Gimik “Mas Bahlil Ganteng” dan Taktik Kekuasaan Menjinakkan Daya Kritis

- Jurnalis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:53 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspi, Akar Rumput

Tentang bahaya desensitisasi massal ketika tragedi nyata di sekitar kita perlahan dikemas menjadi sekadar hiburan jenaka yang melalaikan

Belakangan ini, linimasa kita kembali dipadati oleh tren baru yang begitu cepat menular. Sebuah lagu hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) bertajuk “Mas Bahlil Ganteng” mendadak viral. Nadanya yang adiktif dan liriknya yang menggelitik membuat banyak orang dengan riang membagikannya, menjadikannya latar musik untuk berbagai video pendek, bahkan menyanyikannya di kehidupan sehari-hari. Banyak yang menganggap lagu ini adalah puncak dari satir politik yang jenaka, sebuah produk kreatif dari kumpulan komentar warganet yang menyindir pejabat publik terkait.

Namun, di tengah keriuhan tersebut, saya memilih untuk tidak ikut merayakannya. Saya ingin membicarakan apa yang terjadi pada kita setelahnya, dan mengapa hal tersebut merupakan persoalan yang besar.

Komodifikasi Kritik dan Desensitisasi Sistematis

Satu hal yang paling mengkhawatirkan dari fenomena ini adalah bagaimana sebuah isu serius mengalami desensitisasi secara perlahan. Ketika kritik politik yang tajam diringkas menjadi sebuah lagu yang renyah dan mudah ingat, kita sedang menyaksikan proses pendangkalan realitas. Isu-isu yang krusial didegradasi menjadi sekadar tren tari atau humor ironis yang berumur pendek.

Dalam kajian media, fenomena ini sangat sejalan dengan apa yang dikhawatirkan oleh Neil Postman dalam bukunya yang monumental, Amusing Ourselves to Death (Menghibur Diri hingga Mati). Postman menjabarkan, bahwa format media yang kita gunakan secara otomatis mendikte bentuk kebenaran dan keseriusan informasi yang disampaikan. Ketika politik dan kritik kebijakan disajikan dalam format hiburan pop yang adiktif, medium itu tidak menghapus kemampuan berpikir kita; namun ia mengubah cara kita berpikir. Kompleksitas yang seharusnya menuntut respon serius diproses ulang oleh otak kita sebagai konsumsi harian yang menyenangkan. Politik tidak lagi dipandang sebagai arena perebutan kebijakan publik yang menentukan hidup orang banyak, melainkan bergeser menjadi tontonan komedi yang habis dalam sekali tonton.

Secara psikologis, tradisi psikoanalisis mengenal sebuah mekanisme pertahanan di mana ancaman nyata diolah menjadi tawa agar kecemasan yang tak tertahankan bisa ditoleransi tanpa harus dikonfrontasi. Freud sendiri, dalam esainya Humour (1927), menulis bahwa humor adalah cara ego menolak untuk menderita. Seakan menjadi sebuah kemenangan kecil melawan realitas yang menekan. Dalam batas tertentu, mekanisme ini memang sehat karena berfungsi sebagai katarsis agar kita tidak gila di bawah tekanan ekstrem.

Namun, bahaya besar mengintai ketika katarsis ini diproduksi secara massal tanpa henti oleh algoritma. Mekanisme pertahanan diri ini dengan cepat bergeser menjadi penghindaran. Lelucon tidak lagi membantu kita menanggung realitas untuk sementara waktu. Lelucon justru memberi kita izin kolektif untuk menutup mata dari kenyataan tersebut. Ketika sebuah isu publik yang mendesak, seperti harga energi yang mencekik, distribusi yang timpang, hingga kebijakan yang tidak transparan dikemas ulang menjadi melodi yang adiktif, sesuatu yang substansial luruh dalam proses pengemasan itu.

Humor yang diproduksi tanpa konteks dan tanpa niat kritis yang eksplisit bekerja sebagai anestesi, mematikan rasa sakit kita untuk sementara waktu tanpa pernah menyembuhkan luka sistemik yang ada.

Kemasan Kosong Tanpa Pertanggungjawaban

Yang memperumit situasi ini adalah fakta bahwa lagu tersebut dibuat oleh kecerdasan buatan. Lagu itu dikompilasi dari komentar publik, diproses oleh algoritma, lalu dimuntahkan kembali sebagai produk yang terasa seperti suara kolektif, tetapi sebenarnya tidak berasal dari siapa pun secara spesifik.

Lagu berbasis AI ini menunjukkan bahaya dari sebuah ekspresi tanpa pengarang konkret. Ketika sebuah karya tidak memiliki individu nyata di baliknya, tidak ada pula pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban moral atau hukum. Lagu ini hadir seolah terjadi secara alamiah dari bawah sebagai representasi kehendak bersama, padahal ia adalah sebuah produk tak bertuan yang sangat rentan dibajak untuk kepentingan pencitraan pihak yang dikritik.

