Media Sosial dan Krisis Fokus Pelajar di Era Digital

- Jurnalis

Rabu, 24 Juni 2026 - 12:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Kesya Alfa Dina (NIM : 24690103025) Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone

TRISAKTINEWS.COM — Kita sedang menghadapi krisis yang jarang disebut dengan nama aslinya: krisis perhatian di kalangan pelajar. Bukan karena mereka malas. Bukan karena kurikulum membosankan. Tetapi karena otak mereka sedang diperebutkan oleh algoritma yang jauh lebih canggih dari metode pengajaran mana pun.

Sebuah studi dari Microsoft menemukan bahwa rata-rata rentang perhatian manusia menurun dari 12 detik pada tahun 2000 menjadi hanya 8 detik pada 2015 — lebih pendek dari ikan mas. Angka itu terus menyusut seiring meledaknya penggunaan media sosial. Di Indonesia, laporan We Are Social tahun 2024 mencatat rata-rata pengguna menghabiskan lebih dari 7 jam per hari di internet, dengan media sosial sebagai aktivitas utama. Dan mayoritas penggunanya? Remaja usia sekolah.

Yang perlu kita pahami dan sering kita abaikan adalah bahwa media sosial tidak dirancang untuk mendidik. Ia dirancang untuk membuat kita tidak bisa berhenti.
Fitur infinite scroll, notifikasi merah yang memancing klik, hingga sistem like yang memicu dopamin adalah hasil rekayasa ratusan insinyur Silicon Valley yang bekerja selama bertahun-tahun. Mereka membangun mesin perhatian yang bahkan orang dewasa pun kewalahan menghadapinya. Lalu kita menaruh mesin itu di tangan remaja 14 tahun dan berharap mereka bisa fokus belajar?

Mantan presiden Facebook Sean Parker pernah mengakui secara terbuka bahwa platform media sosial sengaja mengeksploitasi kelemahan psikologi manusia. “Bagaimana kami mengonsumsi waktu dan perhatian sebanyak mungkin?” itulah pertanyaan yang menjadi landasan desain produk mereka, kata Parker. Ini bukan konspirasi. Ini model bisnis.

Baca Juga :  Hilal dan Hisab: Menjaga Harmoni di Balik Perbedaan Awal Ramadhan

Para guru merasakan dampaknya langsung. Banyak yang melaporkan bahwa siswa kini sulit mempertahankan konsentrasi lebih dari 10–15 menit tanpa terdistraksi. Kemampuan membaca teks panjang menurun. Diskusi kelas yang butuh pemikiran mendalam semakin sepi.

Psikolog pendidikan menyebutnya sebagai efek cognitive fragmentation kondisi di mana otak terbiasa menerima informasi dalam potongan-potongan pendek dan cepat (seperti video TikTok 15 detik), sehingga kehilangan kapasitas untuk berkonsentrasi dalam waktu lama. Kemampuan ini, yang disebut deep work, adalah fondasi dari hampir semua pencapaian akademik dan profesional yang bermakna.
Lebih mengkhawatirkan lagi, penelitian menunjukkan bahwa sekadar kehadiran ponsel di atas meja bahkan dalam kondisi mati sudah cukup menurunkan kapasitas kognitif seseorang secara signifikan. Pikiran secara tak sadar “mengawasi” ponsel tersebut, mengambil sebagian kapasitas otak yang seharusnya digunakan untuk berpikir.

Mudah sekali menuding generasi muda sebagai generasi yang malas dan tidak disiplin. Tetapi itu adalah kesimpulan yang tidak adil dan tidak produktif.

Pelajar hari ini tidak lebih lemah dari generasi sebelumnya. Mereka hanya tumbuh dalam ekosistem yang belum pernah ada sebelumnya ekosistem yang secara aktif berlomba memperebutkan perhatian mereka dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, tanpa jeda. Dan mereka menghadapinya tanpa bekal literasi digital yang memadai, tanpa panduan yang jelas, dan sering kali tanpa dukungan orang dewasa yang benar-benar memahami medan pertempuran ini.

Tanggung jawabnya bukan pada pelajar semata. Ia tersebar: pada platform yang merenovasi desainnya demi keuntungan, pada regulasi yang masih tertinggal jauh dari perkembangan teknologi, pada sekolah yang belum sepenuhnya beradaptasi, dan pada orang tua yang masih menganggap masalah ini bisa diselesaikan dengan sekadar “taruh HP-mu.”

