Transformasi Panopticon: Hegemoni Kontrol Sosial dan Kekerasan Simbolik dalam Masyarakat Kontemporer

- Jurnalis

Minggu, 18 Januari 2026 - 08:01 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Aspiyandi

TRISAKTINEWS.COM, — Seorang filsuf Inggris Jeremy Bentham di akhir abad 18 membuat desain penjara, yang diberi nama Panopticon. Sebuah bangunan berbentuk melingkar dengan sebuah menara di tengah, di mana penjaga bisa mengawasi semua tahanan tanpa terlihat. Karena para penjaga tidak tahu kapan mereka sedang bersembunyi, mereka akhirnya mengawasi diri mereka sendiri. Akhirnya ini menjadi istilah dalam filsafat sosial dan teori kontrol.

Filsuf Michel Foucault kemudian menggunakan konsep ini untuk menjelaskan bagaimana kekuasaan bekerja di masyarakat modern: orang merasa menakutkan terus, akhirnya patuh tanpa perlu dipaksa, sehingga menjadi bentuk kontrol sosial yang halus tapi kuat. Contoh yang sering disebut “panoptikon”: CCTV di kota, media sosial, kantor atau perusahaan yang memakai sistem pemantauan karyawan, konsep pengawasan negara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Suatu contoh sekolah dengan kamera dan aturan ketat, siswa tahu ada CCTV di koridor, kelas, atau halaman. Meskipun guru tidak selalu melihat, kesadaran bahwa “bisa saja sedang memperluas” membuat mereka otomatis menjaga perilaku. Atau pengawasan di tempat kerja, beberapa kantor punya: perangkat lunak yang memonitor komputer karyawan, rekaman telepon, kartu akses yang mencatat kapan karyawan masuk/keluar meski bos tidak melihat terus, karyawan jadi merasa harus patuh.

Baca Juga :  Ramadan Usai, Saatnya Beraksi: Mengukir Manfaat Sosial Nyata

Selain itu Media sosial dan jejak digital juga bisa menjadi panopticon, orang sering berhati-hati mengirimkan sesuatu karena takut dinilai, discreenshot, atau viral. Perasaan “orang bisa lihat kapan saja” membuat kita mengatur diri sendiri inilah yang disebut sifat panoptik. Dan ini digunakan juga oleh negara dengan kontrol digital tinggi, beberapa negara memakai sistem pengawasan massal seperti: kamera dengan pengenalan wajah, data internet yang diawasi, Warga jadi otomatis berhati-hati karena merasa selalu waspada.

Saya jadi ingat film The Truman Show :
Truman hidup di kota yang penuh kamera tersembunyi, membuat dia tertangkap sesuai “norma” tanpa tahu sedang ditonton jutaan orang. Dan film The Dark Knight (Batman), Batman menggunakan sistem sonar yang menyatukan seluruh kota Gotham untuk mencari Joker.

Warga tidak tahu, tapi sistem ini memunculkan perasaan “diawasi.” Di Indonesia, konsep panopticon muncul sangat kuat di media sosial karena:
a. “Tangkapan layar Takut”
Ini bentuk panoptikon paling nyata.
Orang cenderung berhati-hati menulis komentar karena takut jadi viral, diberitakan, dipermalukan publik, dicari identitasnya. Meski tidak ada yang benar-benar mengawasi setiap detik, kemungkinan besar membuat orang mengontrol dirinya sendiri.
B. Budaya “netizen + polisi moral”
Reaksi cepat dari netizen Indonesia menciptakan efek panoptik sosial, misal artis minta maaf, tokoh masyarakat menghapus postingan, akun anonim sekalipun bisa kena “doxxing” atau kecaman.

Baca Juga :  Filantropi Berisik

Sebenarnya Panopticon bisa mempunyai sisi positif jika digunakan dengan tepat yaitu : Dapat meningkatkan kedisiplinan (contoh: berkendara lebih ketat karena ada CCTV), mengurangi kejahatan (pemantauan ruang publik), mendorong profesionalisme di tempat kerja, mencegah intimidasi atau menyelesaikan di sekolah/kampus, membantu keamanan publik (contoh: pemantauan bencana, keramaian). Jadi Panopticon efektif bila tujuannya transparan dan melindungi masyarakat.

Akan tetapi jika tidak menonjolkan diri melalui regulasi yang adil, panopticon bisa berubah menjadi alat yang menentukan. Karena bisa menimbulkan hal-hal negatif, seperti membuat orang stres karena “merasa berdekatan.” Mengurangi kebebasan berekspresi, menimbulkan self-censorship yang berlebihan (takut ngomong apa pun), risiko intimidasi data dan kekuasaan, yang pada akhirnya menjadi alat kontrol politik atau sosial yang keras.

Ketika Panopticon ini menjadi alat kontrol politik maka rakyat akan mengalami apa yang disebut filsafat Pierre Bourdieu sebagai simbol kekerasan. Tampak dari luar secara fisik tidak mengalami kekerasan, namun secara psikologis mereka mengalami kekerasan karena kuasa simbolik yang dilakukan secara halus melalui Panapticon.

Penulis : Aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Simulakra di Langit Teheran
Ruang Sempit Bernama Pola Pikir
Kemilau Nikel dan Luka yang Tersembunyi: Menakar Nasib Buruh Perempuan di Rahim PT. IMIP
Monumen Kerentanan di Balik Kejayaan Nikel: Refleksi Atas Hegemoni Produksi dan Reduksi Hak Buruh di Morowali
Hilal dan Hisab: Menjaga Harmoni di Balik Perbedaan Awal Ramadhan
Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Tidak Mampu Memasak Harapan : Surat Terakhir dari Ngada
Kebebasan Individu dan Ruang Publik
Hantu Tan Malaka di Ruang Gema

Berita Terkait

Senin, 2 Maret 2026 - 04:41 WITA

Simulakra di Langit Teheran

Minggu, 1 Maret 2026 - 20:26 WITA

Ruang Sempit Bernama Pola Pikir

Sabtu, 28 Februari 2026 - 06:43 WITA

Kemilau Nikel dan Luka yang Tersembunyi: Menakar Nasib Buruh Perempuan di Rahim PT. IMIP

Sabtu, 28 Februari 2026 - 04:15 WITA

Monumen Kerentanan di Balik Kejayaan Nikel: Refleksi Atas Hegemoni Produksi dan Reduksi Hak Buruh di Morowali

Jumat, 20 Februari 2026 - 15:28 WITA

Hilal dan Hisab: Menjaga Harmoni di Balik Perbedaan Awal Ramadhan

Berita Terbaru