Ikigai dan Jebakan Manis Kapitalisme

- Jurnalis

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:44 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspi, Akar Rumput

Saat masih duduk di bangku kuliah, saya berkenalan dengan konsep ‘ikigai’ melalui sebuah organisasi ekstrakampus. Konsep ini, yang katanya berasal dari falsafah hidup orang Jepang, dimaknai oleh kami, para mahasiswa, sebagai dorongan untuk menemukan tujuan hidup yang termanifestasi dalam bentuk ‘pekerjaan yang sempurna’.

Disebut sempurna karena pekerjaan ini digambarkan sebagai perpaduan antara hal yang kami sukai, yang bermanfaat bagi orang lain, dan yang bisa menghasilkan uang yang cukup. Akhirnya, kami selalu diingatkan untuk terus ‘membentuk’ dan ‘mengembangkan diri’ agar bisa mendapatkan ‘pekerjaan sempurna’ tersebut.

Ada masanya ketika saya sangat percaya pada konsep ini. Arah hidup saya dibentuk oleh keinginan untuk menghidupi diri melalui pekerjaan yang ‘sempurna’ tersebut. Saat itu saya percaya, jika saya mengerjakan apa yang saya sukai, maka saya akan menemukan tujuan hidup yang lebih besar daripada sekadar menjalani hari demi hari—dan pada saat yang sama, saya juga bisa mendapatkan uang yang banyak dari sana!

Ternyata, saya cukup beruntung karena bisa mengerti dan hidup sesuai dengan konsep ini. Saya mendapatkan ‘pekerjaan yang sempurna’ itu! Apa yang saya kerjakan ternyata bermanfaat bagi orang lain. Saya juga cukup menikmati kegiatan sehari-hari di kantor, dan yang terpenting: setiap bulan rekening saya mendapatkan bayaran yang lebih dari cukup untuk menghidupi diri sendiri.

Baca Juga :  Gerbong Mana yang Aman? Seluruh Gerbong Adalah Doa yang Sama

Sialnya, tidak ada yang pernah memberi tahu saya bahwa harga dari pekerjaan yang sempurna adalah ketidaksempurnaan itu sendiri.

Tidak ada yang mengatakan kalau saya bisa membenci apa yang saya kerjakan.

Tidak ada yang mengatakan jika mengerjakan apa yang kita sukai, namun dengan tekanan dari atasan dan bawahan, justru akan menambah beban pikiran kita.

Tidak ada yang bilang kalau pada akhirnya, saya akan merasa burnout melakukan hal yang sangat saya sukai.

Tidak ada yang bilang kalau sebuah pekerjaan di masyarakat yang kapitalistik pada akhirnya tetaplah sebuah pekerjaan.

Tidak ada yang bilang kalau ‘ikigai’ yang saya pelajari ternyata hanyalah jebakan yang dibuat oleh orang-orang yang mendewakan kapitalisme. Mereka yang ingin memastikan kami menghasilkan sebanyak mungkin, karena kan, kami menyukai pekerjaan itu !

Dengan dalih ‘ passion ‘, ‘kerja keras’, ‘kamu beruntung bisa bekerja seperti ini’, kapitalisme secara tidak langsung mengajarkan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk bekerja, makanya konsep ‘pekerjaan sempurna’ pun menjadi penting. Seakan-akan, jika kita menyukai apa yang kita lakukan, bekerja terus-menerus seharusnya tidak menjadi masalah. Akhirnya, kita jadi melupakan hubungan kekuasaan yang ada, bahwa yang memperkaya dan yang paling diuntungkan bukanlah diri kita sebagai pekerja, melainkan si pemberi kerja dan yang punya modal.

Baca Juga :  Cahaya yang Terus Bergerak: Membaca Ulang Kartini Hari Ini

Kapitalisme seolah-olah mengajarkan bahwa beristirahat adalah ‘hadiah’ yang baru bisa kita terima setelah bekerja keras. Atau bahkan, jika kita sangat bersemangat dan menyukai pekerjaanmu, tidak apa-apa kalau kita tidak mau beristirahat sekalipun. Kita bisa terus bekerja dan meniti karir setinggi-tingginya. Hingga akhirnya saya menyadari, berusaha untuk terus meniti karier, bahkan di pekerjaan yang terasa ‘sempurna’, hanyalah jebakan kapitalisme.

Selama ini, kita diajarkan untuk merasa bersalah ketika beristirahat. Sistem kapitalisme menyamakan istirahat dengan menyerah, menghela napas dianggap tidak bersyukur, dan berhenti sejenak dianggap sebagai sebuah kelemahan.

“Kamu kan suka dengan pekerjaan ini. Ini tuh pekerjaan yang ‘sempurna’ loh. Kok, kamu malah berhenti? Kamu gak bergairah ya?”

Ada logika yang aneh dari pernyataan tersebut, yang sering dilontarkan di gedung-gedung kantor. Mengapa malah kita, para pekerja, yang disalahkan karena kelelahan ketika terus-menerus bekerja—bahkan ketika pekerjaan itu ‘sesuai’ dengan ‘ passion ‘ kita? Mengapa seolah-olah beristirahat menjadi suatu hal yang tabu untuk dilakukan oleh seorang pekerja? Mengapa pekerja harus selalu dituntut untuk bekerja lebih cepat, lebih produktif, dan lebih efisien?

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

KAMPUS DALAM BAYANG-BAYANG FORMALITAS: ANTARA GELAR, CITRA, DAN KEHILANGAN SUBSTANSI
Menyeruput “SUSU” yang Tak Hangat: Ironi Struktur dan Skala Upah
Menagih Janji Pasal 31: Catatan Kritis Hari Pendidikan Nasional
Outsourcing Perjuangan: Ironi Gerakan yang Gagal Menghidupi Diri
Gerbong Mana yang Aman? Seluruh Gerbong Adalah Doa yang Sama
Pendidikan Sebagai Senjata: Mengubah Kemarahan Sporadis Menjadi Kesadaran Terorganisir
Cahaya yang Terus Bergerak: Membaca Ulang Kartini Hari Ini
Bukan Belahan Jiwa, Tapi Teman Menderita: Sebuah Catatan tentang Pernikahan

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:44 WITA

Ikigai dan Jebakan Manis Kapitalisme

Senin, 4 Mei 2026 - 09:17 WITA

KAMPUS DALAM BAYANG-BAYANG FORMALITAS: ANTARA GELAR, CITRA, DAN KEHILANGAN SUBSTANSI

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:05 WITA

Menyeruput “SUSU” yang Tak Hangat: Ironi Struktur dan Skala Upah

Sabtu, 2 Mei 2026 - 06:32 WITA

Menagih Janji Pasal 31: Catatan Kritis Hari Pendidikan Nasional

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:06 WITA

Outsourcing Perjuangan: Ironi Gerakan yang Gagal Menghidupi Diri

Berita Terbaru

Opini

Ikigai dan Jebakan Manis Kapitalisme

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:44 WITA