Oleh : Aspi, Alumnus HMI KOMISARIAT HUKUM UNIASMAN
— Diantara echo chamber, validasi digital dan ketakutan untuk berbeda.
Ungkapan pola pikir sempit pasti sudah tidak asing lagi di negara +62 ini, sebab masyarakatnya sendiri sering kali seperti itu. Tidak jauh berbeda dengan pemerintahnya. Eh, astaghfirullah. Jangan marah dulu, saudara-saudara. Dalam negara demokrasi, pemerintah yang dipilih rakyat itu mencerminkan preferensi mayoritas masyarakat di negara tersebut. Jadi, ya… begitulah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kita bisa melihatnya dari hal-hal sederhana di sekitar kita.
Contoh paling gampang bisa dilihat dari cara kebanyakan orang menggunakan media sosial. Ada satu platform yang hampir setiap hari dipenuhi perdebatan. Awalnya menarik untuk diikuti, tetapi lama-kelamaan pembahasannya melebar ke mana-mana hingga kehilangan arah.
Bukan hanya soal perdebatan yang tidak ada ujungnya, gesekan antarkelompok juga sering terlihat jelas.
Contoh lain, pengguna platform A sering sekali “menyenggol” pengguna platform B karena merasa dirinya lebih superior hanya karena tidak berada di platform B. Konon katanya, mayoritas pengguna platform B itu seperti kandang monyet yang isinya lebih tidak jelas daripada platform A.
Dari contoh-contoh kecil di ruang digital ini, kita bisa melihat pola yang lebih besar.
Kita bisa melihat bagaimana sebagian masyarakat memiliki pola pikir sempit yang hanya melihat dunia dari satu sudut pandang tanpa mau-atau enggan-mempertimbangkan ide, informasi, dan perspektif baru.
Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa begitu mudah terjadi?
Salah satu pemicunya adalah lingkungan echo chamber, yang membuat seseorang tidak pernah benar-benar berkembang atau tertantang. Ia terus-menerus berkumpul dengan orang-orang yang pemikirannya sama, sehingga sulit menerima sudut pandang dari mereka yang latar belakangnya berbeda.
Lingkungan seperti ini memang terasa nyaman, tetapi tanpa disadari juga membatasi.
Menerima informasi baru dan memahami persoalan yang kompleks itu memang butuh waktu dan kesabaran. Di era serba “instan” seperti sekarang, banyak orang menjadi malas mengolah informasi secara mendalam. Bacaan yang terlalu panjang terasa membosankan, sehingga kita terbiasa pada ringkasan cepat dan kesimpulan sederhana.
Namun, faktor lingkungan saja tidak cukup menjelaskan semuanya.
Pola pikir sempit bukan berarti seseorang kurang cerdas. Lebih sering, ini berkaitan dengan ego dan kebutuhan untuk diterima. Manusia adalah makhluk sosial yang takut dikucilkan. Karena itu, seseorang bisa saja tetap berpikiran sempit demi memenuhi tuntutan kelompoknya. Mengakui kebenaran dari “kelompok lain” sering dianggap sebagai bentuk pengkhianatan.
Di era digital sekarang, kecenderungan ini diperkuat oleh algoritma media sosial. Algoritma dirancang untuk membuat kita nyaman dan betah berlama-lama. Konten yang muncul di beranda umumnya adalah konten yang sejalan dengan minat dan keyakinan kita. Jika seseorang menyukai topik A, maka ia akan terus diberi asupan tentang betapa hebatnya topik A. Ketika suatu hari ia bertemu topik B, ia menganggapnya aneh karena topik itu jarang muncul di berandanya.
Akhirnya, lingkaran ini terus berulang dan saling menguatkan.
Hal ini akan terus terjadi karena lingkungan digital memberi “penghargaan” berupa likes dan validasi sosial kepada mereka yang tetap pada pendiriannya, sesalah apa pun itu. Menarik, ya? Bagiku sendiri, rasanya aneh melihat orang yang tetap “keukeuh” pada opininya padahal fakta sudah ada di depan mata.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Untuk mencegah hal ini terus terjadi, kita perlu belajar “hidup di sepatu orang lain”. Ungkapan ini mengajak kita mencoba memahami perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain dari sudut pandang mereka. Bukan untuk selalu setuju, melainkan untuk mengerti.
Dengan kata lain, kita belajar memperluas cara melihat.
Kita perlu belajar untuk melihat situasi dari posisi orang lain. Pola pikir sempit biasanya muncul karena seseorang menganggap orang lain “salah” atau “aneh”. Ketika kita berusaha melihat dari posisi orang lain, sesuatu yang sebelumnya tampak “aneh” atau “salah” perlahan menjadi lebih masuk akal.
Langkah ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar.
“Hidup di sepatu orang lain” membantu kita keluara dari gelembung (bubble) yang selama ini kita tempati. Ketika seseorang berani keluar dan bergaul di luar lingkaran biasanya, orang tersebut akan melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih luas.
Berinteraksi dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda membantu kita menyadari bahwa dunia tidak sesederhana hitam dan putih.
Selain itu, ada satu kebiasaan kecil yang sering diremehkan, yaitu mendengarkan. Mendengarlah lebih banyak daripada berbicara saat berdiskusi. Seseorang tidak akan bisa mempelajari hal baru jika mulutnya terus berbicara, sementara telinganya tertutup.
Perubahan besar sering kali berawal dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara sadar, termasuk keputusan untuk memberi ruang pada kemungkinan bahwa kita bisa saja keliru.
Editor : Admin Redaksi










