Dugaan RJ Berbayar di Polres Nganjuk Mencuat, Pengamat Tegaskan Restorative Justice Gratis

- Jurnalis

Sabtu, 20 Desember 2025 - 11:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SURABAYA, TRISAKTINEWS.COM — Dugaan praktik Restorative Justice (RJ) berbayar kembali mencuat ke publik. Pengamat kepolisian asal Surabaya, Dr. Didi Sungkono, S.H., M.H., menegaskan bahwa RJ tidak dipungut biaya karena tidak memiliki dasar hukum untuk diperjualbelikan.

“Tidak ada itu aturan RJ berbayar, karena tidak ada dasar hukumnya. RJ diatur oleh PERPOL Nomor 08 Tahun 2021. Justru negara akan berkurang bebannya karena hukum itu bersifat problem solving, menyelesaikan masalah,” tegas Didi Sungkono.

Ia menilai, apabila benar ada permintaan uang hingga ratusan juta rupiah dengan dalih pengurusan RJ, maka hal tersebut merupakan sesuatu yang janggal dan harus diungkap secara terang-benderang.

“Kalau benar masyarakat diminta membayar hingga Rp100 juta, ini aneh. Para penegak hukum harus jujur, transparan, dan bernurani. Kalau penegak hukum tidak bermoral, tatanan hukum akan rusak dan kepercayaan rakyat hilang,” ujarnya.

Didi juga mengingatkan bahwa Polri sebagai penegak hukum diatur dalam UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian, sementara advokat diatur dalam UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat.

Baca Juga :  Persiapan Ramadhan, Satpol PP Surabaya Tertibkan PKL Musiman di Mulyorejo

“Sebagai penegak hukum, semua harus beradab dan bermartabat. Profesi hukum adalah profesi mulia (officium nobile), jangan dilacurkan,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pengakuan seorang warga Nganjuk bernama Endang Sulastri, yang mengaku telah menyerahkan uang total Rp140 juta kepada seorang advokat berinisial Sandi Puguh Irawan, dengan janji pengurusan RJ atas perkara yang menjerat suaminya.

Dalam surat pernyataan bermaterai, Endang menyebut penyerahan uang dilakukan pada 27 Agustus 2025 sekitar pukul 02.00 WIB di depan Kantor DPC Partai Hanura Kabupaten Nganjuk, bukan di kantor kepolisian.

Menurut Endang, uang tersebut terdiri dari Rp10 juta sebagai jasa advokat, Rp100 juta yang disebut akan diserahkan kepada penyidik Polres Nganjuk untuk keperluan gelar perkara RJ, serta masing-masing Rp15 juta untuk mediasi dan tambahan pasca gelar perkara.

Namun, saat Endang mendatangi Polres Nganjuk untuk memastikan proses tersebut, penyidik justru mengaku tidak mengetahui adanya gelar perkara RJ sebagaimana yang dijanjikan. Fakta ini memunculkan dugaan pencatutan nama institusi kepolisian dan berpotensi mengarah pada tindak pidana penipuan dan/atau pemerasan.

Baca Juga :  Dorong Produktivitas, Bupati Bone Salurkan Bantuan Peralatan UMKM

“Saya sampai berutang ke saudara-saudara. Sampai sekarang belum bisa melunasi. Saya hanya ingin kejelasan, apakah benar RJ itu harus bayar ratusan juta,” ungkap Endang.

Endang menyatakan bahwa penyerahan uang tersebut disaksikan langsung oleh adiknya, Alvonsius Ivantri Hutasoit, serta mengaku memiliki rekaman suara yang secara eksplisit menyebutkan bahwa uang tersebut akan diberikan kepada penyidik Polres Nganjuk.

Menanggapi hal ini, Dr. Didi Sungkono menegaskan bahwa Restorative Justice adalah gratis.

“PERPOL Nomor 08 Tahun 2021 jelas menyebutkan RJ sebagai pedoman penyelesaian perkara secara damai, tanpa biaya. Jika ada oknum advokat yang menjual kewenangan dan mengatasnamakan kepolisian, itu tidak bisa dibenarkan dan harus diproses hukum,” pungkasnya.

Penulis : Redho

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

HIMATER UNIM Bone dan HIMAPTEK UMSI Gelar Abdi Desa, Ajarkan Ini Untuk Masyarakat Padatuo
Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Satbrimob Sulsel Gelar Kejuaraan Menembak Kapolda Cup XI
Mahasiswa KKN Unhas Luncurkan “Bulucenrana Smart Village Center”, Dorong Transformasi Desa Berbasis Digital
Pemkab Bone Salurkan Seragam Sekolah Gratis, Kepala SDN 187 Tompobulu: Terima Kasih Pemerintahan Beramal
Mengurai Manajemen Aksi dan Psikologi Massa: Saat Mahasiswa Diajak Menelaah isu Beasiswa KIP dan Praktik Uang Palsu UIN Alauddin Makassar.
Polda Sulsel Gelar Uji Kompetensi Kapolsek Urban, Promosi Jabatan Berbasis Kompetensi dan Merit Sistem
Dari Kultur HMI hingga Bersama Menuju Gelar Doktor : Kiprah Jumrah dan Mukhawas Mengabdi di Uniasman
WIB Desak Keterbukaan Dana CSR, DPRD Bone Minta Tim Pengawas dan Perbup Segera Dibentuk
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 07:25 WITA

HIMATER UNIM Bone dan HIMAPTEK UMSI Gelar Abdi Desa, Ajarkan Ini Untuk Masyarakat Padatuo

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:15 WITA

Peringati HUT Bhayangkara ke-80, Satbrimob Sulsel Gelar Kejuaraan Menembak Kapolda Cup XI

Selasa, 14 Juli 2026 - 17:26 WITA

Pemkab Bone Salurkan Seragam Sekolah Gratis, Kepala SDN 187 Tompobulu: Terima Kasih Pemerintahan Beramal

Selasa, 14 Juli 2026 - 08:29 WITA

Mengurai Manajemen Aksi dan Psikologi Massa: Saat Mahasiswa Diajak Menelaah isu Beasiswa KIP dan Praktik Uang Palsu UIN Alauddin Makassar.

Senin, 13 Juli 2026 - 22:26 WITA

Polda Sulsel Gelar Uji Kompetensi Kapolsek Urban, Promosi Jabatan Berbasis Kompetensi dan Merit Sistem

Berita Terbaru

Opini

Hitung-hitungan Ekonomi di Balik Kasus Korupsi

Minggu, 19 Jul 2026 - 13:47 WITA

Opini

Saat Manusia Lebih Sibuk ‘Tampak’ daripada ‘Menjadi’

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:29 WITA

Opini

Ketika Realitas Desa Melampaui Fiksi Eka Kurniawan

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:15 WITA