Bukan Belahan Jiwa, Tapi Teman Menderita: Sebuah Catatan tentang Pernikahan

- Jurnalis

Selasa, 21 April 2026 - 10:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspiyandi

Pernikahan adalah tindakan perlawanan konyol namun paling berani melawan eksistensial.

Pernikahan, dalam bentuknya yang paling murni, adalah sebuah tragikomedi yang dilegalkan oleh negara dan disucikan oleh agama. Ia adalah satu-satunya kontrak hukum di dunia di mana kedua belah pihak menandatanganinya dengan senyuman lebar, diiringi tepuk tangan meriah, tanpa benar-benar membaca “syarat dan ketentuan yang berlaku” di halaman belakang—terutama klausul tentang kebosanan, cicilan, dan … ah masih banyak lagi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertanyaannya, seberapa penting pernikahan?

Jika kita bertanya pada peradaban manusia, definisinya adalah “mutlak”. Jika kita bertanya pada statistik perceraian hari ini, penjelasannya mungkin “relatif”.

Kita hidup dalam sebuah paradoks yang memusingkan: kita memuja pernikahan, namun diam-diam kita meratapi hilangnya otonomi diri di ruang tamu yang sunyi.

Dari Transaksi Sapi hingga Transaksi Jiwa

Mari kita lihat menggunakan beberapa cara pandang.

Friedrich Engels, dalam Asal Usul Keluarga, Milik Pribadi dan Negara , mungkin akan tertawa terbahak-bahak melihat pernikahan saat ini. Dulu, pernikahan adalah mekanisme peralihan aset dan kepastian garis keturunan ( agar warisan tanah tidak jatuh ke tangan anak haram tetangga ). Sementara Cinta? Ah, Itu konsep borjuis yang baru muncul belakangan sebagai “pemanis buatan” agar pil pahit domestikasi lebih mudah ditelan.

Dalam konteks kontemporer, pernikahan telah bermutasi menjadi apa yang bisa kita sebut sebagai “merger korporasi emosional”. Dua entitas ekonomi (suami dan istri) bersatu untuk menahan inflasi global yang membatasi.

Pernikahan bukan lagi sekedar penyatuan dua hati, melainkan strategi bertahan hidup (survival) agar bisa membayar sewa apartemen di Jakarta atau Bandung “Bumi Pasundan lahir ketika tuhan tersenyum” seperti itu kalimat puitik yang ditulis di dinding/kolong Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung.

Baca Juga :  Perpisahan dengan Ramadan: Memaknai Kehilangan Kebaikan

Membebaskan atau Memikat?

Apakah pernikahan memerdekakan?

Riset terbaru menunjukkan sebuah ambiguitas. Di satu sisi, studi psikologi klinis menunjukkan bahwa orang yang menikah cenderung hidup lebih lama ( mungkin karena ada seseorang yang terus-menerus mengomel agar mereka pergi ke dokter ). Namun, di sisi lain, fenomena Gray Divorce (perceraian di usia senja) dan gerakan 4B di Korea Selatan— Bi Yeon-ae (tidak berpacaran), Bi Sex (tidak berhubungan seks), Bi Hon (tidak menikah), dan Bi Chul-san (tidak melahirkan anak) —adalah pemikiran keras bagi institusi ini.

Kita juga melihat “Resesi Seks” global dan penurunan angka kelahiran yang drastis. Generasi Z dan Milenial mulai menyadari bahwa pernikahan, dalam format tradisionalnya, sering kali adalah jebakan patriarki berbalut gaun putih atau, sebaliknya, beban finansial seumur hidup bagi laki-laki yang dituntut menjadi pencari nafkah di tengah ekonomi yang tidak menentu.

Pernikahan saat ini sering kali terasa seperti berlangganan (langganan) berbayar mahal yang sulit dibatalkan.

