Monumen Kerentanan di Balik Kejayaan Nikel: Refleksi Atas Hegemoni Produksi dan Reduksi Hak Buruh di Morowali

- Jurnalis

Sabtu, 28 Februari 2026 - 04:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Aspi, Akar Rumput.

 

Episentrum Nikel dan Paradoks Megaproyek

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) telah bertransformasi menjadi simbol nasional hilirisasi nikel sekaligus manifestasi ambisi ekonomi yang berkelindan dengan modal global, terutama dari Tiongkok. Sebagai Objek Vital Nasional (Obvitnas), IMIP mencatatkan kesuksesan makroekonomi yang memukau. Namun, di balik deretan angka ekspor tersebut, terdapat realitas sosiologis yang kompleks dan paradoks hubungan industrial yang tajam. Tulisan ini merefleksikan bagaimana pola manajemen yang sering dicitrakan sebagai “Tangan Besi” beroperasi di tengah tarikan kepentingan investasi asing, regulasi negara, dan kerentanan hak-hak dasar pekerja.

Pemaknaan Hubungan Industrial: Lebih dari Sekadar Kontrak

Secara teoretis, Hubungan Industrial seharusnya dipahami sebagai sebuah sistem hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan jasa (pekerja, pengusaha, dan pemerintah). Namun, dalam kajian kritis, hubungan industrial adalah struktur kekuasaan.

Di IMIP, hubungan industrial mengalami penyempitan makna menjadi sekadar “kepatuhan terhadap perintah“. Esensi dari hubungan industrial yang demokratis yaitu dialog, kesetaraan posisi tawar (bargaining power), dan keadilan distributif sering kali kalah oleh logika akumulasi kapital. Ketika manajemen menggunakan “Tangan Besi”, hubungan industrial berubah dari kemitraan menjadi subordinasi mutlak, di mana suara buruh dianggap sebagai gangguan terhadap stabilitas produksi, bukan sebagai bagian dari kontrol kualitas sistemik.

Hegemoni Produktivitas dan Alienasi Buruh

Keberadaan IMIP telah mengubah lanskap sosial-ekonomi Morowali secara radikal, namun transformasi ini menyisakan alienasi (keterasingan) bagi para pekerjanya. Dalam ekosistem ini, buruh cenderung dipandang sebagai “komponen mekanis” dari sistem besar yang tidak boleh berhenti. Refleksi mendalam mengungkap adanya “production-first culture” (budaya mengutamakan produksi). Tragedi ledakan tungku smelter yang berulang (seperti insiden Desember 2023 dan Mei 2025) bukan sekadar kecelakaan teknis, melainkan cerminan kegagalan sistemik dalam internalisasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Terdapat fenomena “normalisasi risiko” demi mengejar efisiensi; ketika jam kerja menyentuh angka rata-rata 56 jam per minggu melampaui batas regulasi kelelahan fisik dan mental (fatigue) menjadi bom waktu. Di sini, nyawa manusia seolah menjadi variabel yang dapat dikorbankan demi stabilitas suplai nikel global.

Baca Juga :  Laga di Bulan Suci: Sepak Bola dalam Ramadan

Anatomi Mekanisme “Tangan Besi”*

Menggunakan perspektif Ekonomi Politik dan Teori Konflik, istilah “Tangan Besi” dalam konteks IMIP dapat dibedah melalui empat dimensi utama:

1. Disiplin Panoptikon dan Pengawasan Digital: Manajemen menerapkan sistem disiplin ketat yang didukung teknologi untuk memantau perilaku buruh. Terdapat praktik represif berupa penalti atau Surat Peringatan (SP) bagi pekerja yang memviralkan kondisi buruk atau kecelakaan kerja. Ini adalah bentuk sensor korporasi yang mematikan ruang demokrasi dan kontrol publik di ruang digital.

2. Asimetri dan Sekat Komunikasi: Dominasi modal asing menciptakan hambatan budaya dan bahasa yang signifikan. Hal ini menciptakan pendekatan top-down yang kaku, di mana kebijakan diambil tanpa partisipasi bermakna dari akar rumput, sehingga serikat pekerja sulit melakukan negosiasi yang setara.

3. Hegemoni Modal dan Fragmentasi Tenaga Kerja: Dengan melibatkan puluhan sub-kontraktor (tenant), IMIP menciptakan ekosistem yang memudahkan mutasi pekerja antar-perusahaan namun menghambat akumulasi masa kerja dan jenjang karier. Struktur yang terfragmentasi ini secara sistemik melemahkan posisi tawar dan konsolidasi kolektif buruh.

4. Politik Ruang dan Militerisasi: Status Obvitnas memberikan legitimasi bagi pendekatan keamanan yang represif. Sengketa ketenagakerjaan yang seharusnya diselesaikan melalui dialog bipartit sering kali berhadapan dengan aparat keamanan, menciptakan iklim industrial yang intimidatif.

