Cahaya yang Terus Bergerak: Membaca Ulang Kartini Hari Ini

- Jurnalis

Selasa, 21 April 2026 - 14:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspiyandi
“Mengapa RA Kartini Masih Relevan Hingga Saat Ini.”

Setiap tahun, pada tanggal yang sama, Indonesia kembali ke RA Kartini.

Kita menelusuri kembali kisah yang sudah kita hafal: sekolah-sekolah yang tidak boleh ia masuki, surat-surat yang ia tulis dalam bahasa Belanda kepada koresponden di tempat yang jauh—surat-surat yang kemudian menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang , sebuah judul yang seperti janji kepada semua gadis kecil dan perempuan di Indonesia. Kita ingat bagaimana ia berjuang di dalam lingkungan yang terpinggirkan, bagaimana ia menciptakan ruang di dunia yang menolak memberinya ruang.

Lalu kita mengenakan kebaya, dan kita menyebutnya sebagai perayaan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perayaan itu bukanlah masalahnya. Yang masih terasa adalah anggapan terselubung di balik anggapan bahwa Kartini telah menjadi bagian dari sejarah. Seolah-olah perjuangannya telah terselesaikan karena perempuan sekarang dapat bersekolah, membangun karier, dan berpartisipasi dalam kehidupan publik.

Namun Kartini tidak hanya meminta akses.

Dia mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam: sistem seperti apa yang membuat akses menjadi mustahil sejak awal?

Saat ini, perempuan telah memasuki ruang-ruang yang pernah ia bayangkan. Namun, masuknya perempuan ke ruang-ruang tersebut tidak menghapus kondisi-kondisi yang selama ini ia lawan. Hal itu hanya mengubah bentuknya saja.

Pertanyaannya bukan lagi apakah perempuan diperbolehkan hadir.
Pertanyaannya adalah: apa yang terjadi pada mereka setelah mereka hadir.

Kegigihan Konsekuensi yang Tidak Adil

Hal ini menjadi lebih jelas ketika kita melihat bagaimana perempuan diperlakukan setelah mereka memasuki ruang publik.

Sering dikatakan bahwa feminisme telah menyelesaikan tugasnya. Perempuan, pada akhirnya, dapat belajar, bekerja, dan memimpin. Banyak hambatan yang mendefinisikan kehidupan Kartini telah dihilangkan.

Namun, ada sesuatu yang terasa janggal.

Di Indonesia, seperti di tempat lain, perempuan yang berbicara di depan umum masih menghadapi pola yang familiar. Visibilitas mengundang pengawasan. Opini mengundang reaksi negatif. Baru-baru ini, reaksi negatif tersebut mengambil bentuk baru: gambar perempuan—mahasiswa, profesional, siapa pun yang terlihat daring—diubah melalui AI generatif menjadi konten telanjang palsu. Tanpa persetujuan. Tanpa peringatan.

Alat-alatnya baru. Logikanya tidak.

Logika yang sama tampak dalam cara masyarakat menanggapi kekerasan seksual. Seorang wanita berbicara, dan respons sering kali tertuju padanya—perilakunya, kredibilitasnya, pilihannya. Pertanyaannya bukan hanya apa yang terjadi, tetapi apakah dia dapat dipercaya.

Ini bukanlah insiden terisolasi. Hal ini mencerminkan struktur di mana akses ada, tetapi konsekuensinya tetap tidak setara.

Kartini pernah menulis tentang tembok-tembok yang membatasi perempuan secara fisik. Saat ini, tembok-tembok itu kurang terlihat, tetapi masih membentuk sejauh mana perempuan dapat bergerak tanpa didorong mundur.

Sebuah Pertanyaan yang Tak Pernah Terjawab

Di sinilah feminisme sering disalahpahami.

Hal ini digambarkan sebagai proyek yang sudah selesai, atau bahkan diabaikan sama sekali sebagai sesuatu yang tidak perlu. Tetapi seperti yang dikemukakan oleh bell hooks, feminisme bukanlah tentang membalikkan kekuasaan. Ini tentang mempertanyakan mengapa kekuasaan terstruktur seperti ini sejak awal.

Kartini mengajukan pertanyaan itu jauh sebelum istilah tersebut digunakan secara luas. Dia tidak mencoba mengganti satu hierarki dengan hierarki lain. Dia bertanya mengapa hierarki dianggap sebagai sesuatu yang tak terhindarkan.

