Romantisasi Buku di Media Sosial: Mahasiswa Membeli untuk Membaca atau Sekedar Konten?

- Jurnalis

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Arnida, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone, program studi Pendidikan Bahasa Indonesia semester empat.

TRISAKTINEWC.COM – BookTok dan Bookstagram telah mengubah cara generasi muda menemukan buku. Menurut data TikTok yang dikutip Forbes (2025), tagar #BookTok telah mencapai 370 miliar tayangan secara global. Di Indonesia, survei GoodStats 2025 menunjukkan 62,5% responden pertama kali menemukan buku melalui media sosial, sementara 77,9% mengaku terdorong membeli buku setelah melihat ulasan daring.

Dampaknya terasa langsung pada industri perbukuan. Penjualan meningkat, penerbit menggandeng bookfluencer, dan seejumlah buku kembali populer berkat video singkat yang viral.

Baca Juga :  Kemunafikan Ekologis: Menjual Narasi Hijau di Hilir, Menandatangani Konsesi Tambang di Hulu

Namun dibalik tren tersebut muncul pertanyaan: dari jutaan orang yang menonton konten buku, berapa yang benar-benar membacanya?

Fenomena ini dikenal sebagai literasi performatif, yaitu ketika buku lebih banyak digunakan sebagai simbol identitas daripada sumber pengetahuan. Rak buku ditata untuk estetika, video unboxing mendapat ribuan tayangan, tetapi tidak sedikit buku yang akhirnya hanya menjadi pajangan.

Salah satu penyebabnya adalah Fear of Missing Out (FOMO). Banyak mahasiswa membeli buku yang sedang viral agar tidak tertinggal dari percakapan di media sosial. Akibatnya, daftar bacaan terus bertambah sementara waktu membaca semakin berkurang.

Baca Juga :  Kelebihan Beban Teks: Mengapa Mahasiswa yang Mengetik Ribuan Chat Malah Lelah Membaca Buku?

Meskipun demikian, BookTok tidak sepenuhnya berdampak negatif. Komunitas ini berhasil memperkenalkan banyak buku kepada pembaca baru dan membantu penulis menjangkau audiens yang lebih luas. Bagi banyak anak muda, media sosial justru menjadi pintu masuk menuju dunia literasi.

Persoalanya bukan pada membeli atau membagikan buku di media sosial. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah buku tersebut benar-benar dibaca, dipahami, dan memberi pengalaman intelektual bagi pembacanya.

Pada akhirnya, tantangan literasi hari ini bukan sekadar membuat orang membeli buku, tetapi membuat mereka meluangkan waktu untuk membacanya.

Penulis : Arnida

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Demi Turnamen Aman dan Lancar, Kapolsek Bontocani Kawal Langsung Pertandingan Sepak Bola
Bupati Bone Sambangi Perkemahan Pramuka Ponre, Tekankan Pentingnya Disiplin dan Kemandirian
Fun Bike NBOD di Makassar Meriah, TNI-Polri dan Masyarakat Perkuat Sinergitas
Wabup Andi Akmal Buka Lomba Senam Kreasi, 20 OPD Bone Tampil Penuh Semangat
Usai Kecelakaan Maut, Satlantas Bone Bergerak Cepat Pastikan Keluarga Korban Terima Santunan
Dorong Ketahanan Pangan dari Pekarangan, Mahasiswa KKN-T 116 Kenalkan Budikdamber di Bulucenrana
Melayat ke Rumah Duka Balita Korban Kecelakaan, Bupati Bone Sampaikan Duka Cita dan Beri Bantuan
Diduga Salah Sasaran, Bocah 8 Tahun Dianiaya Pria Dewasa Saat Hendak Mengaji di Bone
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:29 WITA

Demi Turnamen Aman dan Lancar, Kapolsek Bontocani Kawal Langsung Pertandingan Sepak Bola

Senin, 10 Agustus 2026 - 18:21 WITA

Bupati Bone Sambangi Perkemahan Pramuka Ponre, Tekankan Pentingnya Disiplin dan Kemandirian

Minggu, 9 Agustus 2026 - 18:14 WITA

Fun Bike NBOD di Makassar Meriah, TNI-Polri dan Masyarakat Perkuat Sinergitas

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 23:52 WITA

Wabup Andi Akmal Buka Lomba Senam Kreasi, 20 OPD Bone Tampil Penuh Semangat

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 23:50 WITA

Usai Kecelakaan Maut, Satlantas Bone Bergerak Cepat Pastikan Keluarga Korban Terima Santunan

Berita Terbaru