Pendidikan sebagai Alat Pembebasan: Pendekar Pendidikan dari Illich Hingga Giroux Sebuah Refleksi

- Jurnalis

Minggu, 3 Mei 2026 - 06:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aspi, Akar Rumput

Selamat berhari Minggu.

Selamat merayakan hari buruh di MayDay kemarin, lalu selamat merayakan hari pendidikan nasional sebagai hari lahirnya tokoh pendidikan kita yaitu Daendels Ki Hajar Dewantara.

Saat saya lebih muda dari sekarang—karena sekarang juga masih muda—saya punya pemikiran utopia tentang bagaimana dunia seharusnya berjalan.

Ide di mana manusia bekerja bukan karena mencari uang, tetapi untuk saling memenuhi kebutuhan di komunitasnya.

Namun, setelah saya bekerja, saya tahu itu hampir tidak mungkin. Seluruh sistem yang ada saat ini harus hancur lebih dulu untuk mewujudkannya.

Jadi, bayangkan saya, Anda, dan kita semua hidup dalam lingkaran saling memenuhi, beberapa orang bertani, sebagian berkebun, sebagian mengurus kolam, yang lain ada yang mengajar anak-anak, lalu yang lain ada yang bekerja membuat perabot.

Tidak ada alat tukar selain keikhlasan. Pemikiran konyol.

Buruh adalah roda-roda yang menggerakkan masyarakat, karena itu sangatlah penting. Mulai dari buruh yang gajinya cukup untuk menyicil Honda Beat, sampai buruh yang gajinya cukup untuk umroh setiap tahun.

Dalam utopia dunia yang saya bayangkan di atas, nilai buruh akan hilang, karena manusia berada di masyarakat yang tidak mengenal kata buruh ataupun kapital.

Cara berpikir itu membawa saya berkelana ke berbagai pemikir, namun hal itu malah mengarah pada orang-orang yang bekerja di jalur pendidikan.

Baca Juga :  Nur Syifa Nadiastuti, Wisudawati Inspiratif FEB UNJ 2025 Dengan 150 Prestasi Untuk Ibu dan Mendiang Ayah Tercinta

Apa hubungannya?

Begini, orang sering berpikir bahwa bagaimana seseorang dibentuk melalui pendidikan selalu dalam kondisi yang netral.

Memang keliru, pendidikan selalu berpihak pada suatu ide. Hasil dari pendidikan itu yang kemudian menyajikan pada bagaimana masyarakat disusun.

Inggris punya sejarah panjang tentang bagaimana ruang kelas didesain dengan orientasi siap kerja. Wajar, karena Inggris di abad ke-17 mempunyai industri yang mulai bergerak maju pesat.

Maka lulusan sekolah memiliki tempat untuk dapat menggerakkan roda-roda perekonomian melalui industri-industri tersebut.

Saya, jelas bukan pengikut mazhab tersebut. Saya adalah orang yang percaya bahwa mereka yang terdidik harus bisa memerdekakan dirinya.

Dua orang yang paling besar mempengaruhi saya mungkin adalah Paulo Freire dan Ivan Illich dengan dua buku babonnya masing-masing. Pedagogi Masyarakat Tertindas dan Tidak Bersekolah.

Keduanya punya andil bagi saya untuk memandang pendidikan sebagai suatu alat pembiayaan. Semangat yang sama dengan Ki Hajar Dewantara, yang juga menjadikan Taman Siswa sebagai alat pembebasan dari ketertindasan kolonial.

Kemana Kita bergerak

Bagi Indonesia yang pendidikannya tidak ke sini atau pun ke sana, saya tidak merasa punya ruang untuk bisa mengimplementasi ide itu.

Ide-ide saya tidak mungkin diterapkan dalam pendidikan formal Indonesia. Oleh karena itu, mungkin Wadah yang baru ini juga adalah alat saya untuk melaksanakan ide-ide itu.

Baca Juga :  Pelaku Penganiayaan Karyawati Alfamidi di Luwu Utara Ditangkap di Wajo, Polisi Ungkap Kronologi Lengkap

Jika seseorang gagal menemukan dirinya, maka pendidikan telah gagal menyentuhnya.

Dalam beberapa waktu ke belakang saya juga bertemu dengan Henry Giroux . Beberapa pemikirannya yang radikal itu sempat membuat saya berpikir bahwa pendekar pendidikan itu masih banyak hadir.

Meski saya tidak selalu selaras dengan ide-idenya karena Giroux selalu terdengar seperti orang yang marah-marah di tulisannya. Saya merasa terhibur membaca Guru sebagai Intelektual miliknya.

Jika setiap orang yang mendidik adalah orang yang benar-benar terdidik, maka banyak hal yang bisa berubah pada manusia kita.

Tidak harus sampai mengalami pencerahan diri, setidaknya mempertahankan nalar agar tetap bekerja mulai dari buruh, borjuis kecil, dan pejabat, maka kehidupan akan berjalan lebih baik.

Namun, begitulah, kita tidak bertanggung jawab biasanya. Ingin menghapus jurusan yang tidak sesuai industri sambil tidak punya industrinya. Itu contoh cara berpikir yang tidak utuh.

Kalau ingin menjadikan manusia yang bisa menguasai STEM, langkahnya adalah memperkuat STEM, bukan menghapus soshum. Apa logika itu tidak bisa diperhatikan?

Mari berhenti berharap, saya sudah selesai berharap. Oleh karena itu biarlah saya tetap berada di jalur alternatif yang saya aspal sendiri.

Saya kira cukup Pustaka Sabtu hari ini. Selamat hari buruh, selamat hari pendidikan, selamat berhari Minggu.

Penulis : aspi

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Demi Turnamen Aman dan Lancar, Kapolsek Bontocani Kawal Langsung Pertandingan Sepak Bola
Bupati Bone Sambangi Perkemahan Pramuka Ponre, Tekankan Pentingnya Disiplin dan Kemandirian
Fun Bike NBOD di Makassar Meriah, TNI-Polri dan Masyarakat Perkuat Sinergitas
Wabup Andi Akmal Buka Lomba Senam Kreasi, 20 OPD Bone Tampil Penuh Semangat
Usai Kecelakaan Maut, Satlantas Bone Bergerak Cepat Pastikan Keluarga Korban Terima Santunan
Dorong Ketahanan Pangan dari Pekarangan, Mahasiswa KKN-T 116 Kenalkan Budikdamber di Bulucenrana
Melayat ke Rumah Duka Balita Korban Kecelakaan, Bupati Bone Sampaikan Duka Cita dan Beri Bantuan
Diduga Salah Sasaran, Bocah 8 Tahun Dianiaya Pria Dewasa Saat Hendak Mengaji di Bone
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:29 WITA

Demi Turnamen Aman dan Lancar, Kapolsek Bontocani Kawal Langsung Pertandingan Sepak Bola

Senin, 10 Agustus 2026 - 18:21 WITA

Bupati Bone Sambangi Perkemahan Pramuka Ponre, Tekankan Pentingnya Disiplin dan Kemandirian

Minggu, 9 Agustus 2026 - 18:14 WITA

Fun Bike NBOD di Makassar Meriah, TNI-Polri dan Masyarakat Perkuat Sinergitas

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 23:52 WITA

Wabup Andi Akmal Buka Lomba Senam Kreasi, 20 OPD Bone Tampil Penuh Semangat

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 23:50 WITA

Usai Kecelakaan Maut, Satlantas Bone Bergerak Cepat Pastikan Keluarga Korban Terima Santunan

Berita Terbaru