Suara dari Sungai Moleono: Guru Pedalaman Minta Keadilan Tunjangan Daerah Terpencil

- Jurnalis

Senin, 6 Oktober 2025 - 13:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MOLEONO, TRISAKTINEWS.COM — Dari tepi sungai dan jalur setapak di pinggiran hutan, suara harapan datang dari para guru di SDN 2 Moleono. Mereka bukan hanya mengajar, tapi juga berjuang menembus medan berat setiap hari demi memastikan anak-anak di pelosok tetap mendapatkan haknya atas pendidikan.

Untuk sampai ke sekolah, para guru harus menyusuri sungai selama hampir 1 jam, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 30 menit melewati jalan berlumpur dan rimbunnya hutan. Namun di balik dedikasi itu, ada kegelisahan yang mereka rasakan: sekolah mereka tidak termasuk penerima tunjangan daerah terpencil, hanya karena secara administratif desa tempat mereka berada tidak dikategorikan sebagai wilayah terpencil.

Baca Juga :  Atap Bocor, Lantai Berlubang: Puluhan Siswa SD di Pelosok Bone Belajar di Tengah Ancaman Keselamatan

Padahal, secara geografis dan aksesibilitas, SDN 2 Moleono jauh dari kemudahan. Kondisi alam menjadi tantangan harian, namun semangat pengabdian tak pernah surut.

“Kami tidak meminta lebih, hanya berharap pemerintah bisa melihat kenyataan di lapangan. Tolong kebijakan ini jangan hanya melihat peta administratif, tapi lihat letak geografis sekolah, lihat bagaimana perjuangan guru-guru yang mengajar di tempat seperti kami,” ungkap salah satu guru dengan nada haru.

Para guru berharap pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), dapat meninjau ulang aturan penentuan tunjangan daerah terpencil atau khusus agar lebih berkeadilan dan berpihak kepada mereka yang benar-benar menghadapi kesulitan geografis.

Baca Juga :  Ribuan Warga Tumpah Ruah di Watampone! Trofi Juara Bone Beramal FC Diarak Keliling Kota

“Kami mengabdi bukan karena kemewahan, tapi karena panggilan hati. Namun, penghargaan dari negara sangat berarti bagi kami untuk terus bertahan dan mengabdi di pelosok negeri,” tambahnya.

Harapan ini mewakili banyak sekolah di berbagai pelosok Indonesia yang menghadapi situasi serupa. Mereka berharap kebijakan yang lebih manusiawi dan berpihak kepada realitas di lapangan dapat segera diwujudkan, agar keadilan dan pemerataan pendidikan benar-benar terasa hingga ke tepian negeri.

Penulis : Yuni

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Udang Vaname Siap Panen! Bupati Sinjai Bongkar Potensi Besar Tambak Modern Milik Pengusaha Lokal
Kabel PLN Rp2,5 Miliar Raib! Tiga Pemuda di Bone Ditangkap Dini Hari, Polisi Bongkar Cara Mereka Beraksi
Peduli Lansia, Hj. Maya Damayanti Tinjau Layanan Kesehatan Gratis di Puskesmas Tunreng Tellue
Ribuan Warga Tumpah Ruah di Watampone! Trofi Juara Bone Beramal FC Diarak Keliling Kota
Kampung Nelayan Merah Putih Bone Terkendala Sempadan Sungai, Wabup Andi Akmal Gerak Cepat ke KKP
Bupati Bone Borong Dagangan UMKM di HUT ke-81 TNI, Kaus Loreng Dibeli Lalu Dibagikan ke Warga
Teror Pengendara Motor Trail di Bulukumba Terbongkar, Pemuda 25 Tahun Ditangkap Usai CCTV Ungkap Aksinya
Dua Demo Digelar Bersamaan di Bulukumba, Polisi Turunkan Puluhan Personel Amankan Aksi

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 23:37 WITA

Udang Vaname Siap Panen! Bupati Sinjai Bongkar Potensi Besar Tambak Modern Milik Pengusaha Lokal

Selasa, 22 September 2026 - 19:27 WITA

Kabel PLN Rp2,5 Miliar Raib! Tiga Pemuda di Bone Ditangkap Dini Hari, Polisi Bongkar Cara Mereka Beraksi

Selasa, 22 September 2026 - 18:58 WITA

Peduli Lansia, Hj. Maya Damayanti Tinjau Layanan Kesehatan Gratis di Puskesmas Tunreng Tellue

Selasa, 22 September 2026 - 18:42 WITA

Ribuan Warga Tumpah Ruah di Watampone! Trofi Juara Bone Beramal FC Diarak Keliling Kota

Selasa, 22 September 2026 - 18:31 WITA

Kampung Nelayan Merah Putih Bone Terkendala Sempadan Sungai, Wabup Andi Akmal Gerak Cepat ke KKP

Berita Terbaru