Apa yang Tersisa dari Kita Ketika Kita Tak Lagi Berguna? — Membaca Metamorfosis Franz Kafka

- Jurnalis

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspi, Akar Rumput

TRISAKTINEWS.COM – Metamorfosis (Die Verwandlung) adalah novela yang ditulis oleh Franz Kafka. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1915, menjadi salah satu karya Kafka yang paling dikenal orang dan sering menjadi pintu masuk untuk mengenal dunia Kafkaesque. Tentang (Tentang absurditas, keterasingan, dan perubahan)

Ketika suatu pagi Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruk, ia mendapati dirinya sudah berubah menjadi kecoak raksasa yang menjijikkan di ranjangnya. (Kafka 1)

Gregor Samsa, seorang penjual keliling yang bekerja keras dan tak pernah cuti, terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa ia berubah menjadi Ungeziefer, istilah umum dalam bahasa Jerman untuk makhluk pengganggu atau hama yang dianggap menjijikkan. Hal pertama yang ia pikirkan justru adalah tentang pekerjaannya dan bagaimana ia dapat berangkat bekerja pagi itu.

Tidak seperti hari-hari biasanya, ketika ia seharusnya sudah berangkat mengejar jadwal kereta, keluarganya mulai cemas dan bahkan manajernya menghampiri rumah untuk mengetahui mengapa Gregor belum berangkat bekerja. Setelah bersusah payah bangun dengan kondisi barunya, Gregor akhirnya berhasil membuka pintu dan membuat semua orang terkejut dan ketakutan.

Sejak saat itu suasana rumahnya berubah. Keluarganya dilanda krisis karena Gregor adalah satu-satunya yang bekerja menghidupi keluarga dan melunasi utang-utangnya. Walaupun begitu, keluarganya masih menganggap keberadaan Gregor, terutama adiknya, Grete. Tiap hari Grete memberi Gregor makanan, namun kini makanan yang ia sukai tidak lagi layaknya makanan manusia, Gregor hanya menginginkan makanan sisa dan yang mulai membusuk. Tubuh dan selera makannya memang berubah, ia tak lagi bisa berbicara, namun ia masih memiliki perasaan dan pikiran sebagai Gregor.

Suatu ketika, Nyonya Samsa dan Grete mencoba mengosongkan kamar Gregor dengan anggapan Gregor butuh ruang lebih luas untuk merayap. Gregor menampakkan dirinya ke Nyonya Samsa yang tentu saja membuat sang ibu terkejut hingga pingsan. Tuan Samsa, yang kini telah kembali bekerja, mendapati istrinya tidak sadarkan diri dan langsung mengejar Gregor yang tampak ingin melarikan diri dari kamarnya. Dengan penuh amarah, Tuan Samsa membombardir Gregor dengan apel. Salah satunya menancap ke tubuh Gregor. Apel ini membuat luka parah dan membusuk di tubuhnya hingga lebih dari sebulan, membuatnya makin lemah.

Puncak kisah Gregor terjadi ketika ia mendengar Grete bermain biola dan mencoba mendekatinya. Saat itu rumahnya juga telah dihuni tiga orang penyewa untuk menambah pendapatan keluarga. Sayangnya, para penyewa ini melihat Gregor yang terlalu mendekat dan sangat marah setelah mengetahui bahwa mereka tinggal satu atap dengan makhluk yang mereka anggap menjijikkan ini. Mereka mengancam akan keluar dan tidak membayar sewanya. Grete yang selama ini menjadi satu-satunya di keluarga yang masih peduli terhadap Gregor merasa sangat kecewa.

“Aku tak mau memanggil monster itu sebagai kakakku, karena itu aku hanya ingin mengatakan: kita harus mencoba menyingkirkannya.” (Kafka 73)

Setelah mendengar kata-kata Grete, Gregor kembali ke kamarnya dengan perlahan. Kondisinya semakin lemah hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Ia ditemukan oleh pembantu keluarga keesokan paginya. Namun, alih-alih kesedihan, suasana yang muncul justru kelegaan bagi Tuan dan Nyonya Samsa, serta Grete.

Tak hanya kelegaan, bahkan harapan akan masa depan. Keluarga yang sebelumnya bergantung sepenuhnya pada Gregor kini justru membayangkan kehidupan baru tanpa dirinya.

Gregor dan Absurditasnya

Cerita Gregor memang dimulai dengan kejadian yang sangat aneh dan tanpa penjelasan: ia menjadi serangga raksasa. Ia memiliki batok punggung yang keras, perut yang cokelat berbulu, dan kakinya menjadi banyak. Perubahan ini membuatnya tidak bisa memiringkan tubuhnya ke kanan yang merupakan posisi favoritnya untuk tidur.

