Rebahan Sebagai Perlawanan

- Jurnalis

Senin, 11 Mei 2026 - 16:07 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspi, Akar Rumput

Kita terlalu lama hidup dalam ritme yang menganggap diam sebagai kegagalan. Sampai akhirnya rebahan pun terasa seperti sesuatu yang harus dibenarkan, bukan sekadar hak untuk berhenti sebentar.

Saya mulai curiga ada sesuatu yang salah ketika berupaya tenang di hari libur terasa tidak nyaman. Padahal tidak ada deadline, tidak ada meeting, tidak ada yang benar-benar mendesak. Tapi baru beberapa menit diam, kepala langsung sibuk sendiri. Ingat hal-hal yang “harusnya” bisa dicicil. Kadang bahkan bukan karena ingin produktif, tapi karena terlalu terbiasa merasa bersalah kalau tidak sedang melakukan sesuatu.

Mungkin rasa bersalah itu tidak datang begitu saja. Ia tumbuh pelan-pelan dari kebiasaan saya yang terus diulang bertahun-tahun: bahwa waktu harus dipakai dengan benar, bahwa diam terlalu lama bisa terlihat malas, bahwa hidup yang baik adalah hidup yang terus bergerak.

Saya atau mungkin sebagian dari kita semua tumbuh dalam narasi yang sama: waktu itu berharga, jangan buang-buang, jangan malas. Narasi yang ditanam begitu lama sampai kita tidak ingat kapan ia masuk dan tidak pernah benar-benar mempertanyakan siapa yang mengizinkannya tinggal. Tidur sekarang harus disebut recovery. Jalan pagi bukan sekadar jalan pagi, tapi investasi kesehatan jangka panjang. Bengong jadi self-discovery journey. Seolah tanpa nama yang lebih berguna, bahkan ketenangan pun tidak berhak ada.

Lucunya, setelah semua hal diberi nilai dan tujuan, kita mulai lupa cara beristirahat tanpa merasa harus mendapatkan sesuatu darinya. Bahkan lelah pun sekarang punya industrinya sendiri. Ketika penat, kita diarahkan membeli cara untuk tenang. Ketika kelelahan, muncul berbagai ritual kecil bertarif yang dikemas sebagai solusi.

Sistem ini memang pintar dalam satu hal: mengubah hampir setiap sisi hidup manusia menjadi sesuatu yang bisa dikonsumsi kembali, termasuk cara kita pulih dari hidup yang terasa terlalu penuh. Ia tidak perlu memaksa siapa pun. Cukup buat semua orang merasa belum cukup dan sisanya berjalan sendiri.

Kita kelelahan karena sistem, lalu membeli solusi dari sistem yang sama untuk pulih dari kelelahan itu. Lucunya, setelah menyadari hal ini, kita tetap mengonsumsinya.

Respons kita terhadap semua itu, lucunya, adalah memperbaiki diri. Kita membeli credit di class pass, meditasi demi hidup yang terasa lebih intentional, atau mengikuti cold shower untuk meningkatkan dopamin. Kita sibuk mengoptimasi diri untuk bertahan di dalam sistem yang pelan-pelan menghabiskan diri, seperti memperbaiki kuda sementara sirkusnya terus berjalan. Inilah akal-akalan kapitalisme.

Brengsek betul. Semua itu kemudian dikemas dengan bahasa yang terdengar personal dan penuh perhatian: self-care, healing, self-reward. Seolah setelah tubuh dipakai habis-habisan untuk bekerja, kita diberi izin kecil untuk menghadiahi diri sendiri, tentu saja dengan membeli sesuatu lagi. Mont Blanc setelah lembur, staycation singkat setelah burnoutcheckout barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan karena merasa “sudah bekerja sekeras itu.” Lama-lama self-reward terasa bukan lagi bentuk merayakan hidup, tapi cara menenangkan diri agar kuat kembali menjalani ritme yang sama besok pagi.

