Oleh : Aspiyandi
Dulu, kalo saat masih bayi kita menganggap jatuh saat belajar berjalan sebagai nasib buruk, mungkin sampai sekarang kita masih merangkak. Tapi nyatanya, kita bisa berjalan, bahkan berlari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terbangun dari nyenyaknya tidur sore, aku masih merasakan suasana yang sama selama seminggu ini. Rasanya belum ada yang benar-benar berubah. Justru, berbagai benturan datang silih berganti, seolah tanpa jeda.
Dari kondisi perusahaan yang sedang tidak baik-baik saja, urusan ekonomi yang makin menekan, sampai beban yang diam-diam terus membayangi. Semua itu memaksaku untuk bertahan, meski kadang hanya untuk satu hari lagi.
Di tengah semua itu, jujur. Ternyata mengeluh itu mudah. Kita semua pasti pernah ada di titik itu. Bertanya-tanya dalam hati,
“Apa salahku?”
“Kenapa harus aku?”
Bahkan sampai berani bilang, “Tuhan nggak adil.”
Seolah-olah takdir ini salah alamat. Seolah-olah hidup orang lain lancar, sementara aku terus diuji. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, mungkin bukan takdirnya yang salah tapi cara kita memandangnya yang keliru.
Masa-masa ini memang melelahkan. Aku pun sempat bertanya dalam diam, “Sampai kapan semua ini akan membaik?” Harapan yang dulu membuat aku kuat, kadang justru jadi bumerang karena terlalu berharap, jadi gampang kecewa.
Justru dari situ aku sadar. Tanpa disadari, semua ini sedang membentukku. Ada sesuatu di dalam diri yang diam-diam tumbuh. Lebih tahan banting, lebih ngerti arti bertahan.
Ujian yang datang sekarang terasa berat, iya. Dan mungkin semua orang juga akan bilang hal yang sama kalau ada di posisi ini. Sampai di titik di mana bersyukur pun terasa sulit.
Tapi anehnya di tengah semua ketakutan yang aku rasakan, aku masih ada di sini. Masih bisa bertahan sampai hari ini. Masih bisa makan. Masih bisa bantu keluarga. Masih bisa berbakti pada orang tua. Bahkan masih bisa tertawa, walaupun hidup lagi nggak lucu-lucunya.
Mungkin, menjadi kuat itu memang seringkali terjadi tanpa kita sadari. Bukan karena kita hebat, tapi karena kita enggak punya pilihan selain terus berjalan. Hari demi hari, pelan-pelan kita jadi versi yang lebih kuat dari sebelumnya.
Aku jadi teringat sebuah konsep STIFIn, tentang bagaimana manusia itu memang punya cara masing-masing dalam menghadapi hidup. Ada yang lebih mengandalkan logika, ada yang perasaan, ada yang insting. Katanya, itu sudah jadi bagian dari diri kita sejak lahir. Artinya, cara kita bertahan hari ini bukanlah sauatu kebetulan. Tapi memang bagian dari siapa kita sebenarnya.
Aku juga jadi kepikiran hal sederhana.
Kalau dulu, waktu kita masih bayi dan belajar berjalan, kita langsung menganggap jatuh itu sebagai nasib buruk. Mungkin sampai sekarang kita masih merangkak. Tapi nyatanya, kita nggak pernah berpikir sejauh itu. Kita jatuh, bangun lagi. Jatuh lagi, coba lagi. Sampai akhirnya bisa berjalan, bahkan berlari.
Dari situ aku mulai paham kalo pikiran itu membentuk perasaan, perasaan membentuk tindakan, dan tindakan akhirnya membentuk kenyataan.
Jadi sebenarnya, dunia ini netral. Nggak ada yang benar-benar sepenuhnya baik atau buruk. Semua tergantung dari bagaimana kita memaknainya. Apa yang kita pikirkan itu yang akan kita rasakan dan jalani.
Maka mungkin benar, nggak ada nasib yang buruk. Yang ada, hanyalah pikiran yang buruk tentang nasib.
Dan setelah semua yang aku lewati selama seminggu ini, aku seperti diingatkan lagi, Tuhan sudah lebih dulu bilang:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Dari situ aku sadar, mungkin Tuhan tidak pernah salah memberi jalan. Kita saja yang sering salah cara memandangnya.
Karena akhirnya, Tuhan selalu memberi dengan sebaik-baiknya tujuan. Hanya saja kita kadang merusaknya dengan seburuk-buruknya pikiran.
Penulis : aspi
Editor : Admin Redaksi








