JAKARTA, TRISAKTINEWS.COM — Southeast Asian Academic Mobility (SEAAM) berkolaborasi dengan Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI) PBHMI bersama jejaring perguruan tinggi lintas negara menyelenggarakan International Seminar on Higher Education (ISHE) 2026 pada Jumat–Sabtu, 9–10 Januari 2026.
Seminar internasional ini mengangkat tema penguatan inovasi dan kolaborasi akademik di era digital.
Dalam kegiatan tersebut, Dewan Pendidikan Kabupaten Maros turut berperan aktif dengan memfasilitasi sejumlah perguruan tinggi di wilayahnya untuk menjadi peserta sekaligus pemateri dalam forum internasional tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sebuah peluang kolaborasi global. Posisi Dewan Pendidikan Kabupaten Maros adalah sebagai fasilitator agar perguruan tinggi di daerah dapat terhubung dengan jejaring internasional,” ujar Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Maros, Ismail Suardi Wekke.
Seminar ini menjadi momentum penting dalam merancang kerja sama riset dan pengabdian kepada masyarakat antara akademisi dari Asia, Eropa, dan Amerika Serikat dengan institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung secara hibrida ini menghadirkan berbagai pakar untuk membahas isu strategis global, mulai dari transformasi teknologi hingga keberlanjutan ekonomi.
Sebagai Komite Saintifik ISHE 2026, Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa forum ini dirancang sebagai pertemuan rutin yang membangun ekosistem ilmu pengetahuan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Seminar internasional ini merupakan ikhtiar bersama untuk menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan kebutuhan praktis di lapangan. Melalui kemitraan SEAAM, LTMI PBHMI, dan perguruan tinggi, kita sedang menyusun fondasi agar hasil riset dapat berdampak langsung pada kebijakan publik dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran organisasi mahasiswa dalam proses regenerasi intelektual. Menurutnya, keterlibatan PBHMI melalui LTMI menjadi faktor penting dalam memastikan mahasiswa berperan aktif dalam penguasaan teknologi dan inovasi.
“Kita ingin mahasiswa tidak hanya menjadi objek pendidikan, tetapi menjadi subjek yang mampu mengelola teknologi dan inovasi untuk masa depan,” lanjutnya.
Sementara itu, Direktur LTMI PBHMI, Fatih Saida, menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan wujud komitmen organisasi dalam mengawal isu-isu teknologi dan sains di Indonesia. Ia berharap sinergi ini dapat memperkuat kontribusi mahasiswa dan akademisi dalam menjawab tantangan global.
Pada hari kedua, Sabtu (10/1/2026), seminar akan dilanjutkan dengan sesi keempat hingga kesebelas, termasuk perumusan rekomendasi strategis yang akan disampaikan kepada para pemangku kepentingan. Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi kontribusi konkret dunia akademik dalam mendukung pembangunan nasional dan kawasan Asia Tenggara.
Editor : Admin Redaksi










