Oleh: Rahman, S.E., M.M., C.RIP
Masih sangat lekat di ingatan kita dua hal yang disebut sebagai penyebab utama kebutaan hati manusia: cinta dan uang.
Cinta di sini bukanlah kasih sayang, melainkan cinta buta akan kekuasaan, jabatan, dan kenyataan posisi. Sedangkan uang adalah segala bentuk materi yang mampu menukar prinsip, harga diri, dan kebenaran.
Kedua hal inilah yang menjadi akar utama mengapa kita sering kali menyaksikan kenyataan pahit: mereka yang memiliki keahlian, ilmu, dan kepakaran nyata di bidangnya, justru tidak difungsikan, disingkirkan, atau hanya dijadikan pajangan semata.
Kenyataan ini terlihat sangat nyata di lingkungan kerja. Di dunia industri, pola ini berjalan sangat sistematis dan terstruktur. Ironi terbesarnya adalah: mereka yang memiliki keahlian, mereka yang paham betul seluk-beluk pekerjaan, mereka yang mengerti sistem, justru sama sekali tidak diberi panggung untuk berkembang.
Sering kali terlihat, posisi-posisi strategis, jabatan penting, dan kesempatan untuk maju tidak jatuh ke tangan orang yang paling mengerti, paling mampu, atau paling berpengalaman di bidang tersebut.
Sebaliknya, kesempatan itu diberikan kepada mereka yang dekat dengan penguasa, mereka yang pandai mengambil hati, atau mereka yang hatinya sudah dibutakan oleh uang dan janji jabatan.
Akibatnya, orang-orang hebat, orang-orang yang jika diberi kepercayaan mampu membawa perubahan besar dan kemajuan pesat, malah dikunci potensinya, dibiarkan diam, dan tidak diberi ruang sedikit pun untuk menyalurkan kemampuan terbaiknya.
Inilah wajah asli sistem penjajahan modern ala industrial. Di dalam sistem ini, pihak penguasa atau pemegang kendali sebenarnya tidak menginginkan orang yang benar-benar ahli untuk naik ke permukaan.
Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, namun sangat menyakitkan. Karena orang yang ahli, orang yang paham, orang yang punya keahlian murni, biasanya punya prinsip dan pendirian.
Dia tahu mana keputusan yang benar dan mana yang salah. Dia tahu mana cara kerja yang efisien dan mana yang boros. Dia tahu mana kebijakan yang menguntungkan dan mana yang justru merugikan, mungkin demi kepentingan pribadi segelintir orang.
Bagi mereka yang hanya mementingkan kekuasaan dan keuntungan sendiri, orang seperti ini adalah ancaman. Kehadiran orang yang berkompeten dan berprinsip adalah cermin yang akan memperlihatkan ketidakmampuan, kesalahan, atau kebobrokan sistem yang selama ini berjalan.
Maka, jalan yang diambil bukanlah memanfaatkan keahlian itu demi kemajuan, melainkan mematikan potensi itu sejak dini. Mereka tidak memberi panggung, tidak memberi wewenang, dan tidak memberi kesempatan. Agar yang ahli tetap diam, agar yang paham tetap tidak bersuara, dan agar kendali tetap utuh di tangan mereka yang hanya mengerti soal kekuasaan dan uang, bukan soal kualitas kerja.
Kondisinya pun sama. Banyak jabatan tinggi yang diisi oleh orang-orang yang hanya berperan sebagai topeng. Mereka kelihatan gagah di depan, kelihatan berkuasa, mengeluarkan perintah, dan bicara seolah-olah paling tahu segalanya.
Padahal, jika ditelusuri, mereka tidak paham apa-apa soal teknis, tidak paham soal sistem, dan tidak paham soal masa depan. Mereka ada hanya untuk menjalankan perintah, menjaga kepentingan, dan memastikan roda keuntungan pribadi tetap berputar.
Sementara itu, di sekeliling mereka, ada banyak sekali tenaga-tenaga hebat. Ada rekan-rekan yang memiliki keahlian luar biasa, yang setiap hari bekerja keras, mengerti seluk-beluk mesin, mengerti seluk-beluk administrasi, mengerti cara memajukan produksi.
Namun, keahlian itu dikubur hidup-hidup. Tidak diberi panggung untuk berkembang, tidak diberi wewenang untuk mengubah keadaan, dan tidak diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa industri bisa jauh lebih maju jika dikelola oleh orang-orang yang benar-benar paham.
Ini adalah kerugian besar, bukan hanya bagi individu, tetapi bagi dunia industri itu sendiri. Bagaimana mungkin sebuah industri bisa tumbuh, bisa maju, bisa bersaing, jika potensi terbaiknya justru sengaja dikunci? Bagaimana mungkin kualitas meningkat, jika yang tidak paham mengatur yang paham?
Selama budaya ini masih berjalan di mana keahlian dianggap ancaman, di mana kepintaran dianggap bahaya, dan di mana panggung kemajuan hanya disediakan untuk mereka yang dekat kekuasaan, bukan mereka yang punya kemampuan maka jangan berharap ada perubahan berarti.
Selama yang ahli masih tidak diberi tempat untuk berkembang, industri hanyalah bangunan besar yang kokoh di luar, namun fondasinya perlahan keropos di dalam, karena yang memegang kendali bukanlah mereka yang paham cara menjaganya tetap berdiri tegak.
Penulis : Rahman, SE., MM., CRIP
Editor : Admin Redaksi








