Pendapatan Tidak Bermakna Tanpa Perencanaan

- Jurnalis

Senin, 11 Mei 2026 - 12:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rahman, SE., MM., CRIP

Banyak pekerja mengira pendapatan besar sudah cukup menjamin masa depan dan tidak perlu mempersiapkan kebutuhan di hari tua. Padahal anggapan itu salah besar, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu saat ini, di mana banyak perusahaan yang terkena imbas dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Karena sebesar apapun pendapatan hari ini, kalau tidak dibarengi dengan ketidakhatian dalam mengelola keuangan, maka kita pulang kampung hanya meninggalkan nama semata. Tidak ada kekayaan yang tersisa untuk dinikmati di masa mendatang.”

Penulis menjelaskan, situasi ekonomi saat ini memang penuh ketidakpastian. Gelombang PHK melanda berbagai sektor, bahkan mereka yang sebelumnya bergaji tinggi pun kini harus siap menghadapi ketidakstabilan.

“Ketika perusahaan mengalami kesulitan, banyak karyawan yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan. Jika sebelumnya tidak punya persiapan keuangan yang baik, mereka akan terjebak kesulitan berkepanjangan. Bahkan dana pensiun atau tabungan yang sudah ada pun bisa habis hanya untuk bertahan hidup sementara saat mencari pekerjaan baru.”

Menurutnya, pengelolaan keuangan yang tidak teratur dan sifat konsumtif menjadi penyebab utama orang menghabiskan seluruh pendapatannya tanpa menyisihkan sedikit pun. Banyak orang terjebak gaya hidup melebihi kemampuan, membeli barang yang tidak perlu, hingga terjebak lingkaran utang.

Baca Juga :  Ruang Sunyi di Tengah Riuh: Sebuah Refleksi Eksistensial

“Bayangkan saja, jika terkena PHK dan tidak ada cadangan dana, apa yang akan terjadi? Semua tabungan untuk masa tua akan habis hanya untuk bertahan. Akibatnya, saat sudah pensiun dan tidak punya penghasilan lagi, mereka benar-benar tidak punya apa-apa. Hidup jadi sulit, tergantung orang lain, bahkan ada yang harus bekerja hingga usia lanjut. Padahal semua itu bisa dihindari jika mulai mengelola keuangan dengan baik sejak awal.”

Penulis menambahkan, persiapan keuangan tidak tergantung seberapa besar pendapatan yang diterima, melainkan seberapa disiplin mengaturnya. Bahkan dengan pendapatan yang tidak terlalu besar, jika dikelola dengan baik, dana untuk masa tua tetap bisa terkumpul. Sebaliknya, meskipun pendapatan sangat besar, jika dihabiskan tanpa perhitungan, semuanya akan habis.

“Kunci utamanya adalah disiplin dan kesadaran. Kita harus membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta lebih mengutamakan hal yang bermanfaat untuk jangka panjang. Apalagi di tengah ketidakpastian seperti sekarang, persiapan keuangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan utama agar kita bisa bertahan dan tetap sejahtera.”

Baca Juga :  KAMPUS DALAM BAYANG-BAYANG FORMALITAS: ANTARA GELAR, CITRA, DAN KEHILANGAN SUBSTANSI

Untuk itu, ia mengajak semua pihak untuk mulai membuat perencanaan keuangan sejak dini. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain menyisihkan dana darurat, berinvestasi seperti membeli tanah, emas, atau mengambil asuransi pendidikan untuk anak.

“Dana darurat menjadi benteng pertama, sebaiknya disiapkan setara kebutuhan hidup selama tiga sampai enam bulan. Investasi tanah nilainya cenderung meningkat seiring waktu, emas berfungsi melindungi nilai uang dan mudah dicairkan, sedangkan asuransi pendidikan menjamin kebutuhan sekolah anak sampai perguruan tinggi.”

Ia menjelaskan, saat ini sudah banyak produk keuangan yang tersedia, baik dari perbankan, perusahaan asuransi, maupun lembaga investasi. Semua produk itu disesuaikan dengan kemampuan keuangan masyarakat.

“Mulailah dari sekarang, seberapapun jumlahnya, asalkan dilakukan secara teratur dan konsisten. Hasilnya akan terasa di masa depan. Persiapan yang matang akan menjadi perlindungan terbaik, baik saat bekerja maupun saat sudah memasuki masa tua nanti.”

Penulis : Rahman, SE., MM., CRIP

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Rebahan Sebagai Perlawanan
Buruh dalam Kepungan Slogan: Kapan Kesejahteraan Menjadi Nyata?
Ruang Sunyi di Tengah Riuh: Sebuah Refleksi Eksistensial
Kemerdekaan di Balik Meja Kerja: Belajar dari Viktor Frankl tentang Ketangguhan Mental
Perempuan Tidak Butuh Lelaki Sempurna, Tapi Lelaki yang Aman
Ikigai dan Jebakan Manis Kapitalisme
KAMPUS DALAM BAYANG-BAYANG FORMALITAS: ANTARA GELAR, CITRA, DAN KEHILANGAN SUBSTANSI
Menyeruput “SUSU” yang Tak Hangat: Ironi Struktur dan Skala Upah

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 16:07 WITA

Rebahan Sebagai Perlawanan

Senin, 11 Mei 2026 - 12:52 WITA

Pendapatan Tidak Bermakna Tanpa Perencanaan

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:12 WITA

Buruh dalam Kepungan Slogan: Kapan Kesejahteraan Menjadi Nyata?

Sabtu, 9 Mei 2026 - 15:13 WITA

Ruang Sunyi di Tengah Riuh: Sebuah Refleksi Eksistensial

Kamis, 7 Mei 2026 - 16:27 WITA

Kemerdekaan di Balik Meja Kerja: Belajar dari Viktor Frankl tentang Ketangguhan Mental

Berita Terbaru

Opini

Rebahan Sebagai Perlawanan

Senin, 11 Mei 2026 - 16:07 WITA

Opini

Pendapatan Tidak Bermakna Tanpa Perencanaan

Senin, 11 Mei 2026 - 12:52 WITA