Oleh: Risna Agustiana Nanda, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Bone
TRISAKTINEWS.COM – Sebuah paradoks tengah terjadi di kalangan mahasiswa masa kini. Di satu sisi, mereka mampu mengetik ratusan hingga ribuan pesan chat dalam sehari tanpa merasa kelelahan. Namun di sisi lain, membuka buku teks setebal beberapa halaman saja sudah terasa berat dan melelahkan. Fenomena ini dikenal sebagai kelebihan beban teks atau text overload, dan dampaknya mulai terasa nyata dalam dunia pendidikan.
Tidak sulit menemukan gambaran ini di kehidupan sehari-hari mahasiswa. Layar ponsel mereka penuh dengan notifikasi pesan dari berbagai grup WhatsApp, komentar di media sosial, hingga percakapan pribadi yang tidak ada habisnya. Jari-jari mereka lincah mengetik balasan dalam hitungan detik. Namun ketika dosen meminta mereka membaca satu bab buku referensi, tiba-tiba semangat itu lenyap.
Perbedaan mendasar antara membaca chat dan membaca buku terletak pada cara otak memproses informasi. Pesan chat bersifat pendek, cepat, dan penuh stimulasi visual seperti emoji dan gambar. Otak terbiasa menerima informasi dalam potongan-potongan kecil yang mudah dicerna. Sebaliknya, membaca buku membutuhkan konsentrasi penuh, pemahaman mendalam, dan kesabaran yang kini semakin sulit ditemukan di era serba instan ini.
Seorang mahasiswi semester empat Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Bone mengaku merasakan sendiri fenomena ini. “Sehari bisa balas chat ratusan kali, tapi kalau disuruh baca buku dua halaman saja sudah mengantuk,” ungkapnya. Ia menyadari bahwa kebiasaan membaca pesan singkat telah mengubah cara otaknya menyerap informasi, membuatnya sulit berkonsentrasi pada bacaan yang lebih panjang dan kompleks.
Fenomena ini bukan sekadar kemalasan semata. Para ahli menyebutnya sebagai digital fatigue atau kelelahan digital, kondisi di mana otak mengalami keletihan akibat terlalu banyak menerima informasi dalam format digital. Ironisnya, meski lelah secara kognitif, banyak mahasiswa tetap tidak bisa lepas dari ponsel mereka dan justru terus menambah beban teks melalui media sosial.
Dampaknya pada dunia pendidikan cukup mengkhawatirkan. Kemampuan membaca pemahaman mahasiswa menurun, daya analisis melemah, dan minat terhadap literasi akademik semakin berkurang. Padahal, kemampuan membaca secara mendalam adalah fondasi utama dalam dunia pendidikan tinggi, terutama bagi mahasiswa yang kelak akan menjadi pendidik generasi berikutnya.
Di tengah gempuran informasi digital yang tidak pernah berhenti, mahasiswa perlu kembali melatih diri untuk membaca secara mendalam dan penuh kesadaran. Mengurangi waktu di layar ponsel dan menyisihkan waktu khusus untuk membaca buku adalah langkah sederhana yang bisa dimulai hari ini. Sebab, sebanyak apapun chat yang diketik, tidak akan pernah bisa menggantikan kedalaman pengetahuan yang hanya bisa diperoleh dari membaca.
Penulis : Risna Agustiana Nanda
Editor : Admin Redaksi