Baca Juga :  Sepeda Motor Pelaku Balap Liar di Bone Bisa Diambil Setelah Idul Fitri

Upaya pembajakan narasi ini terlihat nyata ketika elite politik mulai menggunakan narasi viralitas tersebut untuk membalikkan keadaan. Sebagai contoh, Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, menyebutkan bahwa lagu tersebut justru merupakan bentuk penghargaan atas kerja keras pejabat yang bersangkutan. Sebagaimana dikutip dari Kompas.com, ia menyatakan, “Itu, kan, justru berasal dari kreativitas netizen sebagai salah satu bentuk penghargaan netizen atas kerja keras Pak Bahlil. Kalau ada akun Golkar yang ikut meramaikan, ya wajar saja, mereka bagian dari netizen juga.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan dengan sangat benderang betapa mudahnya sebuah satir yang tidak bertuan dibelokkan maknanya. Kritik yang awalnya lahir dari kegeraman publik, dalam sekejap diklaim oleh kekuasaan sebagai bentuk apresiasi yang manis.

Ekspresi artistik, sekecil atau sesederhana apa pun itu, membawa bobot moral dari penciptanya karena ia bertindak sebagai sebuah tanda tangan kemanusiaan. Ketika tanda tangan itu dihilangkan dan suara tidak lagi berasal dari individu nyata yang menanggung konsekuensi langsung dari krisis tersebut, yang tersisa hanyalah gimik artifisial tanpa pertanggungjawaban. Kemasan kosong seperti ini sangat mudah dikonsumsi, sangat mudah dibagikan, dan secara ironis, sangat mudah digunakan oleh kekuasaan untuk menjinakkan daya kritis masyarakat.

Saya memahami sepenuhnya bahwa penggunan AI-generatf saat ini adalah tuntutan pekerjaan demi efisiensi. Akan tetapi, ketika teknologi ini digunakan untuk membuat proyek seni yang ditujukan kepada pejabat publik, meskipun dengan dalih humor atau sindiran, ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati saya.

Penjinakan Nalar Lewat Nada

Di luar aspek teknis pembuatan lagu, hal yang jauh lebih mengganggu saya adalah siapa yang menyanyikannya. Anak-anak yang menghafal lirik lagu tersebut tidak memiliki instrumen berpikir untuk membedakan mana satir, mana pujian, atau mana lelucon yang membawa pesan serius. Mereka belum memiliki kapasitas sebagai audiens kritis. Mereka bertindak sebagai medium transmisi yang pasif.

Gerbner mengembangkan cultivation theory untuk menggambarkan bagaimana paparan media yang konsisten dan berulang (bukan satu konten tunggal, melainkan sebuah pola yang terus diproduksi) secara perlahan menanamkan sistem nilai dan persepsi tentang realitas di dalam pikiran audiensnya. Dalam ekosistem algoritma hari ini, lagu ini bukan kejadian sekali. Ia adalah bagian dari arus panjang konten serupa yang terus-menerus dipompa: krisis dijadikan meme, pejabat dijadikan karakter komedi, dan kemarahan publik diurai menjadi tren yang berganti setiap minggu. Itulah konteks di mana kultivasi bekerja.

Anak-anak yang tumbuh dengan mendengarkan lagu ini sebagai latar belakang aktivitas harian mereka tidak sedang belajar tentang kegagalan krisis energi atau pelanggaran etik pejabat publik. Secara tidak sadar, pikiran mereka sedang dikultivasi untuk percaya bahwa nama seorang pejabat hanyalah bahan gurauan jenaka yang menggemaskan, dan gurauan itu dirasa sudah cukup.

Pembodohan massal ini tidak datang melalui doktrinasi politik yang kaku atau pengumuman resmi pemerintah yang membosankan. Ia menyusup lembut lewat nada-nada menyenangkan yang terus terngiang di kepala mereka.

Baca Juga :  Kemerdekaan di Balik Meja Kerja: Belajar dari Viktor Frankl tentang Ketangguhan Mental

Kita bisa melihat paralel sejarah yang sangat dekat dari situasi politik di Amerika Serikat menjelang tahun 2016. Saat itu, Donald Trump adalaj bahan meme yang sangat populer di jagat internet. Segala hal tentang dirinya dipandang absurd, karikatural, dan sangat mudah ditertawakan. Acara televisi populer menjadikannya sebagai bahan komedi mingguan yang dinanti-nanti, sementara media sosial mengubah figur tersebut menjadi arus konten humor yang tiada habisnya.

Namun, di tengah gelombang tawa massal itu, rekam jejaknya yang bermasalah, keputusan kebijakan yang buruk, hingga tuduhan hukum yang sangat serius perlahan tenggelam di bawah tumpukan humor. Lelucon tidak membuat Trump kalah pada pemilu 2016. Sebaliknya, lelucon justru membantunya menjadi sosok yang familiar di mata publik. Keakraban itu membuat sosoknya tidak lagi terasa mengancam. Normalisasi krisis sering kali datang melalui keakraban, melalui pengulangan, dan melalui nama-nama yang terlalu sering disebut dalam konteks tawa hingga pikiran kita kehilangan kepekaan untuk meresponsnya secara serius.