Namun, jika kita menilai bahwa ini adalah hal yang tidak masuk akal pertama yang ia alami, sepertinya kita bisa jadi keliru.

Bagaimana tidak? Alih-alih mempertanyakan mengapa ia menjadi serangga, hal pertama yang Gregor pikirkan adalah tentang pekerjaannya dan bagaimana ia bisa berangkat bekerja.

“Ya Tuhan, alangkah beratnya pekerjaan yang kupilih! Siang dan malam selalu dalam perjalanan. Mengerjakan bisnis seperti ini jauh lebih berat ketimbang berbisnis di rumah, dan selain itu masih ada siksaan perjalanan yang membebani, khawatir pada jadwal kereta api, makan yang tidak enak dan tidak teratur, menjalin kontak dengan orang baru sepanjang waktu sampai-sampai aku tak pernah bisa mengenal siapa pun dengan baik atau beramah-tamah dengan mereka. Persetan dengan semua ini!” (Kafka 4)

Gregor membenci rutinitas monoton yang melahap seluruh hidupnya sampai ia tidak memiliki kesempatan untuk dirinya sendiri. Akan tetapi baginya semua ini adalah keharusan yang tak bisa dielakkan. Ia harus bekerja untuk melunasi utang ayahnya yang bangkrut dan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. Masa muda, cita-cita, hubungan sosial, dan kehidupan pribadinya dikorbankan demi beban yang bukan miliknya.

Baca Juga :  Dilematis Digitalisasi UMKM: Antara Peluang dan Ancaman di tengah Kriminalisasi Digital

Gregor membenci pekerjaannya namun ia adalah mesin yang sangat penting bagi keluarganya. Apakah mesin layak mempertanyakan untuk apa semua ini? Gregor telah lama menerima absurditas ini tanpa mempertanyakannya apalagi menolaknya.

Sama halnya di pagi ketika ia menjadi serangga, sebuah kejadian yang di luar kendalinya dan tanpa penjelasan yang dapat diterima akal. Namun, reaksinya terhadap peristiwa ini justru begitu dingin. Ia tidak mempertanyakan mengapa dirinya berubah menjadi serangga, apalagi “meluangkan” waktu sejenak untuk merasa panik. Pikirannya justru segera kembali kepada rutinitas yang telah begitu dalam menguasai hidupnya. Ia harus segera bergegas karena kereta berikutnya akan berangkat pukul tujuh.

Menjadi serangga bukanlah hal absurd pertama yang dialami Gregor, tetapi metamorfosis fisik ini menelanjangi absurditas yang selama ini tersembunyi di balik rutinitas hidupnya. Selama bertahun-tahun, Gregor telah menjalani pekerjaan yang ia tak sukai dan mengorbankan dirinya untuk keluarganya karena merasa semua itu adalah kewajiban yang tidak dapat ia hindari.

Metamorfosis kemudian menghentikan semuanya. Gregor untuk pertama kalinya tidak dapat bekerja, tidak dapat menjadi pencari uang untuk keluarganya. Oleh karenanya, kita dapat melihat berapa besar bagian hidupnya yang selama ini ia korbankan untuk mengisi peran ini.

Gregor mengalami absurditas yang menyedihkan: ia begitu tenggelam dalam rutinitasnya hingga tidak pernah benar-benar mempertanyakan kehidupan yang sedang ia jalani. Bahkan ketika tubuhnya menjadi serangga, pikirannya masih sibuk mengejar kereta pukul tujuh.

Gregor dan Keterasingannya

Menjadi serangga bukanlah akhir dari transformasi Gregor. Pada awalnya, seperti yang sudah dibahas di bagian sebelumnya, ia masihlah Gregor, sang penjual keliling. Ia masih memikirkan bagaimana cara berangkat kerja.

Namun perlahan ia menyadari kondisi barunya dan mulai beradaptasi. Awalnya kesulitan berjalan, kemudian mampu merayap layaknya serangga. Susu manis segar yang biasanya Gregor sukai kini menjadi menjijikkan baginya, tapi makanan sisa dan setengah busuk malah menggiurkan.

Semua perubahan ini terjadi namun Gregor di balik tubuhnya masih mengerti serta peduli terhadap kekhawatiran keluarganya, masalah keuangan yang dihadapi, dan rasa sayangnya kepada adiknya tidak hilang, bahkan ia masih membayangkan untuk membiayai Grete bersekolah musik. Metamorfosis tidak menghilangkan kesadaran Gregor sebagai manusia, hanya saja ia tak lagi bisa menyampaikan apa yang ia pikirkan dengan manusia lainnya.