Menurut Alain de Botton, filosofi kehidupan sehari-hari, yang sering membahas cinta dengan nada melankolis, masalah utama pernikahan adalah kita menikahi orang yang salah. Mengapa? Karena kita semua gila, rusak, dan neurotik , tapi kita tidak menyadarinya sampai kita tinggal satu atap. Kita mencari belahan jiwa yang bisa menjadi kekasih, sahabat, orang tua, konselor karir, dan mitra bisnis sekaligus.

Itu bukan pernikahan; itu permintaan mukjizat.

Syarat dan Pra-syarat Mutlak

Jika Anda bertanya apa syarat mutlak untuk menikah hari ini, lupakan klise “ cinta dan kepercayaan ”.

Baca Juga :  Kekerasan Literasi Di Tengah Hegemoni Media Sosial

Riset dari Gottman Institute—yang dapat memprediksi perceraian dengan akurasi 90%—menunjukkan bahwa yang kita perlukan adalah kemampuan untuk bernegosiasi tanpa saling menghancurkan.

Syarat mutlaknya adalah, kesiapan finansial (atau Kesiapan Menderita Bersama). Sebuah romantisasi akan mati kelaparan di hadapan tagihan listrik dan biaya popok. Bukan kutukan, ini kenyataan logistik.

Syarat lain adalah toleransi terhadap kebosanan . Pernikahan adalah seni melakukan hal yang sama berulang kali dengan orang yang sama, sambil berpura-pura masih tertarik.

Dan yang tak kalah penting, kematangan Emosional Diferensiasi Diri) . Yaitu kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri sambil terikat dengan orang lain. Seperti yang dikatakan Esther Perel, “ Cinta butuh kedekatan, tapi gairah butuh jarak. ” Masalahnya, pernikahan hari ini membunuh jarak itu.

Kegilaan yang Indah

Jadi, seberapa besar masalah pernikahan saat ini? Sangat. Ia adalah institusi kuno yang dipaksa beroperasi di dunia yang serba cepat dan individualis.

Namun, ada ironi di sini. Di tengah segala absurditas, biaya tinggi, dan risiko sakit hati, kami tetap melakukannya. Kita tetap menikah. Mungkin karena kita, manusia, pada dasarnya adalah makhluk yang optimis secara irasional. Atau mungkin, seperti kata Sartre, “Neraka Adalah Orang Lain tetapi kita terlalu takut untuk sendirian di surga.

Pernikahan adalah tindakan perlawanan konyol namun paling berani melawan eksistensial. Ia adalah penderita yang kita pilih dengan sukarela, sebuah penjara di mana kita memegang kuncinya namun menolak untuk keluar.

Dan mungkin, hanya mungkin, di situlah letak keindahannya yang didapat.

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Gen Z Adalah Cermin: Wajah Busuk Sistem yang Kita Sebut Kemapanan
Bom Waktu Prekariat: Jamur Kemarahan di Bawah Kaki Raksasa Modal
Seni Menghargai Kerumitan
Belajar Merangkak ; Tidak Ada Nasib Buruk, Hanya Pikiran yang Keliru
Simulakra di Langit Teheran
Ruang Sempit Bernama Pola Pikir
Kemilau Nikel dan Luka yang Tersembunyi: Menakar Nasib Buruh Perempuan di Rahim PT. IMIP
Monumen Kerentanan di Balik Kejayaan Nikel: Refleksi Atas Hegemoni Produksi dan Reduksi Hak Buruh di Morowali

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 10:16 WITA

Bukan Belahan Jiwa, Tapi Teman Menderita: Sebuah Catatan tentang Pernikahan

Senin, 20 April 2026 - 10:30 WITA

Gen Z Adalah Cermin: Wajah Busuk Sistem yang Kita Sebut Kemapanan

Senin, 20 April 2026 - 06:53 WITA

Bom Waktu Prekariat: Jamur Kemarahan di Bawah Kaki Raksasa Modal

Minggu, 19 April 2026 - 15:48 WITA

Belajar Merangkak ; Tidak Ada Nasib Buruk, Hanya Pikiran yang Keliru

Senin, 2 Maret 2026 - 04:41 WITA

Simulakra di Langit Teheran

Berita Terbaru