Oleh: Aspi, Akar Rumput
“Jadi kamu menyalahkanku?” tanya Hawa.
Adam menggeleng. “Kita berdua yang memilih.”
Tiba-tiba surga terasa sunyi.
“Aku cuma takut,” kata Adam kemudian.
“Kalau kamu takut, jangan jadikan aku di tempatnya,” jawab Hawa.
“Aku pasanganmu, bukan musuhmu.”
Adam mengangguk pelan. “Kalau begitu… kita berhadapan bersama.”
Hawa duduk di dalamnya dalam diam yang tak berujung.
Dalam banyak kisah awal manusia, hubungan laki-laki dan perempuan tidak dimulai dari kekuasaan, namun dari keberadaan yang setara. Dalam narasi Adam dan Hawa, keduanya hadir sebagai pasangan. Mereka sama-sama jatuh, sama-sama menanggung konsekuensi. Tidak ada satu pihak yang diberi lisensi untuk melukai yang lain atas nama peran.
Namun entah sejak kapan, sebagian lelaki mengartikan “menjadi kepala” sebagai hak untuk mengatur, mengontrol, bahkan menyakiti.
Padahal, kalau kita kembali ke gagasan cinta sebagai tindakan, seperti yang pernah ditegaskan Erich Fromm dalam The Art of Loving . Tanggung jawab bukanlah menguasai, melainkan peduli (kepedulian aktif), menghormati (mengakui keutuhan orang lain), dan pengetahuan (usaha memahami tanpa menguasai).
Seorang suami yang bertanggung jawab bukan yang suaranya paling keras, tapi yang paling aman kehadirannya. Bukan yang paling cepat memberi perintah, tapi yang paling lambat menghakimi. Bukan yang merasa “punya hak” atas tubuh dan emosi istrinya, tapi yang sadar bahwa mencintai berarti menjaga, bukan memiliki.
Masalahnya, banyak lelaki gagal di titik paling dasar: mengelola dirinya sendiri.
Ia belum selesai dengan amarahnya, tapi menuntut pemahaman.
Ia tidak matang secara emosional, tapi ingin dihormati tanpa syarat.
Ia tidak mau belajar mendengar, tapi ingin selalu didengar.
Lalu ketika kenyataan tidak sesuai harapannya, ia mengangkat tangan. Dan di situlah semuanya runtuh.
Kekerasan dalam rumah tangga bukan “khilaf”. Itu pilihan. Pilihan untuk menempatkan ego di atas keselamatan orang yang dicintainya. Pilihan untuk menggunakan tubuh yang lebih kuat sebagai alat menekan.
Tidak ada pembenaran di situ. Tidak budaya, tidak agama, tidak stres kerja.
Apa pun permintaannya, lelaki yang memukul, mengintimidasi, atau menginginkan pasangannya diinginkan sendiri. Ia bukan pemimpin. Ia pelaku kekerasan.
Dan kalau mau bicara keras: lelaki yang merasa “jantannya” muncul saat perempuan di depannya takut, itu bukan kekuatan. Tapi kerapuhan yang disembunyikan dengan cara paling murahan.
Bandingkan dengan figur-figur yang sering dijadikan referensi moral. Dalam banyak tradisi, laki-laki yang dihormati justru mampu menahan diri. Yang tidak menjadikan kemarahan sebagai bahasa utama. Kehadirannya membuat orang lain tumbuh, bukan mengecil.
Karena tanggung jawab seorang suami tidak berhenti di “menafkahi”. Ia mencakup: menjaga keselamatan fisik dan emosional, menciptakan ruang di mana istri bisa menjadi manusia seutuhnya, dan berani mewujudkan dirinya sendiri sebelum mewujudkan orang lain. Ini berat. Dan memang seharusnya berat.
Karena mencintai seseorang dalam jangka panjang bukan soal perasaan yang hangat terus-menerus, tapi soal komitmen untuk tidak menyakiti, bahkan saat kita marah, kecewa, atau merasa tidak dihargai.
Ada kalimat yang jarang diucapkan, tapi penting:
Perempuan tidak membutuhkan lelaki yang “sempurna”.
Mereka membutuhkan lelaki yang aman.
Aman dari tangan yang ringan.
Aman dari kata-kata yang mantap.
Aman dari permainan kekuatan yang melelahkan.
Dan kalau seorang lelaki belum bisa memberikan itu, mungkin yang perlu ia tanyakan bukan “kenapa istriku begini”, tapi:
“Kenapa aku belum cukup dewasa untuk tidak menyakiti?”
Karena pada akhirnya, tanggung jawab bukan tentang posisi, tapi tentang dampak. Dan laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab tidak akan meninggalkan luka di rumahnya sendiri.
Penulis : aspi
Editor : Admin Redaksi