Hal ini cukup menyakitkan karena beberapa kali keluarganya salah memahami Gregor. Ia tak pernah ingin membuat ibunya pingsan, ia tak pernah ingin membuat para penyewa pergi dan membuat keluarganya kehilangan penghasilan tambahan. Ia hanya mencoba berkomunikasi dengan mereka atau hanya ingin mendengarkan Grete bermain biola lebih dekat.

Ketika Grete marah dan mengatakan monster itu bukanlah kakaknya, sempurna sudah transformasi Gregor. Tak ada lagi manusia yang memanusiakannya. Ia hanyalah seekor serangga besar yang menjijikkan dan membusuk.

Sebelum metamorfosis, Gregor adalah manusia yang tidak dapat benar-benar menyampaikan dirinya. Ia terasing dari dirinya sendiri; identitasnya hanya melekat sebagai pekerja dan pencari nafkah, tanpa benar-benar memahami apa yang ia inginkan.

Setelah metamorfosis, ia menjadi sesuatu yang benar-benar tidak dapat dipahami oleh manusia, bahkan ketika di balik tubuh serangganya yang masih memiliki perasaan dan berpikir sebagai manusia.

Transformasi yang Lain

Jika kita melihat dari sudut pandang berbeda, sebenarnya tidak hanya Gregor yang mengalami transformasi. Keluarga Gregor juga berubah.

Sebelum metamorfosis, keluarga Gregor sangat bergantung hidup padanya. Ayahnya tidak bekerja setelah mengalami kebangkrutan dan meninggalkan utang yang mesti Gregor usahakan untuk dilunasi. Ibunya sakit-sakitan sehingga juga tidak bekerja. Adiknya, Grete, dianggap masih terlalu belia sehingga masih bergantung sepenuhnya kepada Gregor.

Metamorfosis kemudian memutus ketergantungan ini. Kondisi ekonomi keluarganya tentu saja terguncang, walaupun kemudian diketahui bahwa Tuan Samsa menyisihkan uang yang dihasilkan Gregor untuk ditabung dan mendapatkan bunga dari bank. Akan tetapi ini tidak cukup untuk menghidupi mereka dalam jangka. Semua ini didengar Gregor dalam fisik serangganya dengan penuh perhatian.

Baca Juga :  Ketika Kerja Keras Kalah oleh Garis Keturunan

Dengan kondisi tersebut, mereka akhirnya terpaksa bekerja. Tuan Samsa bekerja sebagai penjaga pintu di suatu bank, Nyonya Samsa menjahit pakaian untuk sebuah toko, sedangkan Grete bekerja sebagai penjual.

Gregor yang sebelumnya menjadi tempat bergantung perlahan berbalik dianggap sebagai aib dan beban bagi keluarganya setelah ia tak mampu lagi mengambil perannya sebagai pencari nafkah. Seseorang yang sebelumnya menopang kehidupan keluarga kini dipandang sebagai alasan yang membuat kehidupan mereka tertahan.

Sampai akhirnya Gregor ditemukan mati oleh pembantunya. Bukan kesedihan dan kehilangan yang menyelimuti keluarga kecil Samsa, justru adalah rasa kelegaan. Seolah ada sebuah beban besar yang akhirnya terangkat.

Tak hanya merasa lega, ada harapan baru yang muncul untuk masa depan mereka. Setelah kematian Gregor, mereka menyadari sebenarnya mereka memiliki pekerjaan yang cukup menjanjikan untuk menyambung hidup di masa depan.

Pengorbanan Gregor selama ini terasa tragis. Gregor menghabiskan waktunya untuk menghidupi keluarganya, namun ternyata keluarga dapat melanjutkan hidup tanpanya.

Setelah Gregor mati, dunia tidak berhenti. Keluarga justru keluar rumah, menghirup udara segar, dan mulai membicarakan masa depan Grete.

Gregor telah mati, tetapi kehidupan keluarganya bergerak maju.

Penutup

Franz Kafka sepertinya tidak menjanjikan jawaban di Metamorfosis. Ia hanya mencoba membawa kita untuk “mengalami” absurditas dan keterasingan melalui Gregor Samsa.

Untuk novella yang cukup singkat, sekitar 80 halaman, Metamorfosis membuka ruang yang begitu luas untuk berbagai macam interpretasi dan analisis. Salah satu cara yang paling dekat adalah dengan kembali kepada penulisnya sendiri: Franz Kafka. Ia memiliki beberapa kemiripan dengan Gregor Samsa; seorang pegawai kantoran yang memiliki konflik batin antara pekerjaan dan panggilan hidupnya menjadi penulis, hubungan rumit dengan ayahnya, dan isolasi sosial yang ia alami.