Pertanyaan itu masih tetap relevan.

Di seluruh Indonesia dan di luar negeri, sistem yang tampak netral seringkali menghasilkan hasil yang tidak setara. Perempuan memasuki lembaga-lembaga, tetapi harus menavigasinya dengan cara yang berbeda. Mereka berbicara, tetapi suara mereka didengar secara tidak merata. Mereka berpartisipasi, tetapi dengan syarat yang tidak mereka tentukan sendiri.

Apa yang dimulai Kartini bukan hanya seruan untuk inklusi. Itu adalah tantangan terhadap struktur itu sendiri.

Ketika Teknologi Mencerminkan Masyarakat

Munculnya teknologi baru tidak menghapus dinamika ini. Dalam banyak hal, justru memperjelasnya.

Ruang digital menjanjikan keterbukaan, siapa pun dapat berpartisipasi, berkontribusi, dan dilihat. Namun, visibilitas tidak dialami secara merata. Bagi perempuan, hal itu sering kali membawa risiko.

Baca Juga :  Morowali Membelah Elite Republik

Penyebaran konten seksual yang dihasilkan AI adalah salah satu contohnya. Hal ini menunjukkan betapa mudahnya pola objektifikasi yang ada dapat direproduksi dalam skala besar. Apa yang dulunya membutuhkan kedekatan, sekarang hanya membutuhkan akses ke gambar. Apa yang dulunya membawa risiko, sekarang membawa jarak.

Dan ketika kerugian terjadi, hal itu sering kali diremehkan.
“Itu tidak nyata.”
“Itu hanya teknologi.”

Namun dampaknya nyata, membentuk cara perempuan bergerak, berbicara, dan memutuskan apa yang aman untuk dibagikan.

Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Fenomena ini terlihat di berbagai budaya digital di seluruh dunia. Teknologi tidak beroperasi di luar masyarakat; teknologi mencerminkan dan memperkuat masyarakat.

Jika ketidaksetaraan ada di dunia, maka hal itu akan terlihat dalam sistem yang kita bangun.

Partisipasi Tanpa Perancangan Ulang

Saya bekerja di industri kripto—industri yang membanggakan diri atas desentralisasi, penghapusan pihak-pihak yang mengendalikan akses, dan pembangunan sistem yang konon terbuka untuk siapa saja. Premisnya sangat menarik: mendistribusikan kembali kekuasaan, meratakan hierarki, dan menciptakan akses yang setara.

Namun dalam praktiknya, ruangan tempat sistem-sistem ini dirancang masih terlihat sangat familiar.

Dominasi laki-laki. Percaya diri dengan cara yang hampir tidak memberi ruang untuk interupsi. Gagasan yang diterima secara berbeda tergantung siapa yang menyampaikannya. Saya mendapati diri saya menyesuaikan kembali—melunakkan kalimat di sini, memperkuat poin di sana—bukan karena argumennya tidak jelas, tetapi karena penerimaannya tidak merata.

Arsitekturnya mungkin terdesentralisasi. Budayanya, tidak demikian.

Dan inilah bagian yang seringkali tidak diperhatikan: akses saja tidak sama dengan inklusi.

Jumlah perempuan yang memasuki dunia kerja jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Hal itu terlihat jelas. Namun, yang kurang terlihat adalah betapa sedikitnya perubahan struktur itu sendiri sebagai respons terhadap hal tersebut. Saya mengamati rekan-rekan dengan kualifikasi yang setara menghadapi ekspektasi yang berbeda—bagaimana otoritas dinilai, bagaimana kompetensi dipertanyakan, bagaimana kredibilitas dinegosiasikan secara diam-diam daripada diasumsikan begitu saja.

Kesenjangan itu tidak selalu terdengar keras, tetapi terus-menerus ada.

Secara global, perempuan masih memperoleh penghasilan lebih rendah daripada laki-laki untuk pekerjaan yang setara. Di Indonesia, angkanya bervariasi di berbagai sektor, tetapi polanya tetap sama. Kebijakan yang secara langsung memengaruhi partisipasi perempuan—cuti menstruasi, cuti melahirkan, dukungan pengasuhan—sering diperlakukan sebagai akomodasi daripada kebutuhan struktural. Seolah-olah pekerja standar tidak pernah dimaksudkan untuk mencakup mereka.

