SINJAI, TRISAKTINEWS.COM — Sikap salah seorang yang diduga pengurus Masjid Agung Nujumul Ittihad Kabupaten Sinjai menjadi sorotan masyarakat setelah menyampaikan teguran melalui pengeras suara kepada sejumlah jemaah yang berada di lingkungan masjid, Minggu (21/6/2026).
Peristiwa tersebut terjadi usai pelaksanaan salat Zuhur berjamaah di Masjid Agung Nujumul Ittihad yang berada tepat di depan Auditorium Andi Azikin, lokasi berlangsungnya Wisuda Santri LPPTKA-BKPRMI Kabupaten Sinjai.
Pada kegiatan wisuda tersebut, ribuan santri bersama orang tua dan pembina Taman Kanak-Kanak/Taman Pendidikan Al-Qur’an (TK/TPA) memadati kawasan sekitar auditorium.
Sebagian peserta dan pendamping memanfaatkan area masjid untuk beristirahat sembari menunggu rangkaian acara berlangsung.
Namun, suasana yang semula kondusif berubah setelah seorang jemaah yang diduga merupakan pengurus masjid mengambil mikrofon dan menyampaikan teguran kepada para pengunjung.
Teguran itu disebut-sebut berkaitan dengan kondisi kebersihan lingkungan masjid yang dinilai terganggu akibat membludaknya jumlah pengunjung.
Pernyataan yang disampaikan melalui pengeras suara tersebut memicu beragam reaksi.
Sejumlah jemaah mengaku merasa kurang nyaman karena cara penyampaiannya dianggap tidak mencerminkan pendekatan yang humanis terhadap tamu rumah ibadah.
Salah seorang warga Sinjai, Amrullah, menilai pengurus masjid memang memiliki kewenangan untuk menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan masjid.
Namun, menurutnya, cara penyampaian teguran seharusnya dilakukan dengan bahasa yang santun dan tidak menimbulkan kesan menyudutkan jemaah.
“Kami memahami jika pengurus ingin menjaga kebersihan dan ketertiban masjid. Akan tetapi, penyampaiannya sebaiknya dilakukan dengan cara yang lebih bijak dan santun. Masjid adalah rumah ibadah yang terbuka bagi umat, sehingga siapa pun yang datang hendaknya tetap merasa dihargai dan disambut dengan baik,” ujar Amrullah.
Ia menambahkan bahwa momentum wisuda santri seharusnya menjadi ajang syiar Islam yang membawa suasana positif, mengingat para peserta merupakan generasi muda yang sedang belajar mencintai Al-Qur’an dan memakmurkan masjid.
“Anak-anak santri yang hadir bersama orang tua dan pembinanya datang dalam kegiatan keagamaan. Karena itu, pendekatan yang edukatif dan persuasif jauh lebih tepat dibandingkan teguran yang berpotensi menimbulkan kesan arogan di hadapan banyak orang,” tambahnya.
Peristiwa tersebut menjadi perbincangan di kalangan masyarakat dan peserta wisuda.
Sejumlah pihak berharap pengelolaan masjid ke depan dapat mengedepankan prinsip keramahan, pelayanan umat, dan komunikasi yang lebih baik, tanpa mengabaikan pentingnya menjaga kebersihan serta ketertiban lingkungan masjid.
Hingga berita ini diturunkan, Pengurus Masjid Agung Nujumul Ittihad Kabupaten Bone, yang dihubungi belum merespon terkait hal tersebut.(*)
Penulis : Iwan/Ril
Editor : Admin Redaksi








