Oleh: Oskar Danil Frastin, Mahasiswa Hukum UNIASMAN
Dunia perkampusan hari ini sedang mengalami pergeseran yang cukup halus, tapi dampaknya besar. Kampus yang dulu dikenal sebagai ruang berpikir bebas, diskusi kritis, dan pencarian makna, perlahan berubah menjadi ruang yang serba formal, serba target, dan serba “terlihat baik di atas kertas.”
Mahasiswa datang, mengikuti kelas, mengerjakan tugas, ikut organisasi, lalu lulus. Semua terlihat berjalan normal. Tapi pertanyaannya, apakah proses itu benar-benar membentuk kualitas, atau hanya sekadar memenuhi kewajiban?
Fenomena yang sering terjadi sekarang adalah kecenderungan mahasiswa untuk menjalani perkuliahan sebagai rutinitas administratif. Hadir karena absensi, belajar karena ujian, aktif karena penilaian. Di luar itu, ruang refleksi dan diskusi semakin jarang ditemukan.
Budaya “Yang Penting Lulus”
Tidak bisa dipungkiri, banyak mahasiswa hari ini terjebak dalam pola pikir pragmatis: yang penting lulus cepat, IPK aman, dan segera mendapatkan pekerjaan. Pola pikir ini tidak sepenuhnya salah, karena realitas ekonomi memang menuntut demikian.
Namun ketika semua orientasi hanya berhenti di situ, pendidikan kehilangan kedalamannya.
Belajar bukan lagi untuk memahami, tetapi untuk menghafal. Diskusi bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk memenuhi tugas. Bahkan tidak sedikit yang lebih fokus mencari “jalan aman” daripada benar-benar menguasai ilmu.
Dalam jangka panjang, ini melahirkan lulusan yang memiliki gelar, tetapi belum tentu memiliki kapasitas yang sebanding.
Organisasi yang Kehilangan Arah
Selain di ruang kelas, fenomena serupa juga terjadi di organisasi mahasiswa. Banyak organisasi berjalan tanpa arah yang jelas. Program kerja dibuat sekadar formalitas, kegiatan dilakukan karena tuntutan, bukan kebutuhan.
Lebih jauh lagi, tidak sedikit mahasiswa yang bergabung organisasi hanya untuk kepentingan pribadi—menambah relasi, mempercantik CV, atau sekadar mendapatkan posisi.
Padahal, organisasi seharusnya menjadi ruang latihan kepemimpinan dan pengabdian.
Ketika orientasi berubah menjadi kepentingan pribadi, maka nilai kolektif dalam organisasi perlahan menghilang.
Relasi Dosen dan Mahasiswa yang Semakin Kaku
Di sisi lain, hubungan antara dosen dan mahasiswa juga sering kali terjebak dalam pola formal. Dosen menyampaikan materi, mahasiswa menerima, lalu selesai. Interaksi yang seharusnya hidup justru menjadi kaku.
Tidak banyak ruang untuk berdialog secara terbuka. Mahasiswa segan bertanya, dosen terbatas waktu, dan akhirnya proses belajar menjadi satu arah.
Padahal, pendidikan yang ideal adalah yang membuka ruang diskusi, bukan hanya transfer materi.
Media Sosial dan Budaya Pencitraan
Tidak bisa diabaikan, media sosial juga turut membentuk wajah kampus hari ini. Banyak mahasiswa lebih sibuk membangun citra sebagai “mahasiswa aktif” daripada benar-benar aktif.
Kegiatan didokumentasikan, diposting, dan dijadikan bagian dari identitas digital. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun ketika esensi kegiatan kalah oleh kebutuhan pencitraan, maka yang tersisa hanyalah tampilan, bukan makna.
Kampus akhirnya tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga panggung.
Realitas yang Perlu Disadari
Fenomena-fenomena ini bukan untuk menyalahkan satu pihak. Ini adalah refleksi bersama. Sistem pendidikan, tekanan ekonomi, budaya digital, dan pola pikir individu—semuanya saling berkontribusi.
Namun satu hal yang perlu disadari, kampus bukan sekadar tempat mendapatkan gelar.
Ia adalah ruang untuk membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara memahami dunia.
Refleksinya sederhana:
Apakah kita benar-benar menjadi mahasiswa, atau hanya menjalankan peran sebagai mahasiswa?
Karena pada akhirnya, yang dibawa setelah lulus bukan hanya ijazah, tetapi juga cara kita melihat dan menghadapi kehidupan. Jika selama di kampus kita hanya mengejar formalitas, maka jangan heran jika yang tersisa hanyalah gelar tanpa arah.
Penulis : oskar
Editor : Admin Redaksi