Satir yang Bermartabat versus Tawa Pereda Rasa Bersalah

Saya tidak ingin bersikap seolah-olah tawa adalah musuh yang harus dihindari. Satir yang bermartabat, mulai dari era klasik Aristophanes hingga puisi-puisi perjuangan Wiji Thukul, menggunakan tawa sebagai senjata yang tajam untuk membongkar ketimpangan kekuasaan, sekaligus menghindari peran sebagai peredam kemarahan rakyat.

Perbedaan mendasarnya terletak pada eksistensi pencipta dan efek pasca-tawa yang ditinggalkan. Satire yang bermartabat memiliki manusia nyata di baliknya yang menanggung risiko fisik, moral, dan hukum atas apa yang mereka suarakan. Satir jenis ini dirancang untuk membuat kita tertawa sekaligus merasa tidak nyaman pada saat yang bersamaan. Ia tidak membiarkan audiensnya pulang dengan perasaan lega atau puas diri. Ada sesuatu yang mengganjal di dada setelah tawa itu reda, dan ganjalan berupa rasa bersalah serta kemarahan itulah yang kemudian menggerakkan perubahan sosial di dunia nyata.

Di sisi lain, lagu berbasis kecerdasan buatan yang tidak memiliki tanda tangan penciptanya tidak akan meninggalkan ganjalan moral apa pun di hati kita. Ia selesai begitu musiknya berhenti. Yang saya khawatirkan adalah lagu-lagu semacam ini membuat kita merasa sangat lega, seolah-olah kita sudah selesai menunaikan kewajiban moral sebagai warga negara yang kritis hanya dengan ikut bersenandung di media sosial.

Di luar ruang digital yang riuh ini, kenyataan hidup sehari-hari tetap berjalan tanpa kompromi. Harga minyak masih mencekik, kantong plastik semakin mahal, nilai tukar dolar terus merangkak naik, dan bensin mahal menjadi beban nyata di pundak masyarakat.

Saya tidak akan pernah lupa bahwa di negeri ini, ada warga negara yang harus kehilangan nyawa akibat berdesakan dalam antrean panjang demi mendapatkan tabung gas bersubsidi. Bukti terjadinya tragedi kemanusiaan dalam sebuah kegagalan sistemik ini tidak boleh diredam atau diubah menjadi sekadar trivia dalam lautan konten yang terus berganti.

Menolak untuk ikut menertawakan atau membagikan lagu “Mas Bahlil Ganteng” tidak menandakan seseorang kehilangan selera humor atau bersikap kaku. Langkah ini merupakan upaya sadar untuk menjaga agar kompas moral kita tidak mati rasa akibat gimik artifisial yang dipicu oleh algoritma.

Saya percaya bahwa beberapa hal di dunia ini memang tidak seharusnya terasa ringan, setidaknya tidak sebelum kita benar-benar menyelesaikannya secara adil di dunia nyata.

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Kemunafikan Ekologis: Menjual Narasi Hijau di Hilir, Menandatangani Konsesi Tambang di Hulu
KEPMI Bone Latenriruwa Audiensi DPRD Sulsel, Bahas Kaderisasi Hingga Kejahatan Terorganisir
SDN 263 Awang Tangka Sabet Juara 1 Senam Lantai Putra-Putri O2SN Kabupaten Bone 2026
Sukses Digelar Secara Daring, Pra Konferensi ICTIM 2026 Siapkan Peneliti Hasilkan Karya Bereputasi Dunia
Di Bawah Kepemimpinan BerAmal, Ekonomi Bone Terus Menguat dan Jadi Salah Satu Tertinggi
Wakil Bupati Bone Sambut Kepulangan 393 Jemaah Haji Asal Daerah, Pulang Selamat dan Lengkap
Buku “BupAAS: Jalan Pengabdian” Diluncurkan, Kisah Kepemimpinan dari 44 Sudut Pandang
Prabowo-Macron Perkuat Kemitraan Strategis, Indonesia-Prancis Siap Hadapi Ketidakpastian Global
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:53 WITA

Gimik “Mas Bahlil Ganteng” dan Taktik Kekuasaan Menjinakkan Daya Kritis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:19 WITA

Kemunafikan Ekologis: Menjual Narasi Hijau di Hilir, Menandatangani Konsesi Tambang di Hulu

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:51 WITA

KEPMI Bone Latenriruwa Audiensi DPRD Sulsel, Bahas Kaderisasi Hingga Kejahatan Terorganisir

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:45 WITA

SDN 263 Awang Tangka Sabet Juara 1 Senam Lantai Putra-Putri O2SN Kabupaten Bone 2026

Jumat, 5 Juni 2026 - 21:01 WITA

Sukses Digelar Secara Daring, Pra Konferensi ICTIM 2026 Siapkan Peneliti Hasilkan Karya Bereputasi Dunia

Berita Terbaru