Ramadan Menuntaskan Rindu dan Membawa Cinta

- Jurnalis

Selasa, 18 Maret 2025 - 22:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ismail Suardi Wekke (Cendekiawan Muslim Indonesia)

TRISAKTINEWS.COM – Senja itu merambat perlahan, menyisakan semburat jingga di langit Jakarta. Di sebuah masjid megah, seorang aktivis muda duduk bersandar di tiang, matanya menerawang jauh.

Ia menatap keramaian orang-orang yang bergegas menuju rumah masing-masing, membawa serta bungkusan takjil dan senyum kebahagiaan. Sang Pemuda itu tersenyum tipis, seolah ikut merasakan kehangatan yang terpancar dari wajah-wajah itu.

“Ramadan selalu begini,” gumamnya pelan, “selalu membawa rindu yang sama.”

Rindu, ya, rindu. Rindu akan kebersamaan, rindu akan hangatnya pelukan keluarga, rindu akan suara merdu lantunan ayat suci yang menggema di setiap sudut masjid. Ramadan adalah saat di mana kerinduan itu menemukan muaranya, saat di mana hati yang sepi kembali terisi dengan cinta.

Di sebuah kamar kontrakan, seorang perempuan yang juga aktivis tengah sibuk bersiap untuk menuju ke acara buka puasa bersama. Di tengah kesibukan kuliahnya, ia menyempatkan diri untuk menghadiri undangan berbuka.

Senyumnya mengembang, rasa lelahnya seolah sirna begitu saja. Ramadan, baginya, adalah saat di mana ia bisa bertemu dengan keluarga, senior, dan juga pejabat tanpa perlu berkunjung ke rumah mereka satu persatu dan tidak dibatasi protocol pejabat. Saat di mana ia bisa merasakan kebahagiaan yang sederhana namun begitu bermakna.

“Ramadan adalah tentang memberi dan berbagi,” ujarnya kepada kedua rekannya dalam perjalanan ke rumah pejabat tempat berbuka puasa, “bukan hanya menahan lapar dan dahaga.”

Baca Juga :  IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Hadirkan Peneliti Stanford dalam Kuliah Umum Internasional

Di sudut kota yang lain, seorang pemuda tengah duduk termenung di depan laptopnya. Ia menatap layar yang menampilkan video call dengan orang tuanya yang berada di kampung halaman. Rasa rindu yang selama ini ia pendam akhirnya pecah, air matanya menetes tanpa bisa dicegah. Hanya saja, uang pembeli tiket belum di tangan.

Ramadan, baginya, adalah saat di mana jarak dan waktu seolah tak lagi berarti, saat di mana ia bisa merasakan hangatnya cinta keluarga meski hanya melalui layar kaca.

“Ramadan mengajarkan kita tentang arti pentingnya keluarga,” katanya dalam hati, “dan betapa beruntungnya kita memiliki mereka.”

Ramadan memang bukan sekadar bulan suci, tetapi juga bulan penuh cinta. Cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama, dan cinta kepada keluarga. Cinta yang tulus, cinta yang sederhana, cinta yang menuntaskan rindu dan membawa kebahagiaan.

Di setiap sudut kota, di setiap rumah, di setiap hati, Ramadan menebarkan cinta dan kasih sayang. Ia mengajarkan kita tentang arti pentingnya kebersamaan, tentang indahnya berbagi, dan tentang kekuatan cinta yang mampu menembus segala batas.

“Ramadan adalah tentang cinta,” kata seorang pimpinan perguruan tinggi kepada koleganya, “cinta yang membuat kita semua bahagia.”

Dan memang benar, Ramadan adalah tentang cinta. Cinta yang menuntaskan rindu, cinta yang membawa kebahagiaan, cinta yang membuat dunia ini terasa lebih indah.

Baca Juga :  Dewan Pendidikan Maros Gelar Program Kolaborasi Internasional, Libatkan Kampus Indonesia Hingga Jepang

Ramadan: Simfoni Cinta dan Rindu yang Menggetarkan Jiwa

Ramadan adalah simfoni cinta dan rindu yang menggetarkan jiwa. Cinta kepada Sang Pencipta, cinta kepada sesama, dan rindu akan ampunan serta keberkahan, semua berpadu dalam harmoni yang indah.

Rindu akan kedamaian batin, rindu akan kebersamaan keluarga, dan rindu akan momen-momen spiritual yang mendalam, menjadi melodi utama dalam simfoni ini. Di setiap sujud, di setiap lantunan ayat suci, dan di setiap hidangan berbuka yang sederhana, cinta dan rindu itu hadir, mengisi relung hati dengan kehangatan dan ketenangan.

Cinta dan rindu dalam Ramadan bukan hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh komunitas. Masjid-masjid dipenuhi oleh jamaah yang merindukan kebersamaan dalam ibadah, keluarga-keluarga berkumpul untuk berbuka puasa bersama, dan para relawan berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan. Semua itu adalah wujud nyata dari cinta dan rindu yang menyatukan umat Muslim.

Ramadan mengajarkan kita tentang arti pentingnya cinta dan rindu dalam kehidupan. Cinta yang tulus kepada Tuhan dan sesama, serta rindu akan kebaikan dan keberkahan, menjadi landasan bagi kehidupan yang bermakna.

Di bulan yang penuh berkah ini, mari kita jadikan cinta dan rindu sebagai penggerak untuk menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang penuh kasih sayang dan kepedulian.

Berita Terkait

Menghukum Kebenaran: Ironi Cerdas Cermat di Bawah “Pilar” yang Rapuh
Itu Babi Su Lepas, Biar Dong Palang Juga Tra Bisa
Rebahan Sebagai Perlawanan
Pendapatan Tidak Bermakna Tanpa Perencanaan
Buruh dalam Kepungan Slogan: Kapan Kesejahteraan Menjadi Nyata?
Ruang Sunyi di Tengah Riuh: Sebuah Refleksi Eksistensial
Kemerdekaan di Balik Meja Kerja: Belajar dari Viktor Frankl tentang Ketangguhan Mental
Perempuan Tidak Butuh Lelaki Sempurna, Tapi Lelaki yang Aman

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 14:34 WITA

Menghukum Kebenaran: Ironi Cerdas Cermat di Bawah “Pilar” yang Rapuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:06 WITA

Itu Babi Su Lepas, Biar Dong Palang Juga Tra Bisa

Senin, 11 Mei 2026 - 16:07 WITA

Rebahan Sebagai Perlawanan

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:12 WITA

Buruh dalam Kepungan Slogan: Kapan Kesejahteraan Menjadi Nyata?

Sabtu, 9 Mei 2026 - 15:13 WITA

Ruang Sunyi di Tengah Riuh: Sebuah Refleksi Eksistensial

Berita Terbaru

Opini

Itu Babi Su Lepas, Biar Dong Palang Juga Tra Bisa

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:06 WITA

Opini

Rebahan Sebagai Perlawanan

Senin, 11 Mei 2026 - 16:07 WITA