Perempuan diundang untuk bergabung dalam angkatan kerja. Namun, angkatan kerja itu sendiri tidak dirancang ulang untuk menyertakan mereka.

Ada sebuah kisah familiar yang kita ceritakan tentang kemajuan: bahwa kemampuan untuk bekerja, dengan sendirinya, adalah pembebasan. Tetapi kisah itu terasa tidak lengkap jika dibandingkan dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Karena karya tersebut tidak menggantikan apa yang ada sebelumnya. Karya itu terakumulasi

Waktu yang dihabiskan untuk mencari nafkah berdampingan dengan waktu yang dihabiskan untuk mengurus rumah tangga, mengelola perawatan, dan mengantisipasi kebutuhan yang jarang disebut sebagai pekerjaan. Pergeseran itu bukanlah dari ketergantungan ke kemandirian. Melainkan dari satu rangkaian harapan menjadi dua.

Silvia Federici menulis tentang jenis pekerjaan yang menopang kehidupan tetapi tetap tidak terhitung—pekerjaan rumah tangga, pekerjaan perawatan, sistem tak terlihat yang memungkinkan semua pekerjaan lainnya. Pekerjaan ini tidak menghilang ketika perempuan memasuki ekonomi formal. Hanya saja, pekerjaan ini menjadi lebih mudah diabaikan.

Kapitalisme tidak mendistribusikan kembali beban ini. Ia menyerap perempuan ke dalam strukturnya sementara membiarkan yang lain tetap utuh.

Jadi, para wanita bekerja. Dan kemudian mereka bekerja lagi.

Ini bukan argumen menentang partisipasi. Ini adalah argumen tentang desain—tentang apa yang terjadi ketika suatu sistem berkembang tanpa mempertanyakan asumsi yang mendasarinya. Platform yang terdesentralisasi masih dapat mereproduksi pola kekuasaan yang terpusat. Pasar tenaga kerja terbuka masih dapat beroperasi dengan syarat yang tidak setara.

Baca Juga :  Filantropi Berisik

Dalam pengertian ini, kemajuan bersifat parsial. Kemajuan membuka pintu tanpa sepenuhnya mengubah apa yang ada di baliknya.

Dan sampai struktur tersebut berubah—bukan hanya akses, tetapi juga harapan, pengakuan, dan distribusi tenaga kerja—apa yang kita sebut inklusi akan terus terasa bersyarat.

Perempuan hadir dalam perekonomian. Namun, perekonomian tidak dibangun dengan mempertimbangkan mereka.

Ekspansi Tenaga Kerja

Ada narasi yang menyanjung tentang modernitas: perempuan sekarang bebas karena mereka bisa bekerja. Tetapi narasi itu mengabaikan sesuatu yang sangat penting.

Ketika perempuan memasuki dunia kerja berbayar, pekerjaan tak berbayar tidak mengalami redistribusi. Memasak, mengasuh anak, merawat lansia, pengelolaan logistik rumah tangga yang tak terlihat—semua ini terus dibebankan secara tidak proporsional kepada perempuan. Perubahannya bukanlah pengurangan tenaga kerja. Melainkan penambahan shift kedua di atas shift pertama.

Silvia Federici menyebutkan hal ini dengan tepat: kerja yang mereproduksi masyarakat—membesarkan anak, memelihara tubuh dan rumah tangga—adalah kerja yang diekstraksi oleh kapitalisme tanpa pembayaran dan diakui tanpa penghargaan. Ketika seorang ibu bangun pukul lima pagi untuk menyiapkan tas sekolah anaknya sebelum memulai hari kerjanya sendiri, tidak ada angka PDB yang mencatat jam tersebut. Tidak ada metrik produktivitas yang menghitungnya.

Kapitalisme tidak membebaskan perempuan. Kapitalisme justru memperluas deskripsi pekerjaan mereka.

Batasan Pilihan

Wacana modern seringkali menunjuk pilihan sebagai bukti kesetaraan.

Perempuan dapat memilih karier mereka.
Mereka dapat memilih untuk tinggal di rumah.

Namun pilihan dibentuk oleh kondisi. Tekanan ekonomi, budaya tempat kerja, dan harapan sosial semuanya memengaruhi apa yang terasa mungkin—dan apa yang terasa berkelanjutan.