Baca Juga :  Belajar Merangkak ; Tidak Ada Nasib Buruk, Hanya Pikiran yang Keliru

Tapi di tengah semua ironi itu, ada hal lain yang sering luput dibicarakan: tidak semua orang punya ruang yang sama untuk merasa lelah. Ada orang yang masih sempat memahami tentang burnout, mendengarkan podcast soal work-life balance, atau bercanda tentang quarter-life crisis sambil ngopi sepulang kerja. Tapi ada juga yang hidupnya sudah terlalu penuh untuk bahkan sekadar memikirkan kenapa mereka capek. Karena ketika hidup terus dikejar tagihan dan kebutuhan, refleksi sering kali terasa seperti kemewahan.

Ada perbedaan besar antara ingin produktif dan harus produktif, dan kita sering bicara tentang produktivitas seolah semua orang berangkat dari titik yang sama.

Biaya hidup bergerak pelan tapi konsisten. Harga kontrakan/kos-kosan, ongkos transportasi, biaya kesehatan, bahkan harga telur, semua naik diam-diam tanpa pengumuman. Sementara, penghasilan rasanya diam di tempat. Akhirnya celah itu harus ditutup dari mana pun bisa: freelance tambahan, jualan kecil-kecilan, buka laptop lagi setelah jam kerja selesai.

Kita menyebutnya hustle culture seolah itu terdengar aspirasional dan penuh semangat, padahal sebenarnya hanya sedang menutup selisih antara kebutuhan dan kemampuan bertahan. Keputusan atas kondisi yang tidak punya pilihan bagus.

Belum kalau pekerjaan utama ikut menambah lapisan lain. Beban kerja untuk tiga orang dikerjakan satu orang dianggap normal, bahkan tanda kepercayaan dan kapabilitas yang perlu dibanggakan. Deadline mepet dianggap biasa. Lembur jadi bentuk loyalitas yang tidak selalu ada imbalannya.

Semua orang lelah, tapi semua juga takut berhenti, karena pasar kerja selalu punya cara untuk mengingatkan bahwa kita bisa digantikan kapan saja oleh orang yang lebih muda, lebih murah, atau lebih mau bertahan lebih lama. Mau tidak mau, bertahan adalah pilihan. Sambil belajar untuk tidak terlalu sering—ketahuan—mengeluh karena ia akan terasa seperti kelemahan yang tidak boleh kelihatan.

Yang membuat semua ini makin melelahkan adalah kenyataan bahwa kita tidak benar-benar diberi ruang untuk runtuh. Dunia kerja modern suka sekali bicara tentang resilience, adaptability, dan mental toughness, seolah manusia adalah software yang tinggal diperbarui ketika mulai melambat. Padahal sebagian besar orang sebenarnya tidak baik-baik saja, hanya semakin terbiasa menyembunyikannya.

Jadi kita tetap datang kerja sambil kurang tidur. Tetap membalas email sambil cemas. Tetap bilang “aman” meski kepala rasanya penuh terus setiap malam.

Saya, meski sudah cukup sering memikirkan ini, tetap tidak kebal. Awalnya saya pikir kesadaran membuat saya berbeda. Tapi, sadar tidak otomatis membuat seseorang bebas dari apa yang ia sadari.

Saya terkadang bangun dengan cemas di hari libur, khawatir menjelang Senin, tetap merasa tidak nyaman kalau terlalu lama rebahan, tetap membuka laptop bahkan sebelum kopi selesai dibuat. Saya tahu masalahnya, bisa menjelaskannya dengan cukup artikulatif di meja makan, lalu keesokan harinya melakukan hal yang sama persis seperti hari sebelumnya. Kesadaran tentang sebuah masalah, ternyata, tidak sama dengan kemampuan untuk keluar dari masalah itu.

Baca Juga :  Ruang Sunyi di Tengah Riuh: Sebuah Refleksi Eksistensial

Saya, mungkin juga kalian, ingin bisa duduk tanpa merasa bersalah. Minum matcha tanpa mengukur progress. Tidur siang tanpa menganggapnya kegagalan moral. Bisa ngobrol dan ndusel bareng kucing. Tapi ternyata sulit mematikan suara kecil di kepala yang terus bertanya: habis ini mau ngapain lagi, apa yang sudah dicapai hari ini, ada yang lebih penting yang seharusnya dikerjakan.

