetap waras adalah kemewahan.

Pada jam pulang kantor, kehidupan terlihat lebih jujur. Orang-orang kehabisan energi untuk memainkan peran. Kelelahan sudah terlalu nyata untuk disangkal. Di bis, orang-orang berdiri sambil menggenggam tiang besi dan pikirannya masing-masing. Sebagian baru kehilangan pekerjaan dan belum sempat memberitahu keluarganya. Sebagian sedang memikirkan biaya sekolah anak. Sebagian diam-diam menghitung cicilan yang akan jatuh tempo minggu depan. Wajah mereka tampak tenang, tetapi ketenangan sering kali hanya nama lain dari kelelahan yang lama dipelihara.

Sepanjang perjalanan, mereka membaca berita seperti membaca hasil pemeriksaan kesehatan yang belum tentu baik sebab harga bahan bakar bisa naik tengah malam atau kebijakan bisa gol dalam rapat dua malam. Setiap kabar baru terasa seperti kemungkinan masalah baru. Ada perasaan bahwa hidup sedang berjalan terlalu cepat untuk dikejar, tetapi terlalu lambat untuk diperbaiki. Keadaan berubah sebelum sempat dipahami. Orang-orang dipaksa beradaptasi sebelum sempat menerima. Dan perlahan, rasa was-was berubah menjadi kebiasaan yang ikut duduk bersama kita saat sarapan, ikut bekerja sepanjang hari, lalu ikut pulang menjelang malam.

Di dalam bis berembun yang bergerak pelan di tengah kemacetan, statistik memiliki wajah. Angka pengangguran tidak lagi berupa persentase, melainkan seseorang yang sedang membuka surel berkali-kali dengan harapan menemukan kabar baik. Kondisi ekonomi tidak lagi berupa grafik, melainkan tarikan napas panjang sebelum seseorang menempelkan kartu pembayaran pada mesin. Di sana, kehidupan kehilangan istilah-istilah besarnya dan kembali menjadi sesuatu yang sederhana: usaha untuk bertahan sampai besok.

Orang-orang tetap berusaha menjalani hidup seperti biasa. Mereka membuat rencana, menyusun target, membaca ponsel, atau sekadar memikirkan apa yang akan dilakukan setelah turun dari transportasi. Dari luar semuanya tampak baik-baik saja. Namun saya sering merasa sebagian besar dari kita tidak sedang “mengejar kesuksesan”. Kita sedang mengejar rasa aman karena belakangan hidup terasa seperti permainan yang aturan mainnya berubah sebelum sempat dipahami. Ketika satu persoalan berhasil diatasi, persoalan lain sudah menunggu di tikungan berikutnya. Mungkin itu sebabnya banyak orang terlihat lelah meski hanya berdiri di dalam kereta. Mereka terus memikirkan masa depan yang bentuknya semakin sulit ditebak. Mereka menjalani rutinitas seperti biasa, tetapi di belakang semua itu selalu ada pertanyaan yang menggantung: apa lagi yang akan berubah setelah ini?

Baca Juga :  Bukan Belahan Jiwa, Tapi Teman Menderita: Sebuah Catatan tentang Pernikahan

Dari balik kaca bus dan jendela kamar, banyak keputusan lahir sebelum sempat dipahami oleh mereka yang harus menanggung akibatnya. Dari satu meja rapat, biaya hidup bisa bertambah bahkan untuk orang-orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di Jakarta. Tiap keputusan yang diambil seolah tidak pernah meminta izin dari mereka yang berdiri menggenggam tiang besi sambil menghitung cicilan bulan depan.

Orang-orang di bis atau kereta tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari percakapan. Mereka tidak diminta pendapat tentang keputusan yang akan mengubah pengeluarannya tiap bulan. Mereka hanya mengenali dampaknya ketika harga berubah, ketika tagihan bertambah, atau ketika rencana yang sudah disusun harus diatur ulang. Padahal, di tengah keadaan seperti itu, sebagian orang kehilangan pekerjaan. Sebagian kehilangan usaha. Sebagian kehilangan keyakinan bahwa hidup akan bergerak ke arah yang lebih baik.

Tidak ada konferensi pers untuk mengumumkan seseorang yang menyerah mengirim lamaran setelah ditolak berkali-kali. Tidak ada siaran langsung ketika seorang pedagang memutuskan menutup tokonya karena tak lagi sanggup menutup biaya operasional. Tidak ada breaking news ketika seseorang membatalkan mimpinya karena tabungannya tidak lagi cukup. Kehilangan-kehilangan semacam itulah yang sebenarnya memenuhi kota ini setiap hari.