K3 sebagai Formalitas Administratif

Riset menunjukkan bahwa implementasi K3 di kawasan ini sering kali terjebak pada “paper compliance” (pemenuhan dokumen semata). Audit internal cenderung tertutup, menciptakan diskoneksi antara citra formal perusahaan dengan realitas lapangan. Ketidakseimbangan antara percepatan teknologi pengolahan dengan lambatnya peningkatan standar keamanan menjadi akar masalah dari tragedi yang terus berulang.

Baca Juga :  Manifestasi Perlawanan terhadap Union Busting: SBIMI Tuntut Repatriasi dan Eksekusi Dua Pengawas TKA PT CSP

Kondisi ini diperparah oleh peran negara yang ambivalen (State-Capital Nexus). Di satu sisi, pemerintah harus menegakkan hukum; di sisi lain, beban menjaga kepercayaan investor membuat pengawasan menjadi “tumpul”. Pemberian penghargaan seperti PROPER Biru di tengah rentetan kecelakaan kerja membuktikan lemahnya keberpihakan negara terhadap perlindungan buruh di kawasan strategis.

Menuju Rekonstruksi Paradigmatik

Untuk mengakhiri pola manajemen “Tangan Besi” dan menciptakan hubungan industrial yang manusiawi, diperlukan langkah-langkah konkret:

1. Penguatan Pengawasan Negara Independen: Pemerintah melalui Disnaker pusat harus membentuk Tim Satgas Pengawas Independen yang menetap di Morowali untuk melakukan sidak rutin tanpa pemberitahuan, tanpa hanya mengandalkan laporan sepihak dari perusahaan.

2. Demokratisasi Tempat Kerja: Mewujudkan ruang dialog setara dan membentuk Dewan Keselamatan Kerja Kolektif yang memiliki otoritas menghentikan operasional mesin jika ditemukan indikasi bahaya, tanpa ancaman sanksi atau pemotongan upah.

3. Transparansi dan Akuntabilitas Radikal: Menghapus budaya kerahasiaan. Setiap insiden harus diinvestigasi secara terbuka dan hasilnya dipublikasikan sebagai bentuk pertanggungjawaban publik.

4. Penataan Ulang Beban Kerja: Evaluasi total terhadap sistem shift untuk menekan faktor kelelahan.

Penambahan tenaga kerja profesional untuk mengurangi beban kerja per individu adalah investasi yang jauh lebih murah dibandingkan biaya sosial akibat hilangnya nyawa.

Martabat Manusia di Atas Angka Ekspor

Hilirisasi nikel adalah prestasi ekonomi, namun ia akan menjadi catatan kelam jika dibangun di atas pengabaian hak dasar manusia. Manajemen “Tangan Besi” mungkin efektif untuk akselerasi jangka pendek, namun menyimpan kerapuhan sosiologis yang besar.

Menanggalkan gaya represif dan beralih ke manajemen yang berbasis pada Martabat dan Keadilan adalah satu-satunya jalan agar PT IMIP menjadi kebanggaan nasional yang utuh. Kejayaan industri tidak boleh berdiri di atas monumen kerentanan para pekerjanya.

Penulis : Aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Wajah Bahagia di Batch 6 “Cuti Kasih Sayang”: Saat Tas Sekolah Menjadi Simbol Harapan bagi Anak Morowali
Hilal dan Hisab: Menjaga Harmoni di Balik Perbedaan Awal Ramadhan
Aksi Buruh di PT IMIP Berujung Bentrok: Diduga ada Penumpang Gelap dan Provokator, Aspirasi Damai SBIMI Berubah Menjadi Chaos
Jelang Demo Besar di PT IMIP dan Kinrui/KXNI, SBIMI Serukan Rapat Konsolidasi Akbar Seluruh Anggota
Gelar Lomba Melukis Dinding, PT. IMIP Jadikan Seni sebagai Media Kampanye Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
KKB Morowali Galang Donasi Lintas Paguyuban untuk Korban Kecelakaan Ibu dan Anak asal Bone
Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Tidak Mampu Memasak Harapan : Surat Terakhir dari Ngada
Kebebasan Individu dan Ruang Publik
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 28 Februari 2026 - 04:15 WITA

Monumen Kerentanan di Balik Kejayaan Nikel: Refleksi Atas Hegemoni Produksi dan Reduksi Hak Buruh di Morowali

Rabu, 25 Februari 2026 - 17:48 WITA

Wajah Bahagia di Batch 6 “Cuti Kasih Sayang”: Saat Tas Sekolah Menjadi Simbol Harapan bagi Anak Morowali

Jumat, 20 Februari 2026 - 15:28 WITA

Hilal dan Hisab: Menjaga Harmoni di Balik Perbedaan Awal Ramadhan

Kamis, 19 Februari 2026 - 09:28 WITA

Aksi Buruh di PT IMIP Berujung Bentrok: Diduga ada Penumpang Gelap dan Provokator, Aspirasi Damai SBIMI Berubah Menjadi Chaos

Selasa, 17 Februari 2026 - 22:25 WITA

Jelang Demo Besar di PT IMIP dan Kinrui/KXNI, SBIMI Serukan Rapat Konsolidasi Akbar Seluruh Anggota

Berita Terbaru