Kita dapat memahami lebih jauh terkait absurditas kehidupan yang seolah tak memiliki makna melalui Albert Camus dan karyanya. Kita juga dapat memahami keterasingan yang dialami Gregor Samsa melalui kaca mata Marxis (emathene). Mungkin dari sini kita dapat menemukan jawaban yang tidak disajikan mentah-mentah oleh Kafka dalam Metamorfosis.

Sudut pandang lain juga tak kalah menarik. Seperti dirangkum oleh Sutherland, perubahan Samsa menjadi serangga bisa diartikan sebagai alegori antisemitisme, pertanda keruntuhan Austro-Hungaria pada tahun 1918, dan juga hubungan antara Kafka dan ayahnya, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Metamorfosis tetap tidak menjanjikan jawaban. Mungkin justru di situlah kekuatannya. Ia membuat kita perlu mengulang-ulang kembali membacanya, bukan untuk menemukan satu jawaban pasti, melainkan untuk menemukan refleksi baru atau bahkan pertanyaan baru.

Satu kemungkinan yang membuat saya merasa terusik adalah: bagaimana jika Gregor Samsa tidak benar-benar menjadi serangga raksasa? Bagaimana jika semua itu hanya terjadi dalam pikirannya, sementara orang-orang di sekitarnya merespons perubahan tersebut seolah-olah memang benar terjadi?

Metamorfosisnya menjadi Ungeziefer merupakan suatu kondisi yang ekstrem dan bahkan mustahil di dunia nyata kita. Namun, apa yang melingkupi peristiwa tersebut terasa sangat dekat. Kita tak harus berubah menjadi makhluk aneh untuk mengalami apa yang dialami Gregor Samsa. Kita bisa saja tidur malam ini dan besok terbangun dengan penyakit kronis. Kita bisa menjadi karyawan yang bertahun-tahun memenuhi target, tapi kemudian, tanpa alasan yang dapat kita pahami, dianggap sebagai beban bagi perusahaan dan kehilangan pekerjaan.

Seperti metamorfosis Gregor, kejadian-kejadian yang datang tiba-tiba dalam hidup dapat memaksa kita berhenti dari rutinitas yang selama ini mendefinisikan kita. Sesuatu yang selama ini normal dapat hilang dalam sekejap. Ketika semuanya terhenti, mungkin kita baru menyadari absurditas yang selama ini tersembunyi di dalamnya, sekaligus keterasingan yang perlahan menjauhkan kita dari diri sendiri maupun orang lain.

Apa yang tersisa dari kita apabila tak mampu lagi bekerja? Apa yang tersisa dari kita apabila tak lagi punya kebermanfaatan untuk orang yang kita sayangi? Dan apa yang tersisa dari kita hingga kita tetap dimanusiakan?

Metamorfosis tidak memberikan jawabannya. Ia hanya meninggalkan kita dengan pertanyaan.

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Apa yang Tersisa dari Kita Ketika Kita Tak Lagi Berguna? — Membaca Metamorfosis Franz Kafka
MUAZIN BANGSA DI LINGKAR KEKUASAAN
Senjakala Kebenaran: Saat Informasi Tanpa Rumah Menguasai Panggung Digital
Soe Hok Gie, Sapere Aude, dan Tanggung Jawab Moral Menjaga Kemerdekaan
Simfoni Perjuangan di Luar Jangkauan
Ketika Negara dan Pasar Merampas Dongeng Pengantar Tidur
URI dan Jebakan Pembentukan Wadah Baru
Menagih Jam Kerja Sejak Motor Dinyalakan

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:58 WITA

Apa yang Tersisa dari Kita Ketika Kita Tak Lagi Berguna? — Membaca Metamorfosis Franz Kafka

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:56 WITA

Apa yang Tersisa dari Kita Ketika Kita Tak Lagi Berguna? — Membaca Metamorfosis Franz Kafka

Sabtu, 19 September 2026 - 10:33 WITA

Senjakala Kebenaran: Saat Informasi Tanpa Rumah Menguasai Panggung Digital

Senin, 17 Agustus 2026 - 09:30 WITA

Soe Hok Gie, Sapere Aude, dan Tanggung Jawab Moral Menjaga Kemerdekaan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 15:16 WITA

Simfoni Perjuangan di Luar Jangkauan

Berita Terbaru