Broken Strings dan Wajah Lain Grooming

- Jurnalis

Jumat, 16 Januari 2026 - 09:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Asrianti Puspitasari

TRISAKTINEWS.COM — “Ketika Masa Depan Dijadikan Alat Kontrol”

Broken Strings mencuat ke publik dengan isinya yang mencengangkan, membuka pengalaman pahit yang dialami Aurelie Moeremans. Aku tidak sanggup membacanya sampai habis. Karena mengingatkanku pada beberapa hal tak menyenangkan. Ada bagian dalam diriku yang langsung menegang, seperti tubuhku mengenali bahaya lebih cepat daripada kepalaku sempat menyusun kata.

Ada satu hal yang normal dan patut kuceritakan kepada kalian sebelum memulai cerita tak menyenangkan.

Suatu hari salah seorang kawan menghubungiku lewat Whatsapp. Katanya, “Kak, aku galau. Ada yang suka dan confess ke aku. Aku juga suka, tapi masalahnya dia masih minor.”

Aku menjawab tegas: “jangan dulu. Usia kalian emang nggak beda jauh, tapi kalau benar sayang dan jodoh, tunggulah. Tunggu dia beberapa tahun lagi. Sabarlah seenggaknya sampai dia punya KTP”.

Bagiku, itu dilema yang masih masuk akal bagi manusia yang punya otak. Jatuh cinta pada seseorang yang masih tergolong anak-anak memang bisa membingungkan, tapi kebingungan tidak boleh dijadikan pembenaran. Ini jelas berbeda dengan figur-figur seperti Bobby atau Humbert yang sudah jelas predator dan tidak perlu ditafsirkan ulang.

Namun tidak semua relasi bermasalah datang dengan wajah om-om pedofil. Ternyata ada juga yang datang dengan bahasa yang rapi dan niat yang rasional. Dan di situlah aku teringat pada satu sosok yang kutemui di dunia nyata, sebut saja dia X.

Usia kami terpaut sekitar lima atau enam tahun saja. Tidak ada hubungan istimewa. Tidak pernah pacaran apalagi status. Tapi keberadaannya dalam hidupku terasa seperti sales yang terus-menerus menjanjikan hidup indah bersamanya.

Caranya berbicara panjang lebar, satu arah. Ketika aku diam, dia akan langsung berasumsi sendiri: seakan aku menyalahkannya, seakan aku terlihat bodoh karena jalan hidupnya tidak jelas. Lalul terkadang dia tiba-tiba dia menyanjungku.

Namun ketika aku mulai bercerita tentang jalanku sendiri tentang apa yang kuinginkan, dia akan heran. “Masa nggak mau begini? Masa nggak mau begitu?” seolah preferensiku itu rendahan, dan harus dibetulkan.

Baca Juga :  Spirit Perjuangan HMI : Menginternalisasi NDP Melalui Teologi, Kosmoligi dan Antropologi untuk Mewujudkan Keadilan Sosial

Belakangan, dia menghubungiku lagi. Mengajakku kabur ke negara lain. Dia yang pertama kali menyarankan menikah. Aku sempat mencoba menyetujuinya, tapi dengan satu syarat kalau itu bukan jalan cepat.

Lalu dia menyusun semacam brief, seperti aku bawahannya. Dia memaksaku bicara pada ayahku dengan tenggat waktu: besok atau lusa. Kalau tidak, katanya, berarti aku tidak serius.

Yang membuatku sangat terganggu, dia mengetik kata “sial” dan menuduhku tidak serius hanya karena aku memilih bicara dengan ayahku pelan-pelan, bertahap. Kata-kata kasar seperti sial atau bangsat mungkin terdengar biasa kalau konteksnya bercanda. Tapi ini bukan bercanda. Ini reaksinya terhadap caraku berkomunikasi dengan ayahku sendiri. Sejak kapan kehati-hatian dianggap kesalahan?

Dari cara dia mendesak, hidupku rasanya diperlakukan seperti proposal proyek. Berkali-kali di telepon aku bilang, “Bang, tenang. Sabar. Calm down.” Tapi yang kudapat justru tekanan yang semakin padat.

Setelah aku mengatakan ragu dan berterima kasih atas tawarannya. Di akhir dia tetap berharap aku yang datang menemuinya jika berubah pikiran. Aku tegang karena dia bicara dengan nada tegang, aku coba menarik napas dan pura-pura tertawa tapi dia menggertakku seperti militer “kenapa ketawa ada yang lucu dari saya?” ini juga tak kalah membuatku kaget. Aku bilang aku tegang saja aku bilang, lagian dia tidak ada lucu-lucunya sama sekali.

