Oleh: Aspi, Akar Rumput
“Antara stimulus dan respons, ada sebuah ruang. Di dalam ruang itu terdapat kebebasan dan kekuatan kita untuk memilih respons kita.” — Victor Frankl
Di sebuah ruangan kantor dengan tumpukan berkas yang padat, Nchan duduk di depan layar komputer. Tangannya membeku di atas keyboard, tak bergerak. Di belakangnya, suara sang bos terasa seperti jumpscare di film horor: mencekam.
Setiap kali sang bos memanggil, tubuh Nchan bereaksi sama: wajah memerah, telapak tangan basah oleh keringat dingin, dan pikiran tiba-tiba kosong. Ia tahu jawabannya, tapi kata-kata tersebut tidak pernah keluar dengan utuh dan benar.
Fenomena yang dialami Nchan bukanlah sekedar “kurang percaya diri.” Dalam dunia psikologi, ini adalah respon stres akut. Semacam campuran antara rasa takut dinilai, pengalaman masa lalu, dan persepsi ancaman terhadap harga diri.
Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa dalam situasi seperti ini, “Sistem 1” kita (cepat, intuitif, dan emosional) mengambil alih. Ia memandang atasan sebagai ancaman, bukan sekedar manusia biasa. Akibatnya, tubuh bersiap untuk “melawan atau lari”, bukan berpikir jernih.
Nchan tidak sendirian, banyak orang di dunia kerja mengalami hal yang sama: merasa tidak dihargai, diremehkan, atau bahkan ditolak secara halus. Lama-kelamaan, ini menciptakan lingkaran setan. Kita menjadi diam karena takut salah, lalu dianggap tidak kompeten karena diam.
Kita kehilangan kreativitas bukan karena tidak mampu, tetapi karena ruang batin kita dipenuhi kecemasan.
Di titik ini, menarik untuk mengingat gagasan Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, dalam bukunya On Becoming a Person . Rogers percaya bahwa manusia hanya bisa berkembang dalam lingkungan yang memberikan penghargaan positif tanpa syarat , alias penerimaan tanpa syarat.
Ketika lingkungan justru memberikan penilaian negatif terus-menerus, individu akan mulai meragukan dirinya sendiri. Ia tidak lagi bertindak dari “diri sejati,” melainkan dari “diri yang ingin diterima.”
Nchan mulai berubah bukan karena atasannya berubah, tetapi karena ia menemukan satu buku tua di rak perpustakaan kecil dekat rumahnya: Man’s Search for Meaning karya Viktor Frankl. Frankl menulis tentang pengalaman hidup di kamp konsentrasi, tempat di mana manusia kehilangan hampir segalanya. Namun ia menemukan satu hal yang tidak bisa direnggut: kebebasan untuk memilih sikap.
“Antara stimulus dan respons, ada ruang. Di ruang itu terdapat kekuatan kita untuk memilih respons kita.”
Kalimat itu menempel di kepala Nchan.
Ia mulai menyadari bahwa selama ini ia tidak hanya bereaksi terhadap atasannya, tetapi juga terhadap tafsirnya sendiri: “Saya tidak cukup baik,” “Saya pasti salah,” “Saya tidak dihargai.” Pikiran-pikiran ini memperkuat reaksi tubuhnya.
Langkah pertama yang dilakukan Nchan bukanlah melawan atasannya, tetapi mengamati dirinya sendiri.
Ia mulai memperhatikan: kapan wajahnya mulai panas, kapan napasnya menjadi pendek, kapan pikirannya mulai kosong. Ini adalah praktik sederhana yang dalam psikologi modern dikenal sebagai mindfulness . Dengan menyadari reaksi tanpa langsung menghakimi, ia perlahan menciptakan jarak antara dirinya dan emosinya.
Langkah kedua adalah mengubah narasi internal.
Alih-alih berpikir “atasan saya tidak suka saya,” ia mencoba menggantinya dengan kalimat yang lebih netral: “atasan saya punya standar tertentu, dan saya sedang belajar memahaminya.” Ini bukan sekadar berpikir positif, tetapi berpikir lebih akurat. Dalam terapi kognitif, ini disebut restrukturisasi kognitif , yaitu mengganti pikiran otomatis yang merugikan dengan perspektif yang lebih realistis. Tak mudah, terkesan munafik dan membosankan, tapi bisa dibiasakan.
Langkah ketiga adalah membangun “ruang aman” di dalam diri.
Karena lingkungan luar tidak selalu bisa berubah, Nchan mulai menciptakan stabilitas dari dalam. Ia melatih pernapasan sederhana sebelum berbicara: menarik napas dalam empat hitungan, menahan dua detik, lalu melakukan gerakan perlahan. Teknik ini membantu sistem sarafnya keluar dari mode panik.
Ia juga mulai menulis jurnal setiap malam. Tujuannya bukan untuk mengeluh, tetapi untuk memperbaiki pikiran. Dengan menulis, ia menyadari bahwa banyak ketakutannya tidak benar-benar terjadi, hanya terulang di kepalanya.
Namun perubahan terbesar datang ketika ia mulai bertindak, meski kecil.
Suatu hari, ketika diminta pendapat, Nchan tetap merasa tegang. Wajahnya memerah seperti biasa. Tapi kali ini, dia tidak menunggu rasa takut hilang. Ia berbicara bersama rasa takut itu. Suaranya sedikit bergetar, kalimatnya tidak sempurna, tetapi ia selesai.
Atasannya mungkin tidak langsung memuji, tapi juga tidak menghancurkannya. Di titik itu, Nchan mempelajari sesuatu yang penting: keberanian bukan ketiadaan rasa takut, tetapi kemampuan untuk tetap bergerak meski rasa takut.
Dari pengalaman ini, ada beberapa cara konkret untuk membangun mental dan ketenangan batin:
Pertama , kenali respon tubuhmu. Ketegangan, keringat dingin, dan pikiran adalah sinyal buntu, bukan musuh. Dengan mengenalinya, kamu bisa mengelolanya, bukan mengendalikannya.
Kedua , tanyakan pikiranmu sendiri. Tidak semua yang kamu pikirkan adalah fakta. Banyak di antaranya adalah interpretasi yang bisa diubah.
Ketiga , latih jeda. Tarik napas, beri ruang antara perasaan dan tindakan. Disitulah kebebasanmu berada, seperti yang dikatakan Frankl.
Keempat , bangun validasi dari dalam. Jika kamu terus menunggu pengakuan dari luar, kamu akan selalu rapuh. Tetapi jika kamu tahu nilai dirimu sendiri, penilaian orang lain tidak lagi menentukan segalanya.
Kelima , bertindak meski belum siap. Kepercayaan diri tidak datang sebelum mengambil tindakan, tetapi lahir dari tindakan itu sendiri.
Pada akhirnya, ketenangan batin bukan berarti hidup tanpa tekanan, melainkan kemampuan untuk tetap utuh di tengah tekanan. Dunia kerja mungkin tidak selalu ramah, atasan tidak selalu adil, dan penilaian orang lain tidak selalu masuk akal. Tetapi seperti yang Nchan pelajari, kita selalu punya satu wilayah yang bisa kita rawat: cara kita merespons .
Dan dari situlah, perlahan, mental yang kuat dibangun. Bukan dalam satu momen besar, tetapi dalam keberanian-keberanian kecil yang terus diulang setiap hari.
Penulis : aspi
Editor : Admin Redaksi