Baca Juga :  Bone Juara 1 SSIC 2025, Proyek Bioethanol Dari Limbah Pertanian Curi Perhatian Juri

Ini bukan soal melarang media sosial. Teknologi tidak bisa dan tidak perlu dimatikan. Yang perlu dibangun adalah literasi perhatian (attention literacy): kemampuan untuk secara sadar mengelola ke mana dan berapa lama fokus kita diberikan.

Di Finlandia, sekolah-sekolah mulai mengintegrasikan pelajaran tentang bagaimana algoritma bekerja ke dalam kurikulum sejak dini. Di beberapa negara bagian Amerika Serikat, regulasi baru membatasi penggunaan ponsel di sekolah secara menyeluruh dan hasilnya menjanjikan: nilai akademik naik, interaksi sosial membaik.

Indonesia tidak perlu menyalin mentah-mentah. Tetapi kita perlu mulai serius. Perlu ada dialog nasional yang jujur antara pemerintah, platform teknologi, institusi pendidikan, dan keluarga. Perlu ada kurikulum yang mengajarkan bukan hanya cara menggunakan teknologi, tetapi cara tidak menggunakannya.

Dan yang paling mendesak: perlu ada pengakuan bahwa ini adalah krisis nyata, bukan keluhan generasi tua terhadap perubahan zaman.

Setiap pelajaran yang berlalu di bawah bayang-bayang notifikasi adalah waktu yang tidak bisa dikembalikan. Setiap kemampuan berpikir mendalam yang gagal berkembang karena tergantikan oleh scroll tanpa henti adalah potensi yang hilang diam-diam.

Kita tidak sedang memilih antara teknologi dan pendidikan. Kita sedang memilih antara membiarkan teknologi mengendalikan generasi berikutnya, atau mengambil kembali kendali itu secara sadar dan terencana.
Layar gawai memang jauh lebih memikat daripada papan tulis sekolah. Namun, masa depan generasi kita tidak ditentukan oleh seberapa cepat mereka menggulir linimasa, melainkan oleh seberapa dalam mereka mampu berpikir.

Penulis : Kesya Alfa Dina

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Hari Bhayangkara ke-80, Brimob Sulsel Perkuat Kedekatan dengan Warga Melalui Aksi Sosial
Kehilangan Sosok Pengabdi, Karemuddin Kenang Dedikasi Baharuddin Nurdin untuk Luwu Utara
Agus Ambo Djiwa dan Ajbar Kawal Aspirasi Warga Pasangkayu, DPR RI Dorong Penyelesaian Permukiman di Kawasan Hutan Lindung
Viral di Kalangan Jemaah, Teguran Pengurus Masjid Agung Sinjai Dinilai Kurang Humanis
Semangat Porseni SD INP 5/81 Ponre‑ponre Dimulai Dengan Lari Maraton
Wabup Bone Terima Tim FAO, ARLI dan UNRAM, Dorong Bone Jadi Pusat Pengembangan Rumput Laut Berkelanjutan
Sat Brimob Polda Sulsel Buka Pelatihan Pratama 2026, Cetak Bintara Remaja Profesional dan Modern
Wabup Andi Akmal Pasluddin Tekankan Komitmen Bersama Sukseskan PORPROV 2026 di Bone
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 12:05 WITA

Media Sosial dan Krisis Fokus Pelajar di Era Digital

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:16 WITA

Hari Bhayangkara ke-80, Brimob Sulsel Perkuat Kedekatan dengan Warga Melalui Aksi Sosial

Selasa, 23 Juni 2026 - 07:51 WITA

Kehilangan Sosok Pengabdi, Karemuddin Kenang Dedikasi Baharuddin Nurdin untuk Luwu Utara

Senin, 22 Juni 2026 - 17:24 WITA

Agus Ambo Djiwa dan Ajbar Kawal Aspirasi Warga Pasangkayu, DPR RI Dorong Penyelesaian Permukiman di Kawasan Hutan Lindung

Minggu, 21 Juni 2026 - 22:08 WITA

Viral di Kalangan Jemaah, Teguran Pengurus Masjid Agung Sinjai Dinilai Kurang Humanis

Berita Terbaru

Daerah

Media Sosial dan Krisis Fokus Pelajar di Era Digital

Rabu, 24 Jun 2026 - 12:05 WITA