Tawaran kabur aja dulu bareng X mungkin kesempatan emas. Tapi relasi kuasa antara aku dan dia terlalu jauh. Dia sudah punya rencana matang di sana. Keahliannya sudah oke. Aku? Masih bingung dan X terus mendesak untuk segera menemuinya. Ia bahkn sempat mengeluh bertemu dengan ayahku adalah sebuah hambatan.

Di sisi lain, urusan visa bisa dengan mudah menjebakku untuk terus bersamanya, bergantung secara ekonomi, atau bahkan berhutang. Di titik itu aku sadar kalau relasi hipergami tidak romantis, ada relasi kuasa yang timpang di sana.

Baca Juga :  Menyambut Hari Kemenangan: Refleksi Akhir Ramadan

Aku sudah bisa membayangkan masa depan di mana dia melegitimasi ucapan dan tindakannya yang kasar hanya karena “sudah banyak membantu”. Hidungku sudah mencium bau KDRT dari radius 229 kilometer.

Aku bahkan sempat berpikir soal jarak kabur ke kota tempat temanku tinggal jika kekerasan terjadi, sayang jaraknya jauh sekali. Artinya, kalau aku terjebak, aku benar-benar sendirian. Yang membuatku semakin bingung kenapa dia mengajak orang? Bukankah hidup sendiri juga bisa bahagia dan bisa lebih banyak menabung? Dia punya saudara di sana. Kalau berdua, biaya justru lebih besar.

Di awal kami bertemu, dia pernah bilang katanyab ingung usai putus kalau tidak ada yang “dikasih uang”. Maksudnya apa? Takut kehilangan kontrol? Takut tidak ada manusia yang bisa dikontrol olehnya?

Pengalaman ini terasa menguras tenaga. Setiap selesai berbicara dengannya, rasany ingin menangis, aku menahannya sampai mual. Akhirnya air mata tumpah juga. Aku merasa sedih yang sangat mendalam seperti ada yang salah dengan diriku.

Aku sempat bertanya-tanya apakah ini psikosomatis. Psikologku bilang tubuhku memang peka terhadap ancaman. Ketika merasa tidak aman, tubuhku bereaksi duluan lewat mual, pusing, lemas, dan keinginan untuk menangis tanpa alasan jelas.

Tubuhku tak terima diperlakukan seperti itu. Bahkan ayahku tidak pernah pernah memaksa, atau menaikkan nada bicaranya kepadaku. Tidak pernah memberiku deadline atas hidupku sendiri

Dari pengalaman ini aku mengerti kalau ini bukan perkara soal gap usia, bukan soal legal atau belum. Ini soal pola relasi kuasa yang timpang. Soal orang-orang yang menjual masa depan itu hadiah, padahal sebenarnya alat kontrol.

Aku jadi paham grooming tidak melulu soal usia yang timpang jauh. Tetapi juga bisa hadir dengan, rencana matang, dan janji hidup lebih baik-sementara perlahan-lahan kita tengah menggerus otonomi diri sendiri.

Broken Strings mengingatkanku bahwa tubuh sering kali lebih jujur daripada rencana masa depan atau kekayaan. Dan kali ini, aku memilih percaya pada tubuhku sendiri 🙂

 

Penulis : Asrianti Puspitasari

Editor : Admin Trisakti

Berita Terkait

Transformasi Panopticon: Hegemoni Kontrol Sosial dan Kekerasan Simbolik dalam Masyarakat Kontemporer
Potret Buram Dunia Kerja 2025: Saat CV Hanya Menjadi Tumpukan Doa
Kelas Sosial Berdasarkan Habitus
Nurani Rakyat Ditengah Bencana
Filantropi Berisik
Sejauh Mana Negara Mampu Menghentikan Krisis Ekologis?
KUHAP Baru dan Politik Pengamanan Negara: Tubuh Warga dalam Bayang-Bayang Kekuasaan
Ketika Judi online (Judol) Termasuk Penyakit Masyarakat Direktur YLBH Fajar Trilaksana: Maka Jangan Dipidana.

Berita Terkait

Minggu, 18 Januari 2026 - 08:01 WITA

Transformasi Panopticon: Hegemoni Kontrol Sosial dan Kekerasan Simbolik dalam Masyarakat Kontemporer

Jumat, 16 Januari 2026 - 23:54 WITA

Potret Buram Dunia Kerja 2025: Saat CV Hanya Menjadi Tumpukan Doa

Jumat, 16 Januari 2026 - 09:27 WITA

Broken Strings dan Wajah Lain Grooming

Kamis, 15 Januari 2026 - 20:17 WITA

Kelas Sosial Berdasarkan Habitus

Senin, 15 Desember 2025 - 13:23 WITA

Nurani Rakyat Ditengah Bencana

Berita Terbaru