Desa Bacu Bone Ukir Prestasi, Perpustakaan Mandiri Masuk Tiga Besar Nasional 2025

- Jurnalis

Selasa, 7 Oktober 2025 - 21:13 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BONE, TRISAKTINEWS.COM — Salah satu di Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, kini menjadi sorotan nasional. Perpustakaan Mandiri Desa Bacu masuk tiga besar Apresiasi Perpustakaan Umum Terbaik Desa/Kelurahan Tingkat Nasional 2025.

Tim visitasi dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) berkunjung langsung ke lokasi disambut hangat oleh Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, SP., M.M., dan masyarakat setempat, Selasa (7/10/2025).

Perpustakaan Mandiri Desa Bacu tampil unik dan memikat. Bangunannya berupa rumah panggung tradisional berpadu dengan taman ketahanan pangan. Dua gazebo terbuka di halaman menjadikan suasana semakin asri dan nyaman untuk membaca.

Konsepnya sederhana, tetapi menyatukan budaya lokal dengan semangat literasi. Tak heran jika tempat ini bukan hanya jadi ruang baca, tapi juga titik kumpul warga untuk berdiskusi dan belajar bersama.
Kepala Desa Bacu dalam laporannya menjelaskan bahwa pembangunan perpustakaan ini tidak hanya mengandalkan kreativitas warga, tapi juga dukungan dana desa.

“Kami mengalokasikan Rp. 177 juta pada tahun 2023, termasuk Rp. 50 juta khusus untuk pengembangan fasilitas dan buku. Bagi kami, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, tapi sarana pendidikan dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga :  Wabup Bone Hadiri Rakor Strategi Percepatan Swasembada Pangan Kegiatan Optimasi Lahan dan Cetak Sawah 2025

Ia juga menyampaikan terima kasih atas kunjungan tim nasional dan kehadiran Wakil Bupati Bone.

“Kami akan terbuka dan transparan. Ini kebanggaan sekaligus tanggung jawab kami,” tambahnya.

Wakil Bupati Bone, Andi Akmal Pasluddin, yang hadir langsung di lokasi, mengapresiasi langkah Desa Bacu sebagai contoh nyata kemajuan literasi di Kabupaten Bone.

“Desa Bacu membuktikan bahwa literasi bisa tumbuh kuat di desa. Dengan kekompakan dan sinergi antara pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten, mereka membangun fasilitas yang bukan hanya fisik, tapi juga menghidupkan budaya baca dan belajar,” katanya.

Menurutnya, pengembangan sumber daya manusia (SDM) adalah kunci utama kemajuan daerah.

“Saya pernah sepuluh tahun di DPR RI dan tahu betul bagaimana negara memberi perhatian besar terhadap literasi. Kami mendorong agar setiap kabupaten punya perpustakaan terintegrasi. Ini bagian dari komitmen membangun bangsa lewat budaya membaca,” ungkapnya.
Dengan nada santai, Akmal juga sempat berbagi cerita bahwa ia baru pertama kali datang ke Desa Bacu secara langsung.

Baca Juga :  Koperasi Merah Putih Tuntas Dibentuk di Seluruh Desa dan Kelurahan Bulukumba

“Sebelumnya saya cuma lihat di TikTok. Kadang beda antara video dan kenyataan, tapi ternyata di sini sama indahnya dengan di video,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan Umum dan Khusus Perpusnas RI, Dra. Hj. Nani Suryani, M.Si., menyampaikan apresiasi tinggi terhadap upaya Desa Bacu yang berhasil mengelola perpustakaan secara inklusif dan partisipatif.

“Ini luar biasa. Perpustakaan Desa Bacu bukan hanya bangunan, tapi hasil perjuangan dan kreativitas masyarakat. Pengelolaannya melibatkan warga secara aktif, bahkan memanfaatkan produk lokal dalam kegiatan literasi,” katanya.

Nani menegaskan bahwa Perpusnas terus berkomitmen memperluas program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial hingga tahun 2029. “Kami ingin perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tapi pusat pemberdayaan masyarakat. Dan Desa Bacu sudah membuktikannya,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Desa Bacu kini masuk tiga besar nasional bersama dua desa lain dari provinsi berbeda.
“Nanti tanggal 25 Oktober 2025, akan ada presentasi lanjutan di Jakarta untuk menentukan juara nasional,” ujarnya.

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital
Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?
Romantisasi Buku di Media Sosial: Mahasiswa Membeli untuk Membaca atau Sekedar Konten?
Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?
Generasi Muda Ambil Peran dalam Pelestarian Songkok Recca
Pelajar dan Masyarakat Gunakan Akses Sementara Selama Pembangunan Jembatan Baru di Desa Lemoape Kecamatan Palakka
Ketika Buku Jadi Barang Mewah: Krisis Literasi Indonesia yang Terabaikan
Media Sosial dan Krisis Fokus Pelajar di Era Digital
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:26 WITA

Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:21 WITA

Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:16 WITA

Romantisasi Buku di Media Sosial: Mahasiswa Membeli untuk Membaca atau Sekedar Konten?

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:13 WITA

Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:10 WITA

Generasi Muda Ambil Peran dalam Pelestarian Songkok Recca

Berita Terbaru

Daerah

Menjadi Pengguna Bijak di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Jumat, 26 Jun 2026 - 08:26 WITA

Daerah

Aksara Lontara di Era Modern: Bertahan atau Hilang Perlahan?

Jumat, 26 Jun 2026 - 08:13 WITA

Daerah

Generasi Muda Ambil Peran dalam Pelestarian Songkok Recca

Jumat, 26 Jun 2026 - 08:10 WITA