Suara itu bukan suara satu orang. Ia hasil dari bertahun-tahun menyerap narasi tentang nilai, tentang waktu, tentang siapa yang berhak merasa cukup.

Mungkin itu sebabnya banyak dari kita kelelahan bahkan ketika tidak sedang melakukan apa-apa karena kepala tidak pernah benar-benar berhenti bekerja, bahkan ketika tubuhnya sudah menyerah duluan. Duduk terlalu lama terasa malas. Tidur siang terasa tidak disiplin. Menolak membuka laptop di akhir pekan terasa seperti menyia-nyiakan waktu. Kita seperti dipaksa percaya bahwa nilai diri selalu bergantung pada seberapa banyak yang berhasil dikerjakan dalam sehari. Seolah tubuh baru pantas dihargai kalau sedang menghasilkan sesuatu.

Ini yang kemudian saya sadari: kalau sistem ini hidup dari produktivitas kita, maka istirahat yang disengaja adalah sesuatu yang tidak pernah masuk dalam kalkulasinya. Di sini, rebahan menjadi pilihan.

Rebahan yang sungguhan bukan kemalasan. Ia keputusan. Kecil, tidak dramatis, tidak perlu diberi nama yang lebih berguna karena tubuh tidak sedang menghasilkan apa-apa selain keberadaannya sendiri. Dalam dunia yang menghitung setiap diam sebagai kerugian, memilih untuk tidak bergerak adalah salah satu hal paling subversif yang bisa dilakukan dengan tenang.

Bukan karena rebahan akan mengubah sistem besar yang membuat semua orang terus lelah. Melainkan untuk beberapa menit, setidaknya, kita berhenti memberikan seluruh diri kita kepada ritme yang terus meminta lebih.

Pagi ini, sebelum kopi selesai, sebelum tangan bergerak ke tempat biasanya, saya memilih untuk diam. Tidak ada yang dicek. Tidak ada progress bar. Tidak ada target harian. Tidak ada self-improvement. Tidak ada yang harus diselesaikan dulu agar hari ini terasa sah. Hanya tubuh yang akhirnya diberi izin untuk ada tanpa harus berguna.

Jika sistem ini dirancang agar selalu produktif, menjual, dan menghasilkan, maka berhenti, meski sebentar, meski sunyi, adalah satu-satunya hal yang belum berhasil mereke bungkus sebagai kebutuhan yang dapat ditagih tiap bulan.

Sampai hari ini.

Tidak tahu kalau besok.

Rebahanlah, maka kau akan menemukan.

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Pendapatan Tidak Bermakna Tanpa Perencanaan
Buruh dalam Kepungan Slogan: Kapan Kesejahteraan Menjadi Nyata?
Ruang Sunyi di Tengah Riuh: Sebuah Refleksi Eksistensial
Kemerdekaan di Balik Meja Kerja: Belajar dari Viktor Frankl tentang Ketangguhan Mental
Perempuan Tidak Butuh Lelaki Sempurna, Tapi Lelaki yang Aman
Ikigai dan Jebakan Manis Kapitalisme
KAMPUS DALAM BAYANG-BAYANG FORMALITAS: ANTARA GELAR, CITRA, DAN KEHILANGAN SUBSTANSI
Menyeruput “SUSU” yang Tak Hangat: Ironi Struktur dan Skala Upah

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 16:07 WITA

Rebahan Sebagai Perlawanan

Senin, 11 Mei 2026 - 12:52 WITA

Pendapatan Tidak Bermakna Tanpa Perencanaan

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:12 WITA

Buruh dalam Kepungan Slogan: Kapan Kesejahteraan Menjadi Nyata?

Sabtu, 9 Mei 2026 - 15:13 WITA

Ruang Sunyi di Tengah Riuh: Sebuah Refleksi Eksistensial

Kamis, 7 Mei 2026 - 16:27 WITA

Kemerdekaan di Balik Meja Kerja: Belajar dari Viktor Frankl tentang Ketangguhan Mental

Berita Terbaru

Opini

Rebahan Sebagai Perlawanan

Senin, 11 Mei 2026 - 16:07 WITA

Opini

Pendapatan Tidak Bermakna Tanpa Perencanaan

Senin, 11 Mei 2026 - 12:52 WITA