Baca Juga :  Bom Waktu Prekariat: Jamur Kemarahan di Bawah Kaki Raksasa Modal

Sialnya, keadaan itu tidak membuat meteran listrik berputar lebih lambat atau menghapus tagihan air. Pemilik kontrakan tidak pernah bertanya apakah bulan ini keadaan sedang sulit. Dunia tidak memberi diskon kepada orang yang sedang berduka. Ia tetap meminta pembayaran pada tanggal yang sama. Kehidupan orang dewasa memiliki selera humor yang buruk. Boleh jadi benar, Sapardi merasa tak ada yang lebih tabah dari hujan di bulan Juni. Bukan karena mereka benar-benar kuat, melainkan karena mereka tidak memiliki cukup waktu untuk hancur.

Karena itu, lelah bukan sesuatu yang perlu disembunyikan. Menangis bukan kegagalan. Kecewa bukan kelemahan. Terkadang bangun dari tempat tidur saja sudah terasa seperti pencapaian. Sebab bertahan sampai malam membutuhkan lebih banyak keberanian daripada yang mampu dipahami orang lain. Jakarta mengetahui itu. Kota ini terlalu sering melihat manusia berjalan sambil membawa beban yang tidak terlihat untuk menghakimi siapa pun yang memilih berhenti sejenak.

Di titik ini, tetap waras menjadi kemewahan. Barangkali karena itu pula tidak ada jalan lain selain saling menjaga. Tidak dengan kata-kata besar atau kutipan seminar, melainkan dengan memastikan bahwa ketakutannya tidak ditanggung sendirian. Bahwa ada orang lain yang juga sedang cemas memikirkan pekerjaan, memikirkan orang tua, memikirkan biaya hidup, dan tetap memilih bangun besok pagi. Kadang cukup dengan mendengar dan bertanya kabar terasa seperti pelukan.

Ketika harga naik lebih cepat daripada penjelasan, ketika keputusan datang lebih dulu daripada alasan, dan ketika akal sehat sesekali diminta berkompromi dengan kenyataan, bertahan adalah pilihan relevan. Lagi pula, di masa ketika seseorang bisa tetap memantau kita setelah dipanggil Tuhan dan sepuluh ditambah enam bisa menjadi tujuh belas, menjadi waras mungkin satu-satunya hal yang masih tidak membutuhkan penjelasan.

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Rakyat Bertanya, DPRD Bone di Mana? WIB Soroti BBM Subsidi, Tambang Ilegal Hingga UHC Non Cut Off
Dana CSR di Bone Mengalir ke Mana? WIB Desak DPRD Gelar RDPU
Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden: Jalan Perjuangan Baru atau Kooptasi Gerakan Buruh?
Gimik “Mas Bahlil Ganteng” dan Taktik Kekuasaan Menjinakkan Daya Kritis
Kemunafikan Ekologis: Menjual Narasi Hijau di Hilir, Menandatangani Konsesi Tambang di Hulu
SDIT Rabbani Bone Cetak Generasi Berintegritas
KEPMI Bone Latenriruwa Audiensi DPRD Sulsel, Bahas Kaderisasi Hingga Kejahatan Terorganisir
SDN 263 Awang Tangka Sabet Juara 1 Senam Lantai Putra-Putri O2SN Kabupaten Bone 2026
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 15:16 WITA

Manusia-Manusia Jam Lima Sore

Rabu, 10 Juni 2026 - 22:44 WITA

Rakyat Bertanya, DPRD Bone di Mana? WIB Soroti BBM Subsidi, Tambang Ilegal Hingga UHC Non Cut Off

Selasa, 9 Juni 2026 - 10:41 WITA

Dana CSR di Bone Mengalir ke Mana? WIB Desak DPRD Gelar RDPU

Senin, 8 Juni 2026 - 20:54 WITA

Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden: Jalan Perjuangan Baru atau Kooptasi Gerakan Buruh?

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:53 WITA

Gimik “Mas Bahlil Ganteng” dan Taktik Kekuasaan Menjinakkan Daya Kritis

Berita Terbaru

Daerah

Manusia-Manusia Jam Lima Sore

Sabtu, 13 Jun 2026 - 15:16 WITA

Daerah

Dana CSR di Bone Mengalir ke Mana? WIB Desak DPRD Gelar RDPU

Selasa, 9 Jun 2026 - 10:41 WITA