KAMPUS DALAM BAYANG-BAYANG FORMALITAS: ANTARA GELAR, CITRA, DAN KEHILANGAN SUBSTANSI

- Jurnalis

Senin, 4 Mei 2026 - 09:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Oskar Danil Frastin, Mahasiswa Hukum UNIASMAN

Dunia perkampusan hari ini sedang mengalami pergeseran yang cukup halus, tapi dampaknya besar. Kampus yang dulu dikenal sebagai ruang berpikir bebas, diskusi kritis, dan pencarian makna, perlahan berubah menjadi ruang yang serba formal, serba target, dan serba “terlihat baik di atas kertas.”

Mahasiswa datang, mengikuti kelas, mengerjakan tugas, ikut organisasi, lalu lulus. Semua terlihat berjalan normal. Tapi pertanyaannya, apakah proses itu benar-benar membentuk kualitas, atau hanya sekadar memenuhi kewajiban?

Fenomena yang sering terjadi sekarang adalah kecenderungan mahasiswa untuk menjalani perkuliahan sebagai rutinitas administratif. Hadir karena absensi, belajar karena ujian, aktif karena penilaian. Di luar itu, ruang refleksi dan diskusi semakin jarang ditemukan.

Budaya “Yang Penting Lulus”

Tidak bisa dipungkiri, banyak mahasiswa hari ini terjebak dalam pola pikir pragmatis: yang penting lulus cepat, IPK aman, dan segera mendapatkan pekerjaan. Pola pikir ini tidak sepenuhnya salah, karena realitas ekonomi memang menuntut demikian.

Namun ketika semua orientasi hanya berhenti di situ, pendidikan kehilangan kedalamannya.

Belajar bukan lagi untuk memahami, tetapi untuk menghafal. Diskusi bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk memenuhi tugas. Bahkan tidak sedikit yang lebih fokus mencari “jalan aman” daripada benar-benar menguasai ilmu.

Baca Juga :  Perkuat Posisi Tawar Buruh, PK FIKEP KSBSI PT. OSMI Resmi Terbentuk di Morowali

Dalam jangka panjang, ini melahirkan lulusan yang memiliki gelar, tetapi belum tentu memiliki kapasitas yang sebanding.

Organisasi yang Kehilangan Arah

Selain di ruang kelas, fenomena serupa juga terjadi di organisasi mahasiswa. Banyak organisasi berjalan tanpa arah yang jelas. Program kerja dibuat sekadar formalitas, kegiatan dilakukan karena tuntutan, bukan kebutuhan.

Lebih jauh lagi, tidak sedikit mahasiswa yang bergabung organisasi hanya untuk kepentingan pribadi—menambah relasi, mempercantik CV, atau sekadar mendapatkan posisi.

Padahal, organisasi seharusnya menjadi ruang latihan kepemimpinan dan pengabdian.

Ketika orientasi berubah menjadi kepentingan pribadi, maka nilai kolektif dalam organisasi perlahan menghilang.

Relasi Dosen dan Mahasiswa yang Semakin Kaku

Di sisi lain, hubungan antara dosen dan mahasiswa juga sering kali terjebak dalam pola formal. Dosen menyampaikan materi, mahasiswa menerima, lalu selesai. Interaksi yang seharusnya hidup justru menjadi kaku.

Tidak banyak ruang untuk berdialog secara terbuka. Mahasiswa segan bertanya, dosen terbatas waktu, dan akhirnya proses belajar menjadi satu arah.

Padahal, pendidikan yang ideal adalah yang membuka ruang diskusi, bukan hanya transfer materi.

Baca Juga :  Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?

Media Sosial dan Budaya Pencitraan

Tidak bisa diabaikan, media sosial juga turut membentuk wajah kampus hari ini. Banyak mahasiswa lebih sibuk membangun citra sebagai “mahasiswa aktif” daripada benar-benar aktif.

Kegiatan didokumentasikan, diposting, dan dijadikan bagian dari identitas digital. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun ketika esensi kegiatan kalah oleh kebutuhan pencitraan, maka yang tersisa hanyalah tampilan, bukan makna.

Kampus akhirnya tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga panggung.

Realitas yang Perlu Disadari

Fenomena-fenomena ini bukan untuk menyalahkan satu pihak. Ini adalah refleksi bersama. Sistem pendidikan, tekanan ekonomi, budaya digital, dan pola pikir individu—semuanya saling berkontribusi.

Namun satu hal yang perlu disadari, kampus bukan sekadar tempat mendapatkan gelar.

Ia adalah ruang untuk membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara memahami dunia.

Refleksinya sederhana:
Apakah kita benar-benar menjadi mahasiswa, atau hanya menjalankan peran sebagai mahasiswa?

Karena pada akhirnya, yang dibawa setelah lulus bukan hanya ijazah, tetapi juga cara kita melihat dan menghadapi kehidupan. Jika selama di kampus kita hanya mengejar formalitas, maka jangan heran jika yang tersisa hanyalah gelar tanpa arah.

Penulis : oskar

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Demi Turnamen Aman dan Lancar, Kapolsek Bontocani Kawal Langsung Pertandingan Sepak Bola
Bupati Bone Sambangi Perkemahan Pramuka Ponre, Tekankan Pentingnya Disiplin dan Kemandirian
Fun Bike NBOD di Makassar Meriah, TNI-Polri dan Masyarakat Perkuat Sinergitas
Wabup Andi Akmal Buka Lomba Senam Kreasi, 20 OPD Bone Tampil Penuh Semangat
Usai Kecelakaan Maut, Satlantas Bone Bergerak Cepat Pastikan Keluarga Korban Terima Santunan
Dorong Ketahanan Pangan dari Pekarangan, Mahasiswa KKN-T 116 Kenalkan Budikdamber di Bulucenrana
Melayat ke Rumah Duka Balita Korban Kecelakaan, Bupati Bone Sampaikan Duka Cita dan Beri Bantuan
Diduga Salah Sasaran, Bocah 8 Tahun Dianiaya Pria Dewasa Saat Hendak Mengaji di Bone
Berita ini 146 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:29 WITA

Demi Turnamen Aman dan Lancar, Kapolsek Bontocani Kawal Langsung Pertandingan Sepak Bola

Senin, 10 Agustus 2026 - 18:21 WITA

Bupati Bone Sambangi Perkemahan Pramuka Ponre, Tekankan Pentingnya Disiplin dan Kemandirian

Minggu, 9 Agustus 2026 - 18:14 WITA

Fun Bike NBOD di Makassar Meriah, TNI-Polri dan Masyarakat Perkuat Sinergitas

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 23:52 WITA

Wabup Andi Akmal Buka Lomba Senam Kreasi, 20 OPD Bone Tampil Penuh Semangat

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 23:50 WITA

Usai Kecelakaan Maut, Satlantas Bone Bergerak Cepat Pastikan Keluarga Korban Terima Santunan

Berita Terbaru