Keputusan yang dibuat dalam keterbatasan tetaplah sebuah keputusan. Tetapi keputusan itu tidak sepenuhnya bebas.

Kartini hidup tanpa bahasa pilihan. Kini, bahasa itu ada. Tetapi struktur yang membatasinya belum hilang.

Titik Awal yang Tidak Merata

Kartini menyadari bahwa garis startnya salah bahkan sebelum ia mencapainya. Ia tidak bisa meninggalkan rumah. Ia tidak bisa memilih pendidikannya. Ia tidak bisa memilih suaminya. Ia menulis karena ia tidak punya pilihan lain—tidak ada ruang untuk bertindak selain di halaman.

Saat ini garis start terlihat berbeda. Namun, hal itu tidak sama untuk semua orang.

Seorang gadis yang dibesarkan oleh orang tua yang diam-diam percaya bahwa pendidikan saudara laki-lakinya lebih penting daripada pendidikannya sendiri—itu adalah titik awal yang berbeda. Seorang wanita yang memasuki kantor dengan mengetahui bahwa dia harus bekerja dua kali lebih keras agar dianggap setengah serius, sambil menghindari label “terlalu ambisius”—itu adalah titik awal yang berbeda. Seorang wanita yang secara mental memetakan rute pulangnya setiap malam, menghitung jalan mana yang paling aman—itu adalah titik awal yang berbeda.

Ketidaksetaraan kontemporer kurang terlihat karena tertanam dalam prosedur, kebiasaan, dan harapan yang sudah dinormalisasi sehingga tidak lagi dianggap sebagai ketidaksetaraan. Tetapi tidak terlihat bukan berarti tidak ada.

Mengapa Kartini Masih Penting

Dia menulis tentang kegelapan dan cahaya. Tapi saya rasa dia tidak bermaksud bahwa cahaya adalah tujuan tetap, tempat Anda tiba dan tinggal. Cahaya, dalam surat-suratnya, terasa lebih seperti arah—sesuatu yang Anda tuju, sesuatu yang terus berubah seiring dengan perubahan medan.

Dia tidak berjuang agar perempuan bisa sekadar eksis dalam sistem. Dia berjuang agar mereka bisa mempertanyakan sistem tersebut.

Dan selama masih ada perempuan yang harus bernegosiasi demi keselamatan mereka, yang kerja kerasnya tidak disebutkan dan tidak dibayar, yang tubuhnya dapat dipalsukan dan didistribusikan tanpa sepengetahuan mereka hanya karena teknologinya tersedia—

Feminisme bukanlah sesuatu yang berlebihan. Justru belum selesai.

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Bukan Belahan Jiwa, Tapi Teman Menderita: Sebuah Catatan tentang Pernikahan
Gen Z Adalah Cermin: Wajah Busuk Sistem yang Kita Sebut Kemapanan
Bom Waktu Prekariat: Jamur Kemarahan di Bawah Kaki Raksasa Modal
Seni Menghargai Kerumitan
Belajar Merangkak ; Tidak Ada Nasib Buruk, Hanya Pikiran yang Keliru
Simulakra di Langit Teheran
Ruang Sempit Bernama Pola Pikir
Kemilau Nikel dan Luka yang Tersembunyi: Menakar Nasib Buruh Perempuan di Rahim PT. IMIP

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 14:38 WITA

Cahaya yang Terus Bergerak: Membaca Ulang Kartini Hari Ini

Selasa, 21 April 2026 - 10:16 WITA

Bukan Belahan Jiwa, Tapi Teman Menderita: Sebuah Catatan tentang Pernikahan

Senin, 20 April 2026 - 06:53 WITA

Bom Waktu Prekariat: Jamur Kemarahan di Bawah Kaki Raksasa Modal

Minggu, 19 April 2026 - 16:12 WITA

Seni Menghargai Kerumitan

Minggu, 19 April 2026 - 15:48 WITA

Belajar Merangkak ; Tidak Ada Nasib Buruk, Hanya Pikiran yang Keliru

Berita Terbaru

Opini

Cahaya yang Terus Bergerak: Membaca Ulang Kartini Hari Ini

Selasa, 21 Apr 2026 - 14:38 WITA