BONE, TRISAKTINEWS.COM — Di tengah harapan besar terhadap peran mahasiswa sebagai agen perubahan, kabar kurang menggembirakan datang dari internal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bone.
HMI Komisariat UPP PGSD Bone secara terbuka menyampaikan pernyataan sikap atas kondisi organisasi yang dinilai mengalami stagnasi serius.
Bukan sekadar kritik biasa, pernyataan ini menjadi penanda bahwa ada persoalan mendasar dalam tata kelola organisasi. Ketika sebuah organisasi kader seperti HMI kehilangan dinamika geraknya, maka yang dipertaruhkan bukan hanya program kerja, tetapi juga arah perjuangan dan kualitas kader yang akan dilahirkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam realitas yang disorot, ketidakaktifan pengurus serta mandeknya roda organisasi menjadi indikator bahwa kepemimpinan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Padahal, dalam kerangka nilai yang dipegang HMI, kepemimpinan bukan sekadar jabatan struktural, melainkan amanah yang menuntut kerja nyata, konsistensi, dan tanggung jawab moral.
Ketua Umum HMI Komisariat UPP PGSD Bone, Muhammad Fikri Arfah, menegaskan bahwa organisasi tidak boleh dibiarkan berada dalam kondisi pasif.
“Ketika organisasi berhenti bergerak, di situlah awal kemunduran dimulai. HMI harus tetap hidup sebagai ruang kaderisasi dan perjuangan, bukan sekadar nama tanpa aktivitas,” ujarnya.
Pernyataan sikap ini juga mengandung dorongan kuat agar dilakukan langkah konkret untuk menghidupkan kembali organisasi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan adanya evaluasi struktural secara menyeluruh jika tidak terjadi perubahan signifikan dalam waktu yang wajar.
Sekretaris Umum, Muh. Zubair Ahmad, menambahkan bahwa kritik yang disampaikan merupakan bentuk tanggung jawab kader dalam menjaga marwah organisasi.
“Ini bukan soal menyerang, tetapi mengingatkan. Organisasi ini terlalu besar untuk dibiarkan kehilangan arah,” tegasnya.
Fenomena ini menjadi refleksi penting bahwa krisis dalam organisasi mahasiswa seringkali bukan disebabkan oleh kurangnya potensi kader, melainkan lemahnya konsistensi dalam menjalankan amanah. Ketika pengurus tidak lagi aktif, maka yang terjadi adalah kekosongan gerakan—dan dalam kekosongan itulah kepercayaan perlahan runtuh.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga dalam jangka panjang, terutama pada melemahnya proses kaderisasi. Padahal, kaderisasi adalah jantung dari keberlangsungan organisasi.
Momentum ini seharusnya menjadi titik balik. HMI, sebagai organisasi yang lahir dari semangat keislaman dan keindonesiaan, dituntut untuk selalu relevan, aktif, dan responsif terhadap dinamika zaman.
Lebih dari sekadar organisasi, HMI adalah ruang pembentukan karakter, tempat lahirnya gagasan, dan wadah pengabdian. Maka ketika ruang itu mulai sepi dari gerakan, yang hilang bukan hanya aktivitas, tetapi juga harapan.
Kini, semua mata tertuju pada bagaimana HMI Cabang Bone merespons kritik ini. Apakah akan menjadi awal kebangkitan, atau justru memperpanjang stagnasi yang ada.
Sejarah selalu mencatat:
organisasi yang besar bukan yang tanpa masalah, tetapi yang berani berbenah.
Editor : Admin Redaksi








